Jumat, 04 Juni 2010

80. Intimidasi Danamon Salah Alamat
Suatu hari saya menerima telepon dari kantor pusat Bank Danamon bagian kartu yang mencari seseorang nama Ibu Syafmida. Karena merasa tidak mengenal orang tersebut, saya menanyakan alamat yang dituju yang ternyata salah alamat.
Seharusnya Bank Danamon dapat lebih teliti mengecek keabsahan orang yang akan diintimidasi karena saya tidak pernah memberikan nomor telepon sebagai referensi mereka sendiri tidak mengetahui dari mana sumbernya Operator Bank Danamon terus memaksa dan melecehkan saya dengan kata-kata yang mengintimidasi.
Kejadian ini pun terus berulang dengan orang-orang yang berbeda dengan nada yang mengancam. Bahkan ketika saya mengatakan sedang menghadiri rapat penting, mereka tetap menelepon hingga berpuluh-puluh kali, yang tidak saya angkat. Kemudian mereka menelepon ke rumah saya dan mengintimidasi karyawan serta orangtua saya. Saya merasa dilecehkan dan tersiksa batin karena setiap kali harus bertengkar dengan operator itu.
Nama dan reputasi kerja saya pun hancur karena kejadian ini diketahui oleh rekan bisnis dan karyawan saya yang mengira saya tidak mampu membayar utang bank.
Padahal saya tidak pernah mengenal nama tersebut. Saya Juga tidak memiliki kartu kredit Bank Danamon dan tidak pernah menerima konfirmasi dari salah satu cabang Bank Danamon. Mereka juga menga­takan bahwa hal seperti ini sudah sering terjadi kepada nasabahnya, tetapi seperti tidak ada kesan dari Bank Danamon untuk mengatasi masalah ini.

L. W
Jakarta

81. Pelunasan di ABN Bermasalah
Pada Juli 2004 saya mendapatkan pinjaman sebesar Rp 7.000.000 dari ABN AMRO. Bulan April 2005 saya melakukan pe­lunasan di ABN AMRO Pondok Indah, Jakarta. Sebelum datang, saya telepon terlebih dahulu dan ternyata harus melunasi sekitar Rp 6.400.000. Kemudian saya mentransfer sebagian melalui Bank Niaga dan selebihnya saya bayar tunai di tempat. Saya diberikan surat pelunasan.
Kemudian pada Juni 2006 sa­ya mendapatkan pinjaman yang kedua sebesar Rp 6.600.000 dengan jangka waktu selama 36 bulan. Bulan Desember 2006 sa­ya tiba-tiba mendapat telepon berikut surat teguran bahwa saya masih mempunyai sisa tunggakan sebesar Rp 246.000 pada pin­jaman pertama. Pada Mei 2007 saya melunasi pinjaman yang ke­dua ABN AMRO Juanda, Jakarta, sambil mengklarifikasi masalah pinjaman saya yang per­tama.
Tunggakan pinjaman pertama itu sekarang ternyata sudah menjadi sekitar Rp 1.700.000 dari Rp 246.000. Sudah saya jelaskan kepada petugas dari A sampai Z tentang masalah yang saya hadapi.
Kemudian saya diberikan print out record pinjaman pertama saya dan dia mengatakan bahwa hal tersebut adalah kesalahan pegawai Bank ABN AMRO di Pondok Indah, Jakarta, yang pada saat pelunasan tidak menutup transaksi saya.
Pada tanggal 31 Mei 2007 saya datang ke ABN AMRO Pondok Indah, Jakarta. Saya bertemu pe­tugas customer service Saudari Brenda dan kembali saya ceritakan masalah itu. Yang bersangkutan mengatakan bahwa itu adalah kesalahan pegawai di sini. Saya ditanya apakah saya ingat orangnya. Saya jelaskan sudah tidak ingat karena hal itu terjadi tahun 2005.
Kemudian saya diberikan surat penutupan rekening (pay off) dan dia pesan, apabila ada orang da­tang, tunjukkan saja surat itu. Saya berpikir sudah selesai.
Namun, sebulan kemudian ada utusan dari ABN AMRO datang ke kantor saya dan saya pun menunjukkan surat dari ABN AMRO. Anehnya, sebulan kemu­dian datang lagi petugas dari ABN AMRO ke rumah saya. (Saudara Frans) dan kembali saya tunjukan surat dimaksud. Dan lebih aneh lagi kembali datang orang ke rumah (Bapak Sukendi).
Bagaimana sistem administrasi di bank sebesar ABN AMRO? Pegawainya yang salah, saya yang terkena imbasnya.

HR.
Sawangan, Depok

82. Bank Niaga Digunakan "Travel”
Saya nasabah Bank Niaga (nomor customer. 7497394) telah menerima pembuatan kartu kredit Mastercard pada 31 Juli 2007. Hampir tiga minggu sebelumnya dikonfirmasi bahwa saya mendapat tawaran kartu kredit dengan iuran gratis selamanya dan tentunya selama saya menjadi nasabah Bank Niaga. Saya pun menyetujuinya.
Pada 1 Agustus 2007 sekitar pukul 09.00 WIB saya mulai melakukan aktivasi untuk mengaktifkan kartu kredit. Selang beberapa saat, sekitar pukul 10.00, saya ditelepon oleh Nirmala Travel (PT Cakrawala Citra Gemilang) beralamat di jalan Dr Susilo III, Grogol, Jakarta Barat.
Si penelepon memberi tahu sedang melakukan promosi untuk pemegang kartu kredit dan nama serta nomor telepon saya termasuk dalam 50 penerima kartu kredit yang diajukan. Lalu si penelepon mulai menawarkan produknya beserta fasilitas yang akan saya, dapatkan, yaitu berupa tiga voucher menginap di hotel yang katanya hotel bintang 4, satu tiket pesawat terbang yang paling jauh menuju Surabaya, dan satu kartu diskon keanggotaan untuk digunakan menuju tempat tiga rekreasi yang termasuk merchant partisipan.
Sebagai orang awam yang baru membuat kartu kredit, saya kurang paham ketika pihak Nirmala Travel mempromosikan produknya dan menanyakan limit dan nomor kartu kredit saya yang terdiri dari 16 digit berikut data diri saya. Lalu saya memberi tahu begitu saja tanpa curiga karena mengira dia hanya mengecek data-data saya yang ada di bank Pada waktu berbicara dengan pihak travel, saya berbicara dengan tiga orang yang mengaku marketing dari travel tersebut. Dengan trik yang bisa memengaruhi orang, tanpa sadar saya menyetujui membeli paket tersebut.
Beberapa saat kemudian saya sadar, dan berniat membatalkan paket itu, tetapi pihak travel mengatakan nama saya sudah online dan kurir sudah menuju rumah saya. Apabila membatalkan pesanan paket itu, saya akan dikenai biaya sebesar 60 persen dari harga paket Rp 1.999.000, padahal sebelumnya tidak diberitahukan mengenai biaya pembatalan itu ditelepon.
Semua transaksi yang saya lakukan hanya melalui telepon dan dengan pemaksaan tersebut saya seperti terpojok. Sekitar pukul 13.00 kurir dating dan saya langsung tandatangani paket tersebut tanpa berpikir panjang.

A. R
Pamulang, Tangerang.
83. Kartu Kredit Ditolak di Giant
Saya pelanggan Giant Margo City Depok. Pada saat melakukan transaksi pembayaran, diluar dugaan kartu kredit saya tidak bisa digunakan. Kemudian dicoba kartu kredit yang lain, tetapi tetap tidak bisa.
Saya tawarkan ATM Bersama tetapi, kata kasir, tidak bisa digunakan. Malangnya lagi uang tunai di saku saya. ada separuh dari total barang belanja. Kami sungguh malu saat itu karena semua mata seolah memandang saya sekeluarga.
Akhirnya setelah bicara dengan kasir, suami saya minta izin mengambil uang di ATM, yang letaknya tidak jauh. Saya dan anak-anak menunggu di depan kasir dan akhirnya sekitar lima menit kemudian suami kembali dengan memba uang tunai. Namun, kekecewaan saya bertambah karena barang belanjaan yang telah hitung dibatalkan secara pihak oleh kasir tanpa diberitahukan kepada saya
Setelah saya sodorkan untuk pembayaran barang-barang belanjaan, kasir menyatakan akan menghitungnya kembali karena transaksi sebelumnya telah dibatalkan. Saya tidak habis pikir. Bukankah setruk belanjanya masih ada? Padahal suami saya telah minta izin mau mengambil uang, sementara saya dan anak-anak menunggu di situ.
Apabila memang peraturannya demikian, mengapa tidak dijelaskan kepada saya sejak awal sehingga kami tidak menunggu dan suami tidak perlu berlari mengambil uang tunai. Akhirnya, dengan marah dan kecewa, saya membatalkan transaksi belanja.
Saya sangat kecewa dengan Giant yang tidak menghargai waktu konsumen saat mengantre bertransaksi, tidak menghargai suami saya yang berlarian mengambil uang tunai, serta tidak mau tahu beban psikologi saya dan keluarga di depan orang banyak.
Setelah itu saya melanjutkan. belanja di tempat lain dengan memakai kartu yang sama. Anehnya kartu kredit yang sebelumnya ditolak di Giant ternyata tidak ada masalah sama sekali, padahal nominal belanja hampir sama besar.

L.W
Depok
84. HSBC Salah Gunakan Data
Pada Juli 2005 saya mengisi data diri untuk aplikasi baru kartu kredit HSBC di Mangga Dua Square, Jakarta. Setelah itu tidak ada kabar dari HSBC mengenai status aplikasi saya, tidak pernah ada telepon konfirmasi atau apa pun sehubungan dengan kartu kredit tersebut, fisik kartu kredit, ataupun tagihan tidak pernah saya terima.
Pada November 2005 saya ditelepon oleh pihak HSBC yang mengatakan bahwa saya mempunyai tunggakan sekitar Rp 45.000.000 dari kartu kredit yang mengatasnamakan nama saya. Pada waktu itu saya jelaskan kepada penelepon dan juga kepada Call Center HSBC bah­wa saya tidak pernah menerima fisik kartu kredit dan tagihan dari HSBC. Setelah itu pihak HSBC tidak pernah menghubungi saya kembali dan saya beranggapan masalah tersebut sudah diselesaikan oleh pihak HSBC
Pada tahun 2006 dan 2007 saya mengajukan kartu kredit Citibank dan Mandiri, tetapi keduanya ditolak dengan alasan yang tidak jelas bagi saya. Padahal saya memiliki rekening di sana dengan dana yang mencukupi. Beberapa kali pada Agustus 2007 saya kembali ditelepon oleh Bapak Feri (nama on air, tetapi nama sebenarnya Bapak Pras) dari debt collection, HSBC mengenai tagihan tunggakan kartu kredit tersebut yang jumlahnya sudah mencapai sekitar Rp 52.000.000. Saya kembali menjelaskan kronologi kejadian kepada Bapak Feri, tetapi dia tidak dapat menerima penjelasan dari saya dan neminta saya untuk datang ke Menara Mulia, Jakarta, lantai 21 untuk menemui yang bersangkutan.
Pada 21 Agustus 2007 saya mengetahui bahwa nama saya tercantum di Daftar Bank Indonesia Checking dengan status macet HSBC Ini penyebab pengajuan kartu kredit saya di Citibank dan Bank Mandiri ditolak di WTC Sudirman, Jakarta, untuk menyampaikan keluhan yang diterima oleh Ibu Wahyuning Tyas. Ternyata data saya yang tercantum di kartu kredit telah disalahgunakan, kecuali alamat tagihan yang dialamatkan ke sebuah ruang pamer di daerah Tebet, Jakarta.

E. D
Pademangan, Jakarta

85. Kartu BCA Mudah Kebobolan
Saya pemegang kartu kredit BCA Master Card (nomor 5413 2200 2498 56xx) dan BCA Card (nomor 1002 6004 2914 87xx) merasa dirugikan atas kebobolan kartu kredit BCA Pada 8 Januari 2007 saya menerima tagihan kar­tu kredit sebesar Rp 4.795.466.dengan kartu BCA Card (nomor 1002 6004 2914 8730)
Hari itu juga saya membuat surat pernyataan keberatan karena saya tidak mempunyai kartu dengan nomor tersebut dan tidak pernah mengaktifkan kartu kre­dit saya, termasuk yang sudah saya terima.
Tanggal 16 Maret 2007 tabungan BCA saya didebet Rp 5.383.437 karena tagihan tersebut. Pada 20 Maret 2007 saya datang ke Wisma BCA, Jakarta, dan mendapat penjelasan bahwa kartu kredit saya ada lima. Pada waktu itu saya kaget karena saya cuma mene­rima dua kartu.
Setelah diselesaikan pada 4 Ap­ril 2007 tabungan Tahapan BCA saya dikreditkan kembali. Namun, pada 4 Mei 2007 tabungan Tahapan BCA saya didebet kembali Rp3.700.00.
Pada 14 Mei 2007 saya datang kembali ke Wisma BCA dan bertemu dengan Bapak Gatot Purnama untuk minta penjelasan. Ternyata tanda terima kartu tersebut diterima orang lain. Apakah bisa begitu? Padahal menurut petugas Hallo BCA, tanda terima harus diterima oleh orang bersangkutan, dan kalau tidak ada surat kuasa. Yang benar yang mana?
Saya bingung karena dari pihak BCA terdekat dan beberapa cabang BCA lain tidak dapat membantu. Bahkan pihak BCA Center pun menyatakan bahwa saya berada pada pihak yang salah.
Sudah beberapa kali saya membuat surat keberatan, tetapi sampai sekarang belum ada tanggapan dari pihak BCA. Saya mohon masalah ini dapat diselesaikan segera guna menghindari petugas debt collector dari BCA Card. Ternyata kartu kredit yang diterbitkan oleh BCA mudah kebobolan.

DR.
Harapan Jaya, Bekasi

86. Tidak Ada Niat Baik dari BII
Saya pemegang kartu Kredit Mastercard (5452 9800 8163 ex sejak 2004) dan Visa (4423 7302 0988 80xx sejak 2005). Pada awalnya semua lancar dan saya membayar tagihan tepat waktu.
Namun, keanehan terjadi sejak saya tidak menerima surat billing statement Mei 2007. Ketika saya konfirmasi ke Customer Care BII, petugas menjelaskan bahwa ala­mat penagihan telah diubah atas permintaan saya, yaitu ke CV.Anugrah Jaya di Perum Banjar Wijaya Blok A No 20, Tangerang. Padahal, saya tidak pernah mengajukan perubahan alamat pena­gihan. Kemudian petugas menjanjikan akan mengubah kembali ke alamat semula. Pada Juni 2007 billing statement tidak saya te­rima. Petugas customer care men­jelaskan bahwa alamat masih be­lum berubah.
Saya terkejut ketika tagihan bertambah besar. Ternyata pada 27 Mei 2007 terjadi transaksi untuk pembelian tiket AirAsia secara online sebesar Rp684.300 (Mastercard) dan Rp 970.300 (Visa). Padahal saya tidak pernah melakukan transaksi tersebut.
Saya komplain dan mengajukan keberatan atas dua transaksi tersebut. Saya baru sadar keganjilan ini muncul sejak alamat penagihan berubah. Padahal per­ubahan apa pun tentang kartu kredit pasti selalu dikonfirmasi terlebih dahulu mengenai data-data pribadi pemegang kartu. Pihak BII berjanji akan menyelidiki kasus ini. Namun, sampai ini belum ada pihak BII yang menelepon saya untuk perkembangan kasus ini. Selalu saya yang aktif menelepon customer service.
Belum ada niat baik BII untuk menyelesaikan kasus saya. Surat billing statement sampai saat ini tidak saya terima. Malah saya melalui telepon seluler petugas debt collector yang memaksa untuk membayar tagihan. Jika saya berniat jahat, saya pasti sudah mengganti nomor ponsel dan lari dari tanggung jawab sebagai pemegang kartu kredit.
Pemilik kartu kredit BII hendaknya waspada. Atau memang keamanan kartu BII yang amburadul.

T. N
Jaka Mulya, Bekasi



87. Data Pribadi di Bank Danamon
Pertengahan Mei 2007 orang tua saya mendapat telepon dari bagian collection kartu kredit Bank Danamon yang menyatakan bahwa saya telah menunggak pembayaran kartu kredit sebesar Rp 10 juta. Betapa herannya saya, padahal saya tidak pernah mengajukan permintaan kartu kredit Bank Danamon.
Data yang disebutkan oleh petugas collection memang data pribadi saya. Namun, ada dua data yang berbeda, yaitu tempat saya bekerja yang pada data itu tertera saya bekerja di Standard Chartered Bank padahal bukan, dan nomor telepon saya.
Setelah diberi tahu nomor telepon saya oleh orangtua saya, pihak collection Bank Danamon menelepon saya pada 16 Juni 2007. Saya telah menjelaskan bahwa saya tidak pernah mengajukan atau bahkan memiliki kartu kredit Bank Danamon.
Tanggal 28 Juni 2007 saya ditelepon kembali oleh Ibu Diana dari bagian collection kartu kredit Bank Danamon. Kemudian. pe­tugas itu menyuruh saya menelepon ke customer service kartu kredit Bank Danamon. Saya menelepon ke custome service dan diterima Bapak Upi. Saya menjelaskan kepada Bapak Upi bahwa saya tidak pernah memiliki dan menggunakan kartu kredit Bank Danamon, tetapi petugas customer service tersebut tidak bisa menerima. Bahkan dia mengatakan bahwa kartu kredit dimaksud telah diterima oleh sa­ya sendiri.
Kemudian saya meminta bukti tanda terima kartu kredit, dan ia menjanjikan akan mengirim lewat faksimile ke kantor saya. Na­mun, sampai saat ini saya belum menerima faksimile bukti tanda terima tersebut.
Yang lebih menjengkelkan ialah keterangan Bapak Upi yang seolah-olah menuduh bahwa saya telah menerima kartu kredit ter­sebut. la pun mengancam saya apabila tidak membayar, mereka akan mengirim petugas debt col­lector Bank Danamon. Pada 4 September 2007 saya ditelpon kembali oleh Ibu Lily bagian collection Bank Danamon dan menanyakan tentang pembayaran.

H. W
Kalideres, Jakarta
88. Pembayaran Kartu Kredit Citibank
Saya nasabah Citibank dan sudah sekitar 12 tahun menggunakan Citibank. Pada Agustus 2007 saya dikagetkan dengan adanya lonjakan tagihan sebesar Rp 12 juta, padahal setiap bulan saya selalu membayar Rp 5,5 juta rutin sesuai pemakaian. Saya membayar tagihan lewat bank-bank yang online dengan Citibank.
Menurut informasi dari Citiphone Officer, itu adalah kesalahan pihak bank yang mengotorisasi pembayaran saya dua kali dan hal ini terjadi selama satu tahun lalu. Akan tetapi, masalah itu baru diangkat Agustus 2007 dan menjadi tanggungan saya. Hal itu ti­dak masuk akal karena pada kurun waktu itu saya jarang menerima billing statement dan hanya mengetahui pemakaian jika saya menghubungi Citibank lewat telepon.
Saya mencoba menyelesaikan masalah ini, tetapi hingga saat ini CitiBank hanya menjanjikan akan menghubungi saya. Sebaliknya, Citibank Officer yang menerima komplain saya juga tidak bisa membantu. Saya pernah minta dihubungkan ke petugas Citibank yang paling berpengaruh terhadap masalah ini dengan harapan bisa diselesaikan secepatnya Namun, saya tidak per­nah disambungkan sehingga komplain saya hanya ditangani oleh antar-Citibank Officer.
Bagaimana ini Citibank? Sebagai nasabah lama saya kecewa dengan pelayanan yang diberikan. Bukankah kalau ada pengeluaran yang melebihi limit seharusnya tidak diotorisasi oleh Citibank?

P. R. V
Jakarta Setatan

89. Panin Life Lewat Citibank
Pada tagihan kartu kredit Citibank Juni 2007 terdapat pembayaran untuk program “20 year in safe” sebesar Rp. 1.500.000 dari Panin Life. Setelah melunasi terlebih dahulu karena takut dikenakan denda, 12 Juli 2007 saya menghubungi Panin Life untuk meminta bukti penerimaan uang saya.
Awal Agustus 2007 saya menerima salinan polis, setelah dipelajari ada beberapa poin yang tidak saya setujui isinya. Saya bermaksud membatalkan polis dan meminta kembali uang saya (sesuai Pasal 2 poin 4. Dalam hal pemegang polis tidak menyetujui isi polis, polis dapat dikembalikan dalam waktu 14 hari sejak diterima dan menerima pengembalian premi sebesar nilai investasi yang terbentuk). Tanggal 10 Agustus 2007 saya mengembalikan polis disertai e-mail yang ditujukan ke panin life.
Keluhan saya ditanggapi, oleh Saudari Berli dengan mengatakan bahwa uang tidak dapat dikembalikan lagi, tetapi, polis akan dibatalkan sejak bulan Oktober 2007 karena program telah dimulai sejak April 2007. Juga dijelaskan bahwa saya telah menerima polis asli tanggal 21 April 2007 dengan lembar pengantar polis ditandatangani oleh Lily. Namun, saya tidak pemah menandatangani apapun.
Pada lembaran penerimaan via faksimile terlihat tanda tangan saya telah dipalsukan, bentuknya sama sekali berbeda dari paraf ataupun tanda tangan saya selama ini. Saya diminta langsung mengirimkan fotokopi KTP via faksimile, tapi hasilnya saya hanya dapat menerima pengembalian sebesar Rp 300.000 dari Rp. 1.500.000 setelah dipotong premi untuk bulan berjalan. Namun, itu tetap saya tolak. Panin Life seharusnya mengembalikan uang saya karena potongan itu sepihak.

I. L
Pekanbaru, Riau

90. Transaksi Aneh di Kartu Danamon
Sebagai nasabah kartu kredit selama hampir 17 tahun, yang dimulai dari Bank Duta pada, tahun 1990, lewat Kartu Kredit IPB sebelum dialihkan ke Bank Danamon, saya tidak pernah bermasalah dengan layanan Danamon Access/Card Centre. Sayangnya reputasi pelayanan ini harus rusak sejak Juli 2007 oleh "tikus" yang bersarang di Danamon Access/Card Centre.
Tanpa permintaan dan persetujuan saya, "sang tikus" membebankan pembayaran Telkom dalam lembar tagihan kartu kredit. Tidak seperti biasa, upaya untuk menghentikan transaksi aneh tersebut lewat telepon dan faksimile berlangsung ngeyel dan merugikan sehingga saya tetap harus membayar untuk Juni dan Juli 2007.
Akhirnya baru pada lembar tagihan September 2007 transaksi tersebut tidak lagi dicantumkan. Beres? Belum. Mirip sinetron opera sabun, bukannya mengembalikan uang akibat kerugian itu, saya malah dipaksa tetap harus membayar tagihan Telkom Agustus 2007 ditambah penalti keterlambatan.
Rupanya "sang tikus" membuat skenario baru untuk memperpanjang kerugian nasabah secara berkelanjutan. Mengingat ini sangat merusak reputasi Bank Danamon dan merugikan nasabah, mohon perhatian pihak manajemen untuk menyelesaikan masalah ini Termasuk menelusuri aliran dana fiktif ke pihak Telkom dan hotline alternatif jika na­sabah bermasalah dengan Da­namon AccessCard Centre.

M A R
Baranangsiang, Bogor

91. Daftar Hitam Bank Permata
Pada 18 Juli 2004 kartu kredit Visa Bank Permata saya hilang. Kemudian saya membuat surat laporan kehilangan di Polres Semarang Timur pada 19 Juli dan dikirim ke Bank Permata Pusat yang berdomisili di Jakarta disusul dengan permohon pemblokiran lewat telepon. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pada waktu itu saya berpikir masalah telah selesai. Namun, selang beberapa bulan saya mendapat tagihan, padahal kartu kre­dit yang telah hilang tersebut belum pernah saya gunakan un­tuk transaksi.
Bank Permata Jakarta tidak menanggapi surat pemberitahuan tentang laporan kehilangan kartu dari polisi yang saya kirim. Hal ini terbukti dengan adanya tagihan lewat PT Goti Wai Sarut yang mendapat kuasa dari Bank Permata yang petugasnya datang kantor saya dengan cara tidak sopan.
Waktu saya ada kepentingan bisnis di sebuah bank, ketika itu diberi tahu bahwa nama saya telah masuk daftar hitam (black list) Bank Indonesia. Saya merasa diperlakukan tidak adil oleh Bank Permata. Akhirnya hal ini saya konfirmasikan kepada pihak Bank Inlonesia Semarang. Ternyata Bank Indonesia membenarkan bahwa nama saya sudah dimasukkan dalam daftar hitam Bank Indonesia atas dasar pemberitahuan dari Bank Permata. Bank Indonesia Semarang menyarankan untuk menyelesaikan masalah ini dengan Bank Permata.

S. L
Pendrikan Kidul Semarang

92. Penagih SCB Bersikap Kasar
Saya merasa tidak nyaman atas penagihan yang dilakukan Standard Charterd Bank (SCB) yang membuat orang tua saya shock. Saya sudah datang ke gedung Graha Pratama sebagai pihak ketiga dari Standard Chartered Bank untuk mencari solusi atas masalah utang kredit tanpa agunan (KTA) dan kartu kredit saya. Saya ditemui oleh saudara Roland. Karena dia bukan yang menangani saya tidak ada kesepakatan solusi. Pada 16 Juli 2007 saya datang kembali untuk mendapatkan solusi dalam menyelesaikan utang saya. Menurut informasi dari petugas yang menghubungi lewat telepon, saya hanya diperbolehkan membayar 7,7 juta untuk sekali bayar. Namun saya tidak mampu membayar dan mohon dapat mencicil. Pada waktu itu saya mohon untuk membayar dengan cara mencicil sebanyak enam kali. Namun, yang saya dapatkan adalah caci maki dari petugas yang mengaku bernama Rio. la mengancam akan berteriak-teriak serta mempermalukan saya, padahal saya punya itikad baik untuk datang dengan maksud mendapat solusi. Saya rasa tidak perlu bersikap kasar untuk menagih.
Pada 1 September 2007 penagih datang kembali, tetapi tidak ada orang di rumah, dan hanya menitipkan surat. Surat itu berisi, "Jika tidak ada respons, dia akan bertindak arogan". Untuk bank sekelas Standard Chartered, petugas debt collectornya terlalu kasar. Seolah-olah dia bisa berbuat apa saja kepada saya dan keluarga, yang penting keinginannya tercapai.
Pada tanggal 12 September 2007 petugas debt collector datang kembali dengan mengintimidasi ibu saya yang tahu apa-apa. Akibatnya, ibu shock.
Tanggal 18 September 2007 petugas debt collector datang lagi menerobos masuk rumah saya ketika ibu saya tidak ada. Di rumah hanya ada adik saya dan istrinya yang sedang hamil. Salah seorang debt collector itu berinisial BS. Apakah cara seperti ini yang dilakukan pihak Standard Chartered Bank?

S. Y
Pulo Gebang, Cakung, Jakarta

93. Dipermalukan oleh HSBC
Pada 6 September 2007 bersama dengan country director, ekspatriat, dan sepuluh teman kerja, saya makan siang di restoran Imperial Treasure, Kota BNI, Sudirman, Jakarta. Kebetulan di situ sedang ada promo diskon 50 persen bila membayar dengan kartu kredit HSBC. Ka­rena di antara mereka hanya saya yang memiliki visa gold, saya menawarkan diri untuk membayarnya terlebih dahulu.
Setelah menunggu cukup lama untuk melakukan pembayaran, petugas restoran datang kembali dengan mengatakan bahwa kartu ditolak karena tidak dikenal. Kemudian dia meminjamkan tele­pon di situ agar saya dapat langsung menanyakan penyebabnya kepada HSBC. Petugas customer service yang menjawab telepon saya mengatakan bahwa kartu HSBC saya tidak dapat digunakan untuk sementara karena belum membayar tagihan.
Sudah saya tegaskan bahwa sa­ya sudah membayar lunas ta­gihan tepat pada tanggal pem­bayaran sesuai dengan yang tertera di formulir tagihan HSBC melalui ATM Bank Mandiri.
Tagihan HSBC yang dipermasalahkan itu sekitar Rp 300.000, sedangkan batas pemakaian kartu sebesar Rp 11 juta. Selama tujuh tahun saya menggunakan kartu kredit dari dua bank lain, bank asing dan bank lokal, baru kali ini saya dipermalukan.
HSBC telah mempermalukan saya di depan atasan dan teman-teman saya dengan kejadian yang sama sekali aneh dan tidak masuk akal.
Sungguh menyesal telah tergoda promo diskon besar dan mempertaruhkan harga diri ka­rena dipermalukan.

B. S
Jakarta Barat

94. Tertipu Penagih ABN Amro
Saya pemegang kartu Kredit ABN Amro (Nomor 5256 4411 7810 56xx) mengalami masalah keuangan dan terpaksa terlambat membayar tagihan selama beberapa bulan pada awal tahun 2007. Pertengahan Mei 2007 saya didatangi petugas penagih dari ABN Amro (Saudara Imam Suhati) yang menawarkan diskon 30 persen dari pokok kredit yang dipakai sekitar Rp 5 juta atau mencicil total tagihan termasuk bunga sebesar Rp 7,8 juta dan tidak dapat diskon.
Lalu saya menjelaskan keadaan saya dan menyatakan mungkin hanya sanggup mem­bayar Rp 3 juta untuk melunasi dan itu pun harus meminjam dari orang lain. Petugas pena­gih itu lalu menyanggupi permintaan saya, dan saya disuruh membuat surat permohonan kesanggupan bayar sebesar Rp 3 juta dan menyiapkan dokumen yang diperlukan. Saya juga dihubungi oleh Lisa dari collec­tion ABN Amro yang mengonfirmasi hal itu dan menyuruh saya menyiapkan uangnya.
Tanggal 25 Mei 2007 Saudara Imam datang mengambil uangnya dan berjanji akan mengantarkan surat keterangan lunas dari bank dalam waktu satu minggu. Juga dinyatakan bahwa masalah saya sudah selesai. Sekitar satu minggu ti­dak ada kabar, saya telepon Saudara Imam dan dia mengatakan bahwa surat lunas belum keluar dari bank Saya terus menghubungi, tapi ia tidak pernah lagi mengangkat telepon ataupun membalas SMS dari saya. Saya juga mencoba meng­hubungi Saudari Lisa di kantornya melalui nomor 0213820886 ekstension 5712, ternyata dia juga sulit dihubungi.
Saya dikirimi surat yang menjelaskan, permohonan ke­sanggupan bayar Rp 3 juta ditolak. Saya kaget, marah, dan menyadari bahwa saya telah ditipu oleh oknum ABN Amro serta ditipu dan dijebak oleh bagian collection ABN Amro. Dengan susah payah mendapatkan uang Rp 3 juta dengan meminjam dari orang lain dan berharap uang sudah diterima oleh bank, tapi ternyata saya tidak mendapatkan surat lunas dari bank seperti yang dijanjikan.

HD.
Jakarta Pusat

95. Layanan Kartu Kredit BII Buruk
Saya pemegang kartu kredit Bank Internasional Indonesia (BII) Master Card (nomor 5200 37010747 xxxx). Pada akhir Agustus 2007 saya ditelepon oleh petugas customer service BII (Saudara Rully) yang menawarkan BII X Cash sebesar Rp 4,6 juta. Sebelum menerima, saya bertanya apakah BII X Cash dapat dilunasi lebih awal, dan petugas itu menjawab bisa.
Pada pertengahan September 2007 saya membaca program BII X Pay dengan bunga ringan dan kebetulan pada waktu itu saya berniat membeli AC sebanyak dua unit. Sebelum melakukan transaksi pembelian, saya melakukan pelunasan BII X Cash agar sisa limit saya mencukupi untuk membeli dua AC, dan itu pun setelah saya dengan susah payah menelepon BII (Saudara Audi dan Pingkan) hanya untuk menanyakan berapa total pelu­nasan yang harus saya bayar.
Akhirnya pada 27 September 2007, setelah memastikan pelunasan saya sudah masuk, saya membeli AC sebanyak dua unit seharga Rp 6,5 juta dengan harapan bahwa transaksi tersebut bisa diubah menjadi BII X Pay sehingga meringankan beban sa­ya. Namun, kenyataannya sangat mengecewakan. Saya menelepon customer service BII untuk konfirmasi transaksi BII X Pay saya tanggal 28 September 2007 (nama petugas customer service tidak jelas), dan petugas menyuruh sa­ya menelepon kembali tanggal 2 Oktober 2007.
Kemudian petugas customer service (Saudara Kirana) menjawab bahwa permohonan BII X Pay saya telah disetujui dengan angsuran selama 18 bulan, tetapi saya disuruh menelepon kembali untuk konfirmasi lagi pada 5 Oktober 2007 (Saudari Irene). Tidak hanya itu, saya pun kembali di­suruh menelepon pada 8 Oktober 2007.
Akhirnya pada 8 Oktober 2007 sekitar pukul 08.00 WIB saat menelepon customer service BII lagi. Sungguh di luar dugaan, petugas menjawab bahwa permo­honan BII X Pay saya tidak dapat disetujui dengan alasan yang ti­dak jelas dan tidak masuk akal. Saya mengira hal tersebut karena saya melakukan pelunasan awal BII X Cash.
Saya merasa sangat dirugikan dan kecewa oleh ketidakprofesionalan pelayanan kartu kredit BII. Andai saya tahu bahwa akan seruwet ini berurusan dengan BII, saya tidak akan menggunakan kartu kredit BII.

U. W
Sukoharjo Jateng

96. Barang "Point Reward" Citibank
Saya pengguna kartu kredit Citibank Visa. Pada akhir Agustus 2007 saya menghubungi Citibank lewat telepon untuk menukarkan poin reward saya dengan barang berupa flight car pick. Barang dimaksud me­mang datang sesuai dengan janji Citibank, yaitu dua minggu setelah saya telepon.
Sangat disayangkan barang yang saya terima terlihat tidak seperti baru (bekas), bahkan kemasannya pun sudah berwarna kekuning-kuningan seperti sudah disimpan cukup lama. Saya mencoba untuk menelepon ke Citibank, dijanjikan akan dicek ke bagian pengiriman barang dan akan diinformasikan kembali. Namun, sampai saat ini saya belum mendapat kabar mengenai hal tersebut.
Memang barang yang saya tukarkan tidak terlalu bernilai, tetapi jika memang barang ti­dak baru tidak layak diberikan, agar tidak dikirim kepada nasabah. Barang tersebut masih tersimpan rapi beserta bukti pengiriman jika Citibank berniat mengambil kembali barang tersebut.

DS.
Jakarta

97. PT KAM Catut Nama SC Bank
Pada 23 Juli 2007 ada seseorang yang menelepon saya bernama Saudara Rhenald, yaitu marketing PT Kencana Anugrah Mandiri (KAM), dan mengatasnamakan Standard Chartered Bank ingin menawarkan fasilitas transfer balan­ce dari SC Bank. Karena tertarik, saya memberikan nomor kartu kredit Kartu Belanja Carrefour (KBC) saya.
Namun, yang bersangkutan malah melakukan pendebetan sebesar Rp 2.450.000. Saya sama sekali tidak mengetahui pendebetan tersebut dan hanya memberikan nomor KBC itu untuk mendapatkan fasilitas transfer balance dari SC Bank Yang bersangkutan ma­lah menjanjikan akan membe­rikan saya suvenir ponsel Motorola seharga Rp 300.000 dan voucher menginap.
Setelah mengetahui hal ter­sebut, saya langsung memblokir KBC tersebut hari itu juga Namun, pihak Carrefour menyatakan bahwa pendebetan tersebut tidak dapat dibatalkan. Saya sudah berbesar hati merelakan uang hilang begitu saja. Namun, saat ingin menggunakan voucher, menginap, yang telah diberikan, ternyata saya tidak dapat menggunakannya karena voucher palsu. Saya sudah mendatangi alamat PT KAM di Jalan Raya Ciputat Ruko Prima Ciputat Blok A, tetapi saya tidak dapat bertemu dengan Saudara Rhenald karena yang bersangkutan hanya berstatus freelance. PT KAM sama sekali tidak bertanggung jawab. Uang yang bagi saya sangat besar tersebut hilang sekejap mata oleh penipuan tersebut.

D. H
Tambora, Jakarta Barat



98. Tawaran HSBC Tidak Profesional
Istri saya adalah pengguna kartu kredit Visa HSBC yang pada pertengahan September dikejutkan dengan datangnya tagihan berupa biaya tahunan atas kartu kredit Mastercard HSBC. Merasa tidak pernah memiliki, mengajukan, atau menerima penawaran kartu kredit Mastercard HSBC istri saya menghubungi phone banking HSBC (diterima Saudari Caca) yang menyatakan bahwa kartu itu langsung dibuat oleh HSBC.
Mengherankan HSBC terbitkan kartu kredit sepihak tanpa penawaran atau konfirmasi terlebih dahulu dan kemudian tanpa menenerima kartunya tiba-tiba datang surat tagihan. Telepon kemudian dialihkan ke Saudara Alex yang menyatakan bahwa kartu tersebut memang langsung dibuat tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Yang bersangkutan menyetujui permohonan istri saya untuk membatalkan kartu serta tagihan yang muncul atas kartu tersebut. Permasalahan dianggap telah selesai.
Pada 3 Oktober 2007 pihak HSBC melalui Saudara Mugi menghubungi istri saya. Bukan membatalkan kartu tersebut Saudara Mugi malah menawarkan untuk mengirim kembali kartu kredit Mastercard HSBC baru dengan fasilitas gratis biaya tahunan. Menurutnya, kartu Mastercard sebelumnya sudah dikirim sejak tahun 2006. Namun, istri saya membatalkan kartu tersebut dan disanggupi oleh Saudara Mugi.
Ternyata permasalahan belum juga tuntas. Tanggal 8 Oktober 2007 datang tagihan Mastercard HSBC atas biaya tahunan ditambah denda Kembali istri saya komplain melalui phone banking HSBC (diterima saudara Gayatri) dan seperti biasa kembali dijanjikan untuk segera menyelesaikan meskipun kembali saya ti­dak yakin sampai kapan. Sungguh merupakan cara pemasaran yang sangat tidak profesional. Bahkan keluhan melalui phone banking HSBC sebelumnya sebanyak tiga kali tidak juga menyelesaikan masalah.

A. E
Pancoran Mas, Depok

99. Penagih GE Ambil Uang Nasabah
Saya pemegang kartu kredit GE Master Card (Nomor: 5439 7280 4150 xxxx). Pada 5 Sep­tember 2007 juru tagih dari GE (Bapak Edward) dengan nomor telepon yang dapat dihubungi 68986315 datang ke kantor saya untuk mengambil uang tagihan sebesar Rp 700.000. Pada 25 Sep­tember 2007 saya mencoba menghubungi customer GE untuk mengetahui apakah uang yang saya bayar sudah masuk?
Ternyata uang yang saya berikan kepada penagih dari GE tidak disetorkan. Pada 26 September 2007 saya datang ke kantor GE. Dengan dibantu Bapak Rio dan Aldo, saya melihat foto data karyawan yang melakukan penagihan kepada saya. Setelah saya tunjuk foto karyawan dimaksud, mereka menjanjikan masalah saya akan segera diproses. Pulang dari kantor GE, petugas debt collector dari GE menghubungi dan me­minta saya melakukan pembayaran tagihan bulan September 2007.
Saya keberatan karena dana yang telah saya setorkan tidak dimasukkan oleh petugas dari pihak GE. Pada 2 Oktober 2007 saya kembali datang ke kantor GE untuk menanyakan kelanjutan uang yang saya setorkan dan bertemu dengan Bapak Aldo kem­bali. Bapak Aldo menjanjikan pa­ling lambat 6 Oktober 2007 uang saya dapat kembali.
Saya membuat kronologi di atas meterai kemudian yang bersangkutan mengatakan bahwa orang dimaksud adalah collector bermasalah karena sudah ada beberapa orang yang mengalami kejadian serupa seperti saya.
Saya tidak habis pikir kalau memang ada karyawan yang ber­masalah, kenapa masih dipakai untuk menagih nasabah? Bagaimana pertanggungjawaban pihak GE?
Untuk tagihan Oktober 2007, petugas dari GE yang lain datang menagih. Namun, uang yang su­dah saya setorkan pada Septem­ber 2007 masih belum ada per­tanggungjawaban dari pihak GE dengan alasan sedang diproses. Mengapa kalau untuk tagihan ti­dak ada kompromi, sedangkan bila konsumen yang dirugikan, pihak GE tutup mata

DN
Jakarta Pusat
100. Kartu Citibank dan Sogo
Pada 28 September 2007 sekitar pukul 12.00 WIB saya menunggu anak kursus di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dan atas informasi salah satu karyawati tempat les tersebut bahwa telah terjadi kecurian sejumlah uang milik salah satu pengajar. Lalu ketika saya mengecek tas, saat itu dompet, kartu pengenal, uang tunai, dan ATM saya tidak hilang. Dan hampir sejam kemudian saya baru menyadari telah kecurian sebuah kartu kredit Citibank Gold Master. Saat itu juga saya langsung menelepon Citibank untuk segera memblokir kartu kredit dimaksud
Belum sempat menjelaskan kepada petugas Citibank, telepon terputus. Kemudian Saya coba lagi dan akhirnya berbicara dengan Citiphone Officer (Saudara Jor­dan) dan minta untuk segera memblokir kartu kredit saya. Namun, yang bersangkutan menga­takan saat itu sekitar pukul 13.10 WIB, saat ini sedang terjadi transaksi sebesar Rp 1.079.000 di Sogo Department Store.
Saya langsung minta untuk pe­tugas itu segera memblokir kartu dimaksud dan juga saya mena­nyakan kepadanya. Namun, petu­gas Citiphone menjawab dengan sangat tidak kooperatif, "Tidak bisa, Bu! Mana saya tahu itu Sogo mana!"
Bukankah seharusnya petugas Citiphone mengetahui lokasi Sogo tersebut, padahal setiap bulan pada billing statement selalu tertera setiap tempat transaksi dilakukan. Tujuan saya menanya­kan lokasi tersebut karena yakin orang tersebut pasti akan melakukan transaksi untuk kedua kalinya serta juga agar saya dapat langsung menelepon ke lokasi tersebut dan meminta agar orang yang berbelanja dengan menggunakan kartu kredit saya dapat dibekuk oleh petugas keamanan setempat.
Dugaan saya akan terjadi tran­saksi untuk kedua kalinya terbukti benar dengan informasi yang saya dapatkan dari salah satu Citiphone Officer lainnya. Saya juga sangat kecewa dengan pihak Sogo, kasir Sogo Plaza Senayan, Jakarta, (Saudari Sri Wuryani). Atas keteledorannya, pencuri itu dengan mudahnya melakukan transaksi dengan kartu kredit saya yang telah dicuri. Selain terlihat jelas perbedaan tanda tangan saya yang ada di kartu kredit dimaksud dengan tandatangan si pencuri, Saudari Sri Wuryani tidak meminta si pen­curi untuk memperlihatkan KTP dan tidak menaruh curiga.

A. K
Tanjung Priok, Jakarta


101. Kartu Diblokir Tagihan Muncul
Sebagai pemegang kartu kredit ANZ (no 4157 3533 4701 50xx) saya amat dirugikan. Kartu kredit saya diblokir pada 2 Juli 2007. Namun, pada 6 Juli terjadi transaksi pendebetan sebesar Rp 1.985.000 oleh sebuah agen perjalanan.
Sejak lama, saya mencurigai adanya berbagai penawaran yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, dan telah melakukan trik-trik yang menjebak. Untuk mengantisipasinya saya memblokir kartu kredit itu. Amat disesalkan, mengapa ANZ melakukan kecerobohan fatal dengan mendebit kartu kredit yang sudah terblokir.
Saya sudah melakukan konsultasi dengan bankbank lain. Mereka mengatakan, dengan alasan apapun, kartu yang telah diblokir tidak dapat didebet. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Bagaimana keselamatan nasabah dilakukan? Amat mengerikan.
Kepada customer service, bagian investigasi, dan penagihan, saya sudah menjelaskan secara lisan ataupun tulisan, bahkan pihak customer service dan bagian investigasi, dan penagihan saya telah menyadari kesalahannya. Saya bukan tidak mau bertanggung jawab. Tetapi, saya tidak akan pernah mau membayar tagihan aneh yang dilimpahkan kepada saya, padahal saya tidak melakukan transaksi.

HW.
Jelambar Baru, Jakarta


102. Citibank dan Bank Panin
Saya pengguna kartu kredit Citibank dan bisa membayar tagihan kartu kredit itu secara tunai melalui Bank Panin Malang, Jawa Timur.
Sejak Maret 2007 kartu Citibank itu saya tutup. Semua ta­gihan dan persyaratan untuk penutupan kartu sudah saya penuhi. Kemudian pada April 2007 Sampai dengan Agustus 2007, sa­ya tidak pernah lagi menerim lembar tagihan.
Namun, pada September 2007, saya menerima lembar tagihan sebesar Rp 400.000. Setelah saya tanyakan kepada customer servicse Citibank, hal itu disebabkan ada kesalahan entry/posting pada Bank Panin yang seharusnya hariya entry pembayaran satu kali Rp 400.000, tetapi dilakukan dua kali entry Rp 400.000 sehingga jumlahnya menjadi Rp. 800.000 Akibatnya, terjadi minus pembayaran sebesar Rp 400.000 yang kemudian dibebankan ke saya.
Kemudian saya cek ke Bank Panin (dengan Bapak Tando). Setelah satu minggu, saya mendapat kabar bahwa kesalahan itu bukan karena Citibank, yang pada September 2006 (lembar tagihan 17 September 2006) terdapat dua kali entry pembayaran sebesar Rp 400.000 via Panin.
Sungguh aneh. Padahal, saya tidak pernah membayar dobel dan saya memiliki bukti setoran di Panin pada bulan itu.
Bagaimana hal itu bisa terjadi. Bagaimana mungkin, konsumen yang tidak tahu apa-apa dibebani tanggung jawab atas kesalahan yang sama sekali tidak diperbuat? Baik Citibank maupun Panin saling melempar kesalahan.
Saya menunggu tanggapan dari pihak Bank Panin dan atau Citibank.

A. S
Malang, Jatim



103. Pembayaran Kartu Kredit Melalui BRI Cirebon
Pada 19 Mei 2007 saya membayar tagihan kartu kredit Bank Danamon sebesar Rp 850.000 menggunakan ATM Britama di ATM Bersama Bank Rakyat Indonesia atau BRI Cabang Cirebon, dengan kode bank 01187777777. Namun saya lupa memasukkan nomor referensi, seperti yang diminta pada menu ATM tersebut. Yang dimaksud nomor referensi adalah nomor yang tertera pada kartu kredit Bank Dana­mon. Karena transaksi berjalan mulus dan tidak ada peringatan apa-apa, saya mengira transaksi selesai atau sukses.
Pada 22 Mei 2007 saya ditelepon pihak Bank Danamon, mengingatkan bahwa saya belum membayar tagihan kartu kredit untuk bulan itu karena jatuh tempo adalah tanggal 20 setiap bulannya. Setelah saya cek, ternyata tabungan saya di BRI telah terdebet sebanyak Rp 850.000. Jadi,kemana uang saya tersebut?
Kemudian pada 24 Mei 2007, saya melaporkan kejadian itu ke Bank Danamon Cabang Cirebon. Setelah saya membuat surat pernyataan yang dikirim ke Jakarta melalui faksimile 0213503985 up Ibu Hotma, saya disuruh menunggu proses pengembalian selama satu bulan. Ternyata, setelah dua bulan uang saya belum juga kembali.
Saya menanyakan lagi dan disarankan agar saya melapor ke BRI tempat ATM yang saya pergunakan berada, yaitu BRI Cabang Cirebon.
Pada ll Juli 2007, saya melapor ke BRI Cabang Cirebon. Saya disuruh menunggu lagi selama satu bulan karena, kata petugas cus­tomer service BRI tersebut, masalahnya antar bank. Jadi, prosesnya agak lama.
Setelah satu bulan, yaitu 10 Agustus 2007, saya mencetak ta­bungan, tetapi ternyata belum masuk. Saya menanyakan lagi ke bagian customer service BRI. Kata petugas, saya harus menunggu dan bersabar karena masalahnya antarbank.
Sampai sekarang permasalahan itu sudah berjalan sekitar empat bulan, tetapi keberadaan uang tersebut belum jelas.Walaupun masih dalam proses, beginikah kinerja bank yang sebenarnya memiliki peralatan canggih, tetapi selalu nasabah yang dirugikan?
Mengapa pada program menu ATM Britama BRl, apabila ada kesalahan nasabah, tidak ada system proteksi atau peringatan yang menyebutkan, misalnya "Anda belum memasukkan nomor refe­rensi; Transaksi gagal,rekeningAnda tidak didebet" dan atau peringatan lain yang lebih sederhana?

E. S
Cirebon

104. Ace Ina dan Kartu Belanja Carrefour
Hati hati jika berhubungan dengan perusahaan kedua lembaga keuangan non bank yang tidak memiliki kompetensi dalam pengelolaan bisnis. Saya salah seorang korban ketidakprofesionalan praktik bisnis ini.
Berawal dari keinginan saya menutup polis nomor IMKIN 0000108 dan IMKIN 0000120 dari Ace Ina Insurance yang dibayar debit lewat Kartu Belanja Carrefour (KBC) yang dikelola oleh GE Finance.
Waktu saya konfirmasi dengan Saudara Deni dari Ace Ina lewat telepon 52998200 pada tanggal 24 Oktober 2007, saya terkejut bahwa sejak April 2005 sudah ada surat pembatalan ikut polis asuransi.
Menurut Saudara Deni lewat percakapan telepon pukul 11.00 di database Ace Ina tidak ada perintah pendebitan polis asuransi tersebut ke KBC GE Finance dan bulan Juni 2005 sudah ada pengembalian dana ke GE Finance.
Yang jadi pertanyaan kenapa sampai ada, auto debet sampai September 2007 berdasarkan ta­gihan KBC GE Finance? Kemudian saya disarankan menelepon ke GE Finance.
Pada hari yang sama pukul 11.15 WIB saya menelepon Cus­tomer Service KBC GE Finance (5716000) dijawab Saudara Awan. la memberikan nomor te­lepon 5299601617 untuk mendapatkan faksimile pembatalan debet polis tersebut. Ternyata no­mor tersebut khusus untuk asu­ransi lain (Asuransi Cigna).
Mengapa sampai saat ini masih ada perusahaan yang menerapkan manajemen pemasaran yang konvensional, yaitu memingpong pelanggan? Padahal pelanggan itu adalah pasar potensial yang harus dipertahankan dan digarap de­ngan prinsip kepuasan pelanggan. Dan mengapa begitu alotnya penutupan polis asuransi terse­but?

B. S
Balekambang, Jakarta Timur

105. Transaksi Meragukan Citibank
Saya pemegang kartu kredit Citibank (Mastercard Citibank Gold) nomor 54018401xxxxxxxx) sejak tahun 1992. Pada lembar penagihan Juni 2007 ada transaksi yang menurut saya bukan transaksi saya.
Hal ini saya laporkan kepada petugas Citibank melalui Citiphone Banking 24 jam (lupa nama petugas). Menurut petugas yang menerima, laporan akan diproses paling lama 45 hari dan saya akan dihubungi oleh pihak Citibank.
Pada 25 Juni 2007 saya menghubungi lagi Citibank dan diterima Bapak Galuh. la mengatakan bahwa pengaduan saya sedang diinvestigasi. Tanggal 4 Juli 2007 saya menghubungi lagi Citibank dan diterima Saudara Elia
Kepada Saudara Elia saya memberitahukan bahwa telah menghubungi Citibank beberapa kali yang sebelumnya diterima Bapak Medi. Saudara Elia memastikan bahwa saya pasti akan segera dihubungi Saudara Medi atau petugas lain.
Karena tidak dihubungi oleh pihak Citibank, saya menghubungi Citibank beberapa kali pada tanggal 16 Juli 2007 dengan Saudara Medi, tanggal 20 Agustus 2007 dengan Saudara Ori dan Saudara Denfer, tanggal 24 Sep­tember 2007 dengan Saudara Dafina, dan terakhir tanggal 19 oktober 2O07 dengan Saudara Lizzi.
Setiap menghubungi Citibank, saya disuruh menunggu untuk menanyakan kepada petugas yang menerima laporan saya sebelumnya dengan waktu yang cukup lama tanpa nada tunggu, sampai-sampai telepon mati terputus atau saya dijanjikan akan segera dihubungi pihak Citi­bank.
Dengan itikad baik, tagihan bulan Juni sampai dengan Agustus 2007 tetap saya lunasi termasuk tagihan pemakaian yang saya anggap bukan pemakaian saya tersebut.
Pada tagihan September 2007 sampai tanggal jatuh tempo, saya sengaja tidak melunasi atau membayar tagihan kartu kredit tersebut. Setelah tanggal jatuh tempo pembayaran, saya pernah dihubungi pihak Citibank mengenai tagihan bulan September 2007 yang belum saya bayar lunasi. Kemudian saya menjawabnya bahwa saya tidak mau membayarnya sampai ada perhatian dari Citibank terhadap laporan saya dan kemudian saya tidak pernah dihubungi lagi.
Dengan begitu banyaknya la­poran yang saya sampaikan ke­pada petugas Citibank, saya mengira Citibank akan segera memproses dan menghubungi saya. Ternyata sampai surat ini saya kirim, Citibank belum pernah menghubungi dan menyelesaikan masalah yang saya laporkan.

BJ. F. B
Kebayoran Baru, Jakarta

106. Teror Telepon dari ABN Amro
Saya baru saja pindah ke Bogor sejak 13 September 2007 dan menempati rumah kontrakan yang sudah saya bayar untuk satu tahun dengan harga yang menurut ukuran saya sudah sangat besar.
Namun, dua hari sejak saya menempati rumah kontrakan itu, mulai ada teror lewat telepon dari orang-orang yang mengaku dari Bank ABN Amro dan mencari seorang yang bernama Yuli, Heni, dan Rico. Belakangan saya tahu mereka adalah penghuni rumah sebelum saya masuk.
Yang membuat saya kesal adalah cara mereka menelepon. Mereka menelepon dengan kasar, membentak-bentak dan mengumpat-umpat dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pegawai bank yang ternama, Pegawai laki-laki ataupun perempuan yang menelepon tersebut tidak ada yang ramah. Seolah-olah saya ini adalah yang berutang, padahal saya tidak kenal sama sekali dengan orang yang mereka cari itu.
Setiap mereka menelepon, saya sudah jelaskan bahwa saya adalah penghuni baru dan tidak kenal sama sekali dengan penghuni yang lama. Namun, mereka tampaknya tidak menggubris penjelasan saya dan tetap me­maki-maki saya atau istri saya yang mengangkat telepon.
Mungkin dalam proses perekrutan pegawai bank sekarang ini tidak lagi dilihat penampilan yang menarik, meyakinkan, atau dari tingkat kecerdasan orang yang melamar pekerjaan, tetapi lebih dilihat dari cara calon pegawai itu memaki-maki orang lain. Semakin kasar dia memaki-maki dan mengumpat-umpat orang, semakin besar kesempatan orang tersebut diterima di Bank ABN Amro.
Teror tersebut tidak hanya se­kali saya terima, tetapi seperti kegiatan rutin setiap tiga hari sekali. Seolah saya adalah orang yang menunggak utang dan tidak mau membayar. Padahal, sekali lagi saya tegaskan, saya tidak kenal sama sekali dengan orang-orang yang mereka cari dan saya tidak pernah sekali pun berhubungan dengan Bank ABN AMRO apalagi punya utang kepada ABN Amro.
Saya sudah laporkan hal ini pada 18 Oktober 2007 kepada Kepolisian Sektor Kota Bogor Timur dan mereka menyarankan saya menelepon polisi kalau ada orang dari ABN Amro datang ke rumah.

A. H
Bantar Kemang.

107. Kartu Kredit BII Diblokir
Saya pemegang kartu kredit BII (nomor kartu: 4423 7301 3841 xxxx) sejak 2003 dan tidak pernah terlambat membayar sekali pun. Sekarang tiba-tiba saja kartu saya diblokir tanpa pemberitahuan dan alasan yang jelas. Saya sampai bosan menghubungi layanan pelanggan Card Center BII terkait masalah ini.
Petugas layanan pelanggan mengatakan ada tunggakan tagihan bulan Juli dari kartu kredit BII saya yang lain, padahal tagihan tersebut sudah saya bayar lunas. Pembayaran sudah saya lakukan pada bulan Juli lewat teller BII dan bukti pembayaran tersebut juga sudah saya kirim via pos tercatat pada bulan Agustus ke BII Center Jakarta. Namun, tidak ada koreksi yang dilakukan. Tidak ada respons sama sekali dari BII. Bahkan sekarang kedua kartu saya diblokir begitu saja Perlu ditegaskan, saya juga membayar iuran tahunan, bukan gra­tis.
Jika bukti pembayaran yang divalidasi teller BII sendiri tidak diakui, lalu maunya bagaimana? Apakah memang seperti ini yang dimaksud lagu tema BII "Untuk, melayani Anda dengan yang Terbaik"?

RK
Kejuron, Madiun

108. Tagihan dan Laporan Bank Niaga

Saya adalah nasabah Bank Niaga dan memiliki produk Niaga, seperti Mapan, Tabungan pendidikan, Niaga Cerdik, tabungan, dan KPR. Namun, saya kecewa dengan pelayanan Bank Niaga.
Pada 20 Mei 2007 saya pindah rumah dan sudah melaporkan pindah alamat penagihan untuk kartu kredit, debit advice KPR, dan laporan asuransi pendidikan ke alamat baru. Mulai Juni 2007 saya sudah menerima tagihan kartu kredit ke alamat rumah yang baru. Namun anehnya la­poran lain, seperti debit advice KPR dan statement lain, tidak pernah sampai ke rumah saya sampai saat ini.
Saya sudah melapor ke layanan pelanggan lewat nomor telepon masing-masing pada 10 Juni 2007, 30 Juli 2007, 15 Agustus 2007, 12 September 2007, 28 Sep­tember 2007, dan juga komplain tertulis di konter pada 10 Oktober 2007. Pernah pada 12 September 2007, melalui telepon, staf la­yanan pelanggan Bank Niaga menjelaskan bahwa kurir pengantar tagihan kartu dan kurir yang mengantar laporan keuangan berbeda. Namun, alasan ini bagi saya sangat tidak masuk akal. Walau beda kurir, mengapa ta­gihan kartu sampai tepat waktu, sementara laporan keuangan ti­dak pernah sampai?
Bank Niaga hanya memerhatikan tagihan agar nasabah membayar tagihan tepat waktu, se­mentara hak saya sebagai nasabah untuk mendapat laporan ke­uangan diabaikan. Padahal dalam pembayaran KPR, asuransi, dan tagihan saya tak pernah menunggak. Yang mengecewakan adalah komplain saya, yang sudah enam kali tidak ditanggapi. Saya tidak pernah ditelepon untuk ditindaklanjuti, padahal nomor ponsel sa­ya ada di database mereka.

YL.
Sukabumi Selatan, Jakarta

109. Letih Menutup Kartu BCA
Pada 26 Juni 2007 saya menelepon Halo BCA untuk melakukan penutupan kartu kredit Visa dan BCA Card baik utama maupun tambahan yang dimiliki istri. Hal ini disebabkan kekecewaan kepada BCA yang tidak kooperatif menangani komplain atas keterlambatan pengiriman pernyataan tagihan periode Juni 2007, yang harus berkali-kali ditelepon, dimintai data, menceritakan hal dari awal dan kemudian hanya dijanjikan akan dibuatkan laporan. Proses ini menghabiskan waktu dan energi tanpa ada solusi.
Untuk menutup kartu, saya diminta membayar terlebih dahulu semua transaksi yang belum ditagihkan pada bulan tersebut. Sa­ya langsung ke ATM BCA terdekat untuk melakukan pembayaran sesuai nilai yang diinformasikan kepada saya. Selanjutnya, saya menelepon Halo BCA lagi, diterima Ibu Marsya dengan ID pelaporan penutupan 4373105. Proses penutupan pun akhirya berhasil saya lakukan. Bulan Juli berikutnya saya kembali mendapatkan tagihan.
Langsung saya telepon Halo BCA untuk menanyakan mengapa terdapat tagihan lagi setelah penutupan kartu kredit. Padahal syarat penutupan adalah membayar semua nilai transaksi yang belum ditagihkan. Petugas Halo BCA memastikan bahwa tagihan pada posisi itu adalah nihil dan munculnya tagihan adalah karena sistem komputer yang tetap akan menge-print selama tiga bu­lan. Untuk itu, saya diminta un­tuk mengabaikan. Pada Agustus 2007 tagihan kembali datang dengan nilai yang semakin bertambah.
Pada 8 Agustus 2007 kembali saya menelepon Halo BCA, diterima Ibu Ratna dengan ID laporan 4565928. Saat itu saya kembali diminta mengabaikan ta­gihan itu karena merupakan sistem komputer BCA sebagaimana telah disampaikan sebelumnya.
Namun, pada Agustus 2007 saya justru menerima surat sebanyak dua lembar yang pada tanggal yang berbeda mengenai permohonan maaf akibat keterlambatan penagihan bulan Juni yang menjadi penyebab saya menutup kartu kredit. September 2007 saya tidak menerima ta­gihan, tetapi Oktober 2007 ta­gihan kembali muncul.

W. S
Bekasi Selatan

110. Penawaran Bunga Rendah Kartu Kredit Menyesatkan
Saya adalah nasabah kartu kredit Citibank Gold Mastercard sejak tahun 2004. Pada Juli 2007 saya terpilih mendapatkan penawaran bunga ringan (2,75 persen per bulan) untuk pembelanjaan yang berlaku selama 24 bulan. Namun, hingga September 2007 tagihan yang dikirimkan kepada saya tetap memberlakukan bunga normal (3,5 persen per bulan).
Padahal sejak mendapatkan informasi tentang bunga rendah (2,75 persen per bulan) saya telah menggunakan kartu kredit untuk belanja hingga limit yang ditetapkan oleh bank penerbit kartu kredit itu habis. Pada 2 Oktober 2007 saya menghubungi Citiphone officer (diterima oleh Saudari Anissa) yang menjawab akan menanyakan ke pihak yang mengerti masalah tersebut dan berjanji akan segera memberikan jawaban keesokan harinya.
Karena keesokan harinya telepon genggam saya bermasalah, saya segera menghubungi kembali melalui telepon ke Citiphone officer (diterima oleh Saudari Amanda) yang memberitahukan, bahwa penawaran bunga rendah telah dibatalkan pada Agustus 2007. Hal ini tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada saya. Dengan alasan yang tidak masuk akal, ketika saya desak ia menjawab sistem yang membatalkan. Aneh, bukankah sistem dibuat oleh manusia?
Kejadian itu membuat saya sangat kecewa atas pelayanan Citibank NA karena merasa dipermainkan dan ditipu oleh bank internasional papan atas yang sangat terkenal ini. Untuk itu, kepada masyarakat, khususnya pemegang kartu kredit Citibank, agar berhati-hati terhadap penawaran yang menyesatkan dari Citibank

I .Y. H
Margahayu, Bekasi

111. Pusat Pemanggilan Bank Danamon
Saya kecewa dengan layanan Pusat Pemanggilan Bank Dana­mon. Pada 24 Oktober 2007 saya menghubungi Pusat Pemanggilan Bank Danamon dan dibantu oleh seorang laki-laki (lupa namanya) dengan maksud menanyakan total tagihan dengan tujuan me­nutup kartu kredit saya (4567 9945 1252 90xx). Saat itu petugas menginformasikan total tagihan sebesar :Rp 8.243.043 dengan minimum pembayaran Rp 1.646.261. Tanggal 26 Oktober 2007, saya telah melakukan pembayaran sebesar jumlah total tagihan.
Pada 29 Oktober 2007 saya menelepon ke bagian collection (25506055) yang dibantu Saudari Dini untuk tujuan menutup kartu kredit. la mengonfirmasikan bahwa pembayaran telah dibukukan dan menyarankan saya menghu­bungi pusat pemanggilan 34358888 untuk penutupan kar­tu kredit. Saya telah menghubungi pusat pemanggilan dan di­bantu oleh Saudari Vira. Pada waktu saya hendak menutup kar­tu ia menginformasikan bahwa masih ada kekurangan bunga se­besar Rp 92.183. Apabila dibayar pada hari itu, kartu dapat segera ditutup.
Saya heran, kenapa pada waktu pertama kali menghubungi tidak .diinformasikan semua pemakaian sehingga saya dapat membayar seluruh tagihan. Mengapa bunga tidak dijadikan satu de­ngan seluruh tagihan? Saya ingin berbicara dengan manajer/supervisor yang bertugas, tetapi tidak diberikan kesempatan. Padahal saya ingin menyampaikan kekecewaan mengenai tagihan yang sebelumnya sudah dikonfirmasi bahkan terlebih dahulu dan saya sempat minta dihapuskan.
Mohon penjelasan dari pihak manajemen Bank Danamon. Saya tidak mau melakukan pembayaran apa pun lagi karena telah konfirmasi terlebih dahulu meskipun saya tidak ingat siapa yang menerima telepon. Bagaimana saya tahu jumlah tagihan saya kalau saya tidak menghubungi Pusat Pemanggilan Danamon?

D. S
Jakarta Selatan

112. Limit Kartu Kredit ANZ
Saya pemegang kartu kredit ANZ Platinum Mastercard yang sudah menjadi nasabah sekitar dua tahun. Kartu kredit hanya dipakai untuk keperluan bisnis kantor. Pada 26 Oktober 2007 saya mencoba menggunakan kartu kredit itu, tetapi ditolak
Saya mencoba untuk mengonfirmasikan ke Pusat Pemanggilan ANZ di Jakarta lewat telepon (021) 5721900 sekitar pukul 14.00 WITA diterima oleh seorang petugas layanan pelanggan wanita, saya lupa namanya.
Setelah menanyakan status pemakaian kartu kredit, petugas itu menginformasikan bahwa pemakaian kartu kredit saya Rp 7 juta, melebihi limit yang diberikan.
Dengan bingung saya me­nanyakan, kenapa bisa kelebihan limit sampai Rp 7 juta tanpa ada pemberitahuan dari pihak ANZ kepada saya? Pe­tugas layanan pelanggan mentberitahukan bahwa kartu kredit saya mempunyai limit tersembunyi Rp 55 juta. Namun, ini tidak pernah diinformasikan kepada saya.
Selain ANZ, saya juga pe­megang beberapa kartu kredit platinum dan gold yang dikeluarkan oleh bank yang mempunyai reputasi bagus. Sa­ya selalu diberi informasi apabila pemakaian sedikit melebihi limit Apakah ini salah satu cara dari ANZ untuk "menjebak" para pengguna kartu kreditnya dengan tidak memberitahukan kondisi kelebihan limit pemakai kartu kredit?

R. R
Desa Kadewatan Ubud, Bali

113. Tagihan Kartu UOB Buana
Sebagai pemegang UOB Buana Platinum Card, saya sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan UOB Buana. Pembayaran pertama saya jatuh tempo pada 22 Oktober 2007, tetapi sampai tanggal 1 November 2007 saya belum menerima lembar tagihan bulanan tersebut Karena itu, untuk menghindari dikenai bunga dan denda, saya harus membayarkan dahulu tagihan tersebut tanpa bisa mengecek tagihan yang tercetak.
Saya terus menghubungi Pusat Pemanggilan UOB Buana untuk mendapatkan penyelesian masalah ini, tetapi bukannya penyelesaian yang saya dapatkan. Saya tidak pernah memiliki pengalaman seperti itu dengan institusi keuangan lainnya. Bukankah seorang petugas pusat pemanggilan seharusnya menolong pelanggan yang mengalami masalah.
Diharapkan pihak UOB Bu­ana menanggapi permasalahan nasabah. Saya khawatir lembar tagihan selanjutnya pun tidak terkirim (nomor kartu kredit 4219 2020 xxxx xxxx) sehingga paya harus kembali menghubungi pihak pusat pemanggilan untuk mengetahui jumlah tagihan. Hal tersebut bukan pelayanan yang saya harapkan dari bank seperti UOB Buana.

A. S
Jakarta Selatan

114. Transaksi BII Dibatalkan Sepihak
Alangkah terkejutnya saya ketika menggunakan kartu kredit BII Platinum untuk pembayaran pengisian BBM kendaraan di SPBU Shell Slipi, Jakarta Barat, Sabtu, 27 Oktober 2007. Setelah menggesek kartu sebanyak dua kali di mesin FDC dengan respons kartu saya ditolak, akhirnya saya memutuskan menghu­bungi layanan pelanggan BII karena kartu saya sama sekali tidak ada tunggakan pembayaran atau kelebihan limit pemakaian.
Pada saat itu juga, pukul 21.55 WIB, saya menghubungi pusat pemanggilan dan dibantu oleh Saudara Rico yang menginformasikan bahwa kartu saya telah dibatalkan per 25 Oktober 2007 dengan alasan ada pemberitahuan dari pihak MasterCard Inter­national bahwa kartu saya telah digandakan oleh pihak lain sehingga kartu di tangan saya tidak berlaku lagi. Kartu pengganti akan saya terima dalam tujuh hari ke depan. Transaksi saya pada waktu itu tidak dapat di­bantu oleh pihak BII.
Yang mengherankan adalah betapa sewenang-wenangnya pi­hak BII langsung membatalkan kartu saya tanpa pemberitahuan, baik secara lisan melalui telepon seluler saya maupun secara tertulis, padahal saya yakin pihak bank memiliki data-data saya se­cara lengkap.
Apakah pihak BII sebagai bank penerbit memikirkan masalah yang akan dihadapi nasabahnya dengan membatalkan kartu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu atau memang seperti itu praktik sebuah bank yang berstandar internasional?

Y. I
Tambora, Jakarta


115. Kecewa dengan Kartu Kredit Citibank
Saya sebagai nasabah kartu kredit Citibank kecewa karena sudah dua bulan ini dihadapkan pada permasalahan mengenai penyalahgunaan kartu kredit tambahan saya atas nama suami saya (Wawan) yang digunakan orang lain untuk melakukan transaksi. Awalnya pada 7 Agustus 2007 saya menghubungi Citibank untuk membatalkan kartu tambahan saya dengan alasan sudah tidak membutuhkannya lagi, selain karena dikenai biaya iuran tahunan.
Lalu tanggal 8 Agustus 2007 saya mengirimkan kartu tambahan saya dalam keadaan tergunting. Pada 10 Agustus 2007 surat dan kartu saya diterima Citibank. Sebelumnya, saya selalu bertanya mengenai pembatalan kartu, dan saya mendapatkan informasi bahwa sistem pembatalan kartu pada Citibank dilakukan pada saat kartu nasabah diterima pihak Citibank. Dengan alasan tersebut saya berpendapat bahwa kartu saya sudah dibatalkan per tanggal 10 Agustus 2007. Saya baru menerima surat resmi dari Ci­tibank mengenai pembatalan kartu tersebut tanggal 20 Agustus 2007.
Kemudian saya kembali menghubungi Citibank untuk menanyakan tagihan saya untuk bulan September 2007. Saya dikejutkan dengan adanya tagihan yang bukan merupakan transaksi saya ataupun suami saya Transaksi tersebut adalah pertama, tanggal 15 Agustus 2007 di Griya Toserba, Venus, senilai Rp 91.866. Kedua, tanggal 16 Agustus 2007 di Mekar Raya senilai Rp 525.000. Ketiga, tanggal 21 Agustus 2007 di Mekar Raya senilai Rp 1.575.000.
Kemudian saya mengajukan sanggahan pada tanggal 30 Agus­tus 2007 dengan alasan kartu kredit tambahan saya sudah saya batalkan dan transaksi tersebut bukan transaksi saya ataupun suami saya. Saya mendapat kabar lagi bahwa transaksi tersebut berasal dari kartu tambahan saya yang lama (kartu tambahan saya yang dikembalikan ke pihak Citibank adalah kartu tambahan saya yang baru).
Jadi, kartu tambahan saya yang lama hilang tanpa kami sadari. Yang saya sesalkan, mengapa transaksi tersebut bisa terjadi, padahal kartu yang baru sudah saya batalkan. Dengan demikian, kartu yang lama seharusnya otomatis juga ikut dibatalkan. Namun, sampai hari ini saya masih belum mendapatkan penyelesaian dari pihak Citibank. Terakhir, saya kembali dikecewakan oleh pihak Citibank, yaitu tagihan bulan November beserta bunga dan denda kembali dibebankan kepada saya. Saya kemudian menghubungi kembali pihak Citibank.

R. L
Cimahi Selatan

116. Penawaran Citibank Hanya Janji
Saya pemegang kartu Citibank (nomor: 4541 7800 1446 5xxx). Pada 27 Juli 2007 saya mendapatkan tawaran melalui telepon dari marketing Citibank (Saudari Daniela) yang menawarkan kartu tambahan dengan janji bebas iuran tahunan sampai jatuh tempo kar­tu utama. la juga menjanjikan Saya akan mendapatkan suvenir yang akan dikirim dalam vaktu sepuluh hari kerja. Pada hari itu juga saya menyetujui dan mengirimkan persyaratan melalui faksimile.
Faktanya pada lembar tagihan bulan Agustus 2007 terdapat tagihan iuran tahunan sebesar Rp 70.000. Suvenir yang dijanjikan pun tidak di­kirim. Pada 10 Agustus 2007 saya menghubungi Saudari Daniela menanyakan perihal tersebut. Yang bersangkutan berjanji akan memproses kembali dan memastikan pada lembar tagihan berikutnya sudah. dikoreksi. Lagilagi janji itu ti­dak pernah terealisasi. Karena, pada lembar tagihan bulan September 2007 tidak dilakukan koreksi. Bahkan, suvenir pun belum dikirim.
Pada 11 September 2007 sa­ya berusaha mengonfirmasi lagi Saudari Daniela. Namun, tampaknya yang bersangkutan berusaha menghindar dengan alasan sedang online, sedang keluar, dan begitu seterusnya.
Setelah kesekian kalinya sa­ya menelepon layanan pelanggan ataupun pemasaran, akhirnya saya mendapatkan jawaban ternyata belum ada konfirmasi dari pemasaran ke manajemen soal janji-janji yang ditawarkan tersebut.
Saya hanya heran, mengapa bank sebesar Citibank memiliki manajemen seperti itu? Sa­ya menduga janji-janji tersebut diberikan oleh petugas pema­saran untuk memikat nasabah, padahal program itu tidak ada? Bukan persoalan iuran tahun­an ataupun suvenir yang saya tekankan, melainkan mengapa bank sekelas Citibank mengeruk keuntungan dengan cara seperti itu? Atau itu hanya ulah oknum karyawan yang tidak memiliki kapasitas yang baik? Berhati-hatilah jika mendapat­kan tawaran dengan berbagai iming-iming.

R. P
Persada Banten

117. Perpanjangan Kartu Kredit HSBC
Saya pemegang kartu kredit HSBC Visa (Nomor 4472 1111 0228 26xx) yang telah habis masa berlakunya sejak Agustus 2007, tetapi kartu perpanjangan baru diterima 30 Oktober 2007, yang berarti sudah hampir tiga bulan sejak masa berlaku kartu berakhir.
Saya dirugikan bukan saja dari kartu baru yang belum bisa dipakai, tetapi juga karena masih mempunyai uang kelebihan pembayaran sekitar Rp 2 juta yang praktis tidak bisa digunakan.
Apalagi beberapa minggu terakhir dalam dua bulan akhir itu saya sering bepergian baik di dalam dan luar negeri. Kebetulan kartu saya mempunyai limit lebih dari Rp 40 juta.
Rencana sebelumnya saya akan gunakan untuk uang muka pembelian barang di luar negeri guna memperlancar usaha.
Namun, semuanya menjadi berantakan.
Telah berulang kali saya mengeluhkan masalah ini ke pusat pemanggilan HSBC, tetapi janjinya tidak pernah ditepati.
Menurut info per 21 September 2007, kartu saya telah diterima oleh seseorang bernama Vera, yang tidak saya kenal. Saya sangat menyesalkan cara HSBC yang dengan mudahnya memberikan kartu tersebut kepada orang yang tidak berhak, baru kemudian mereka berjanji akan segera mengirimkan kembali kartu baru secepatnya tidak lebih dari 10 hari.
Ini jelas kelalaian ada pada HSBC dan terbukti bahwa berulang kali telah dibohongi.

J. T
Duren Sawit, Jakarta

118. Korban Teror dari HSBC
Pada 5 November 2007 saya menerima telepon dari HSBC yang mencari seseorang bernama Surianto Sutedjo. Penelepon tidak menyebutkan nama tetapi ditujukan ke nomor ponsel saya (081619xxxxx). Sudah saya katakan bahwa saya tidak mengenal atau memiliki hubungan apa pun dengan Surianto Sutedjo. Bahkan sudah saya sampaikan agar pihak HSBC mengecek langsung ke Indosat nomor ponsel saya jika tidak percaya dengan jawaban.
Akan tetapi, pihak HSBC tidak menerima jawaban ini dan terus meneror saya dengan nomor te­lepon yang berbeda-beda, (25526504, 25526502, 25526500, dan 25526600). Telepon dilakukan pada hari dan jam yang berbeda, yaitu 5 November 2007 pukul 13.25 WIB, 8 November 2007, yaitu pukul 08.53 WIB, 08.59 WIB, 10.47 WIB, dan 16.40 WIB. Pada 9 November 2007, pukul 10,57 WIB. Tanggal 10 No­vember 2007 pukul 09.40 WIB dan tanggal 12 November 2007 pukul 10.59 WIB. Padahal nomor ponsel dimaksud sudah saya miliki sejak tahun 1998 dan tidak pernah dipinjamkan atau saya jual nomornya. Nomor tersebut saya beli dari outlet resmi Indosat dan bukan nomor bekas. Apakah pihak HSBC tidak bisa mengecek kebenaran bahwa nomor ponsel yang dihubungi bukan atas nama Surianto Sutedjo? Bukankah seharusnya dengan setiap verifikasi nasabah dapat diketahui apakah data nasabah tersebut sudah valid atau tidak?
Apabila yang melakukan transaksi yang merugikan HSBC adalah Surianto Sutedjo, tolong jangan merugikan dan meneror sa­ya, karena saya adalah pihak yang tidak tahu menahu. Tindakan yang dilakukan oleh pihak HSBC telah merugikan waktu, ketenangan, dan keamanan saya. HSBC sebagai bank internasional ternyata tidak profesional dan seharusnya dapat memperbaiki pelayanan agar kejadian serupa ti­dak terulang kembali.

LB.
Tambora, Jakarta

119. Pelayanan Citibank
Saya pengguna kartu kredit Citibank dan salah satu nasabah personal loan yang mereka tawarkan. Sampai bulan ini, cicilan personal loan saya masih 11 kali lagi (11 bulan ke depan). Beberapa minggu lalu, saya setorkan uang sejumlah Rp 2 juta guna membayar ci­cilan personal loan saya untuk beberapa bulan ke depan. Saat dihubungi petugas dari Personal Loan Citibank, saya menginformasikan bahwa telah membayar sejumlah seperti tersebut di atas. Namun, bukan ucapan terima kasih yang saya terima Saya malah diminta melunasi sisa cicil­an sekitar Rp 200.000, yang seharusnya dapat saya bayar 11 bulan ke depan, dengan ancaman dari si penelepon, bahwa saya akan dikenai bunga yang lebih tinggi dari yang sekarang apabila tidak segera melunasinya
Bukankah cicilan personal loan itu sudah ditetapkan dan flat? Yang membuat saya makin kesal dengan pelayanan Citibank adalah saat saya meminta penutupan kartu kredit pada tanggal 15 Oktober 2007. Kewajiban sudah saya lunasi, tetapi ketika menghubungi Citibank Call Center di nomor 69999, petugas pelayanan pelanggan yang bernama Berlina bukannya memberikan saran agar saya tetap memakai kartu ataupun memberikan penawaran bebas iuran tahunan, melainkan malah menyuruh saya menghubungi dan menutup asuransi Astra CMC yang setiap bulannya saya bayar melalui pendebitan otomatis dari kartu kredit Citi­bank
Setahu saya, saat membeli produk asuransi Astra CMG yang juga kebetulan merupakan penawaran dari perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya, di dalam polis dan apa yang ditawarkan oleh agen asuransi tersebut disebutkan bahwa perlindungan atau polis akan berhenti secara otomatis jika pemegang polis menutup kartu kredit Citibanknya. Yang membuat saya heran adalah sistem yang dimiliki Citibank, seperti yang disampaikan Saudari Berlina, bahwa walaupun saya sudah meminta penutupan kartu ke Citi­bank, jika saya tidak melakukan konfirmasi ke Astra CMG, pihak Astra CMG tetap dapat mendebit kartu kredit Citibank yang su­dah saya tutup.
Sangat disayangkan perusahaan besar sekelas Citibank mempunyai sistem yang begitu gampangan. Bukankah seharusnya pi­hak bank mempunyai otoritas untuk menolak pendebitan dari pi­hak mana pun sesuai dengan permintaan nasabahnya? Saya berharap pengalaman buruk saya bersama Citibank menjadi pelajaran bagi siapapun.

R. I
Kabupaten Bandung