Jumat, 04 Juni 2010

60. Kartu Kredit ANZ Bermasalah ?
Salah satu karyawan orang tua saya membuat kartu kredit ANZ tanpa sepengetahuan orangtua saya. Sebulan kemudian datang tagihan ANZ (atas nama Alex Franky dengan Nomor kartu: 4157 3500 2118 Ixxx) sebesar Rp 8.300.000. Tagihan diabaikan orangtua saya. Selang beberapa bulan saya diminta melunasi tagihan itu.
Setelah dilunasi ternyata masih ada late charge dan tunggakan tersisa, Rp 576.000. Saya lalu menghubungi bagian pengendalian kredit (Ibu Mawar) yang memberi keringanan dan saya melunasi sebesar Rp. 511.000. Namun, saat itu saya lupa meminta surat lunas.
Setelah tiga bulan, tagihan datang kembali dengan late charge dan bunga Rp 300.000 lebih. Pada awal Juli 2007 saya menelepon beberapa staf ANS (Bapak Frans, Prasetio, dan Yoppy) untuk meminta surat lunas. Namun, mereka mengatakan agar saya mengabaikan tagihan karena sistem belum di-reset.
Namun, pada 11 Juli 2007 seorang petugas yang mengaku dari ANZ (Bapak Yudi) mendesak saya untuk melunasi ta­gihan Rp 300.000 lebih, tetapi setelah didiskon saya cukup membayar Rp 266.000.
Aneh, mengapa terus dikenai bunga? Jika saya tidak berniat untuk bertanggung jawab, untuk apa melunasi tagihan sebesar Rp 8.000.000 lebih? Apakah ANZ memanfaatkan situasi karena saya lupa meminta surat lunas?

SH.
Pluit Barat I, Jakarta Utara



61. Menutup Kartu Standard Chartered
Saya pemegang kartu kredit Standard Chartered, nomor 4511 9700 0050 68xx. Sebelum jatuh tempo perpanjangan kartu, saya sudah mengonfirmasi untuk menutup kartu. Sekitar tiga bulan kemudian, tiba-tiba datang tagihan annual fee atas kartu itu. Saya menghubungi customer sevice untuk konfirmasi penutupan kartu kredit tersebut dan petugas menjawab akan memproses.
Bulan berikutnya saya mendapat tagihan lagi. Kali ini disertai dengan denda keterlambatan ditambah bunga. Kembali saya menghubungi Standard Chartered untuk konfirmasi penutupan kartu kredit, dan petugas menjawab akan memproses. Beberapa hari kemudian petugas Standard Chartered menghubungi saya dan membujuk untuk tidak menutup kartu kredit, tetapi saya menjawab tidak karena sejak semula sudah menggunting kartu tersebut dan tidak menggunakan lagi. Kembali pihak Standard Chartered mengatakan akan memproses penutupan kartu dimaksud.
Selang beberapa hari kemudian kembali Standard Chartered menghubungi dan saya tetap menjawab tidak. Hebatnya satu minggu kemudian, Standard Chartered kembali menghubungi saya pukul 07.30 sebanyak dua kali dalam kurun waktu seminggu, dan saya tetap menjawab tidak perpanjang dan menolak program apa pun dari Standard Chartered karena sudah tidak memiliki kartu tersebut. Pada 29 Juli 2007 saya kembali menerima tagihan disertai dengan denda ke­terlambatan.
Saya segera menghubungi Standard Chartered untuk kon­firmasi, tetapi petugas customer service menjawab, sebelumnya saya sudah dihubungi untuk per­panjangan kartu kredit dan saya setuju dengan penghapusan an­nual fee dan sekarang dikenai denda keterlambatan. Standard Chartered mengatakan semua pembicaraan saya telah direkam. Namun, ketika saya meminta rekaman pembicaraan diperdengarkan, mereka mengatakan hanya ada catatan tertulis dari pe­tugas Standard Chartered bahwa saya sudah menyetujui perpan­jangan kartu. Sungguh penjelasan ini tidak masuk akal.

G. S
Penjaringan, Jakarta
62. ABN AMRO Merepotkan
Saya tidak pernah sekalipun mengajukan kartu kredit di ABN AMRO. Anehnya pada 31 Juli 2007 saya menerima SMS yang menyatakan bahwa permohonan kartu kredit saya, de­ngan registrasi 150707176693, telah disetujui dan akan segera dikirimkan kartunya.
Hari itu juga saya telepon nomor pengirim SMS tersebut 021 27586777, untuk memberitahukan bahwa saya tidak pernah mengajukan permohonan kartu kredit. Kemudian penerima telepon meminta data pribadi saya. Tentu saya tidak mau karena belakangan ada modus penipuan kartu kredit dengan cara meminta data pribadi saya. Keesokan harinya saya mendapat kiriman kartu kredit tersebut, tetapi saya tidak mau menerima. Pada tanda bukti penerimaan saya centang batal di kolom alasan pengembalian.
Saya mengembalikan kartu itu, karena tidak pernah mengajukan permohonan kartu kredit. Apabila kartu itu saya terima, saya khawatir hal itu dijadikan alasan oleh pihak bank, kalau tidak mengajukan kenapa diterima?
Setelah kartu kredit saya kembalikan, saya khawatir kalau-kalau kartu itu jatuh ketangan orang lain. Karena itu, pada 2 Agustus 2007 sekitar pukul 13.00 WIB saya menelepon card center ABN AMRO untuk memberitahukan pengembalian kartu kredit itu. Saya menelepon ke card center sampai empat kali, dan setiap kali telepon saya diminta untuk mencocokkan data, tetapi saya tetap tidak mau memberikan. Bahkan saya dinyatakan bersalah karena mengembalikan kartu kredit tersebut. Pihak card center mengancam kalau kartu itu jatuh ke tangan orang lain dan digunakan, itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab saya. Mengapa saya jadi, direpotkan?
Pulsa telepon yang saya keluarkan dan waktu yang saya luangkan untuk menelepon sudah terbuang sia-sia. Akhirnya saya mengalah, setelah sebelumnya saya mengecek terlebih dahulu ke Telkom 108 untuk mengetahui kebenaran nomor telepon dari bank tersebut. Kemudian saya mem­beritahukan data pribadi untuk memblokir kartu itu. Mengapa bank yang ingin mendapatkan nasabah malah merepotkan saya?

SR.
Karawang

63. Bunga Kartu Belanja Carrefour
Saya pemegang Kartu belanja Carrefour nomor 5189 43902798 xxxx. Pada pertengahan Juni 2007 sampai dengan Juli 2007 saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Karena itu, saya berinisiatif menghubungi bagian custmer Service GE Money dan kartu kredit untuk melakukan pembayaran sebelum tagihan dikirim ke rumah. Setiap bulan biasanya tanggal cetak tagihan adalah 19 dan tagihan baru tiba dirumah sekitar satu minggu setelah tanggal cetak. Oleh karena itu, saya melunasi kewajiban sebelum pergi.
Ketika tagihan Juli 2007 datang saya kaget karena pada tagihan ada item bunga. Pada waktu itu saya segera menghubungi customer service melalui telepon untuk mongonfirmasi. Mula-mula yang melayani Bapak H. la menjelaskan bunga yang akan dibebankan kepada pemegang kartu kredit. Kemudian saya bertanya tentang pembebanan bunga, padahal saya sudah membayar lunas sebelumnya. Namun, setelah lama saya menunggu hubungan telepon terputus/diputus. Saya kemudian menghubungi lagi customer service GE. diterima Bapak R, yang menjelaskan lagi tentang persoalan bunga.
Saya jelaskan sudah me­ngerti tentang peraturan bu­nga. Tetapi, dengan nada agak marah Bapak R mengatakan "Mau atau tidak dijelaskan.” Kemudian saya mengatakan sudah dijelaskan oleh petugas sebelumnya dan saya sudah mengerti. Kemudian saya menanyakan, saya tidak mengerti mengapa masih dibebani bunga padahal saya sudah membayar lunas. Kemudian Bapak R meminta saya menunggu dan kemudian mengatakan, lain kali tidak boleh membayar dulu sebelum ada tagihan, tetap kali ini saya akan bantu mengembalikan bunga tersebut."
Saya ingin mendapatkan penjelasan dari pihak yang berwenang, apakah GE memang tidak memperbolehkan nasabah melunasi kewajibannya sebelum tagihan datang/dicetak? padahal nasabah ingin menyelesaikan kewajibannya sebelum didenda karena ketika jatuh tempo nasabah tidak berada di Indonesia sehingga tidak bisa melakukan pembayaran. Ataukah GE memang ingin mencari keuntungan dari bunga nasabah yang terpaksa melunasi kewajibannya karenat melampaui jatuh tempo sebab yang bersangkutan tidak berada di Indonesia?

TT.
Jakarta

64. Penagih Citibank Salah Alamat
Kejadian yang kami alami dimulai pada 18 Agustus 2007 se­kitar pukul 11.00 WIB, rumah. kami kedatangan tamu yang berteriak-teriak dari luar pagar un­tuk minta masuk halaman. Karena takut, pembantu menjawab melalui jendela bahwa majikan sedang pergi. Tamu itu menjelaskan akan bertemu dengan Bapak Kim dan ada kata lain lagi tapi tidak jelas. Menurut pembantu, sepertinya nama orang Chi­na/Korea.
Pembantu tidak berani membuka pintu pagar, meski tamu itu mengatakan bukan rampok. Ditanya di mana Bapak Kim dan dijawab bahwa tidak ada nama dimaksud. Kemudian penagih itu bertanya lagi, orang apa yang tinggal di rumah. Dijelaskan, orang Jawa dan tidak ada yang punya suami. Tamu itu terus memaksa minta nama istri Bapak Kim meski pembantu sudah menjelaskan penghuni tidak mempunyai suami.
Kemudian tamu itu minta kertas dan menulis, diberikan ke­pada pembantu. Isi tulisan: Ibu Agnes (nama ibu kami) /Bapak Kim, tolong hubungi saya ke 0815 815 7510 untuk menyelesaikan tunggakan Bapak di Citibank, tanda tangan, nama jelas Nicolaus R.D. Ketika sore ibu kami datang ke rumah menemukan pesan itu dan langsung menghubungi nomor telepon seluler di­maksud untuk menjelaskan bah­wa tidak ada orang bernama Kim di rumah dimaksud. Dan tidak ada urusan dengan Citibank. Namun, semua penjelasan itu tidak diterima.
Orang yang mengaku Nicoalaus tetap menyatakan bahwa rumah tersebut adalah rumah Bapak Kim. Ibu kami yang sudah menjalani operasi jantung karena peristiwa tersebut tidak bisa tidur karena dadanya berdebar-debar. Ibu kami terus ketakutan dengan ancaman orang itu akan datang lagi. Pada hari Minggu, 19 Agustui 2007, kami sebagai penghuni rumah menghubungi ponsel Saudara Nicolaus mengundang da­tang ke rumah untuk konfirmasi bahwa dia telah salah alamat menagih. Namun, tanggapannya malah kata-kata yang tidak beradab keluar. Kami juga menghubungi lewat SMS untuk datang, tetapi tetap tidak ada tanggapan. Kata maaf tidak keluar dari mulutnya, malah sumpah serapah yang ke­luar.
Mohon Citibank, yang katanya profesional, dapat menjelaskan, mengapa menyewa orang untuk melakukan penagihan dengan cara-cara seperti itu? Memaksa orang yang tidak punya utang untuk mengakui mempunyai utang?

CRL.
Pamulang, Tangerang

65. Asuransi Perlindungan Kartu Kredit Abaikan Hak Nasabah
Sejak tahun 2001 saya menjadi nasabah Bank BNI 1946. Pada tahun 2005, dengan adanya MOU antara Universitas Pancasila dan Bank BNI, petugas bank meminta saya mengganti kartu kredit dari Visa bisa ke Gold dengan lambang Universitas Pancasila dan Bank BNI (4105 0500 4100 84xx). Selama menjadi nasabah saya tidak pernah bermasalah dan termasuk nasabah yang baik, buktinya saya pernah diberikan personal loan melalui customer service Bank BNI, sampai akhirnya saya mendapat musibah.
Pada 27 Oktober 2006 saya tertimpa musibah kecelakaan / tabrakan mobil akibat ban depan kanan pecah di Purworejo, Jawa Tengah. Kaki kiri dan tangan kanan saya patah, mobil pun hancur. Kemudian, oleh keluarga saya dirawat di Bandung, Sampai saat ini saya belum sembuh total (masih cacat). Pada bulan November 2006 saya ditelepon customer service bagian penagihan Bank BNI. Pada waktu itu saya memberitahukan bahwa saya tertimpa musibah. Pada saat itu pula saya minta bantuan customer service Bank BNI untuk membantu melunasi saldo kartu kredit saya.
Petugas dari Bank BNI mengatakan, akan membantu dan dihubungkan dengan pengelola Asuransi Perisai Plus, Ibu Mega. Petugas meminta saya mengirimkan surat yang diperlukan , termasuk kronologi kejadian, dan semua sudah dikirim melalui facsimile sesuai dengan permintaan. Pada April 2007 pihak Bank BNI menelepon saya menanyakan kuitansi pengobatan dari tanggal 29 Oktober 2006 sampai dengan 31 Desember 2006. Sayapun telah menginformasikan bahwa kuitansi dari pengobatan alternatif ada dan kalau diminta akan diberikan. Kemudian petugas customer service menyuruh saya menunggu dan bila memerlukan saya pihak bank akan menginformasikan kemudian. Namun, sampai saat ini tidak ada pemberitahuan apa pun. Anehnya karena pada November 2006 saya tidak membayar kartu ktedit akibat kecelakaan, pada bulan berikutnya polis asuransi saya diputus dengan alasan tidak membayar.
Seharusnya pemutusan polis itu dibarengi dengan melindungi saldo kartu kredit saya di Bank BNI. Bank BNI ataupun asuransi perlindungan kartu kredit (Perisai Plus) lepas .tanggung jawab terhadap musibah yang menimpa saya. Bank BNI hanya mengejar kewajiban, tetapi tidak memenuhi hak nasabah.

SBG.
Kemayoran, Jakarta

66. Agen Kartu Kredit Bukopin
Pada 3 Juli 2007 saya ditelepon PT Asia Duta Promosindo (Saudari Dea) yang menawarkan kartu kredit Bank Bukopin yang menurut dia baru launching. Dengan iming-iming iuran tahunan pertama gratis dan transfer balance 0% untuk tenor 6 bulan.
la mengatakan bahwa perusahaannya adalah agen dari Bank Bukopin dan saya juga ditawari mengambil voucher wisata berupa 1 voucher Persada Swim­ming Pool, 2 voucher Tandori Restaurant @ Rp 50.000, dan voucher Gaya Spa Rp 50.000. Saya juga diberikan letter of guarantee untuk pemesanan one way tiket pesawat nonGaruda dengan pilihan rute Jakarta - Yogyakarta, Jakarta-Surabaya, atau Jakarta-Palembang, yang saya kira jumlahnya jauh dari angka Rp 1.985,000.
Gaya berbicara sales itu sopan dan tutur bahasanya meyakinkan, dan entah kenapa saya me­nurut saja dan mengiyakan tawarannya. Keesokan harinya kurir PT Asia Duta Promosindo datang mengambil fotokopi KTP dan fotokopi kartu kredit Citi­bank saya, nomor 45417900 6182 26xx. Petugas kurir itu lalu meminjam kartu kredit Citibank sa­ya dan langsung menswipe sebesar Rp 1.985.000.
Pada waktu itu lagi-lagi saya menurut saja untuk menandatangani meski saya tidak diberi­kan kopi/tembusan transaksi tersebut. Setelah kurir itu pergi saya baru sadar dan menyesal. Saya segera telepon ke PT Asia Duta Promosindo (Saudari Lala dan Saudari Dea) untuk membatalkan/menunda pendebetan tersebut, tetapi tidak bisa karena saya sudah menandatangani dan saya diminta tenang karena akan lang­sung di takeover oleh kartu kredit Bank Bukopin dan hanya akan didebet Rp. 33.000 / bulan selama 5 tahun sesuai dengan berlakunya voucher tersebut.
Pada siang hari yang sama seseorang dari Citibank bagian analisis transaksi, lupa namanya, menelepon saya untuk konfirmasi transaksi tersebut. Saya sejenak senang dan berharap dapat membatalkan transaksi tersebut, tetapi tidak bisa. Yang bisa membatalkan hanya PT Asia Duta Pro­mosindo. Apa gunanya analis Citibank tersebut menelepon/kon? firmasi kepada saya?
Akhirnya tagihan dari Citibank saya tiba, dan transaksi itu muncul, sedangkan kartu kredit Bank Bukopin yang dijanjikan tidak kunjung tiba Saya tidak memerlukan voucher tersebut.

E. W
Cibinong, Bogor


67. Data Bank Duta dari Bank Danamon
Saya merasa dirugikan dengan informasi sepihak yang dikirimkan oleh Bank Danamon berkaitan dengan informasi yang dikirimkan ke Bank Indonesia tentang kredit bermasalah. Dalam hal ini kartu kredit eks Bank Duta yang saat ini, setelah Bank Duta ditutup, ditangani/dialihkan ke Bank Danamon.
Permasalahan timbul atas kar­tu kredit eks Bank Duta nomor 4966 9891 0835 1006 yang diterbitkan sekitar awal tahun 1990 an dengan kredit limit sebesar Rp 10 juta. Saat itu ada permasalahan dengan penggunaan kartu, yaitu ada pemakaian di luar pemakaian saya. Akibatnya, pembayarannya bermasalah dan saya didatangi oleh debt collector Bank Duta dan sudah saya bayar sesuai dengan kesepakatan dari Bank Duta saat itu.
Setelah pembayaran tersebut saya menganggap semua persoalan dengan kartu kredit Bank Duta sudah selesai. Apabila masalah ini belum dianggap selesai, seharusnya pihak Bank Danamon menghubungi saya untuk konfirmasi mengenai masalah ini pada saat Bank Danamon menerima berkas limpahan/permasalahan. Namun, setelah menye iesaikan masalah itu, saya tidak pernah dihubungi oleh pihak Bank Danamon saat berkas Bank Duta dilimpahkan ke pihak Bank Danamon.
Akan tetapi, pada awal Januari 2007 saya berinisiatif melakukan kontak dengan pihak collection Bank Danamon sehubungan dengan informasi yang saya peroleh bahwa nama saya ada di dalam daftar kredit bermasalah di Bank Indonesia. Saat itu saya bertemu dengan Bapak Ade dan Bapak Iqbal. Mereka menginformasikan bahwa utang saya ada sekitar Rp 29 juta. Saya sungguh terkejut dan mempertanyakan kepada mereka dari mana data tersebut bisa muncul.
Saya juga menanyakan, bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah ini. Mereka menjawab agar saya membayar sekitar Rp 21 juta. Tentu saja saya tidak bisa menerima.dan mempertanyakan dari mana angka rupiah itu bisa muncul, dan mereka menjawab itu adalah pokok utang saya. Kemudian saya bertanya balik, bagaimana mungkin bila kredit li­mit saya saja hanya Rp 10 juta dan dinyatakan pokok utangnya se­besar itu. Kedua karyawan Bank Danamon itu tidak bisa men­jawab.

A. P
Bendungan Hilir, Jakarta

68. Korban Daftar Hitam Asosiasi Kartu Kredit Indonesia
Kejadian ini diawali saat saya sebagai pemegang BCA Prioritas ditawarkan kartu kredit BCA. Sebetulnya saya tidak begitu memerlukan karena saat itu saya telah memiliki tiga kartu kredit yang digunakan secara aktif, masing-masing adalah Amex Gold sejak tahun 89 (charge card + credit card), Visa BNI Gold sejak tahun 1999, dan Kartu Belanja Carrefour (Master GE Finance) sejak 2003.
Setelah hampir satu bulan pihak BCA khusus datang untuk menjelaskan bahwa permohonan kartu kredit BCA saya ditolak. Penolakan itu sangat kontradiktif karena saya pemegang BCA Prioritas. Setelah saya tanyakan alasan penolakan ternyata karena nama saya berada dalam daftar hitam (black list) Asosiasi Kartu Kredit Indonesia. Namun, sayangnya pejabat BCA tidak bersedia menjelaskan pihak kartu kredit mana yang mencantumkan nama saya dalam daftar tersebut.
Saya hampir tidak pernah memiliki tunggakan kartu kredit, selalu membayar lunas 100 persen pada waktunya. Kalaupun terlambat, itu sangat jarang terjadi dan pasti ada penyebabnya, biasanya karena pemberitahuan tagihan tidak sampai. Namun, akhirnya, kartu kredit BCA Gold dan Visa BCA untuk saya tetap diterbitkan dan hingga sekarang berjalan dengan lancar.
Karena penasaran, pada Juli 2007 saya mencoba aplikasi Visa Citibank dan kartu kredit Bank Mega sekaligus, ternyata keduanya ditolak seminggu kemudian. Saya teringat peristiwa aneh tahun 2006 jauh sebelum memiliki kartu kredit BCA .Saat itu BCA menghubungi via handphone dan meminta saya agar secepatnya melunasi tunggakan kartu kredit yang sudah tertunggak cukup lama. Saya jelaskan bahwa itu salah alamat karena saya tidak memiliki kartu kredit BCA. Namun, orang yang menagih tersebut bersikeras karena nama dan nomor handphone benar. Karena saat itu ditengah rapat penting, akhirnya saya memutus hubungan telepon itu dan saya abaikan peristiwa tersebut.
Hingga saat ini saya tidak tahu, apakah betul nama saya berada dalam daftar hitam Asosiasi Kartu Kredit Indonesia dan apa alasannya? Bagaimana saya bisa mengklarifikasi kebenaran data tersebut? Bagaimana jika pencantuman tersebut karena kesalahan data, misalnya karena nama sama, dari pihak penerbit kartu kredit? Rasanya tidak adil karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya, apalagi kesempatan untuk memberikan klarifikasi.

R. M
Pondok Pinang, Jaksel

69. Citibank Melelahkan
Saya acungkan jempol untuk Citibank dalam prestasi membuat nasabah merasa sangat lelah.
Saya nasabah kartu kredit Citi­bank sejak tahun 2000 atau su­dah sekitar tujuh tahun. Selama ini semuanya berjalan baik, hing­ga pada malam hari tanggal 25 Maret 2007 sekitar pukul 24.00 WIB saya terbangun karena telepon dari petugas Citibank yang mengonfirmasikan, apakah saya melakukan transaksi. Lewat internet sebanyak tiga kali Rp 1.795.505. Saya jawab tidak.
Kemudian petugas Citibank itu mengatakan, telah terjadi fraud atas kartu kredit saya dan bahwa kartu kredit saya akan diblokir dan nanti akan diterbitkan kartu baru. Sekitar dua minggu kemudian muncul kartu baru sebagai pengganti. Namun, dalam tagihan bulan April 2007 terdapat transaksi tersebut, tiga kali Rp 1.795.505 serta penghapusannya. Saya bayarkan semua tagihan yang ada dan saya pikir permasalahan telah selesai.
Anehnya tiga kali Rp 1.795.5O5 yang telah dihapuskan pada bulan April 2007 tersebut muncul kembali pada tagihan bulan Mei 2007. Saya tanyakan berkali-kali lewat telepon, kenapa muncul lagi. Namun, Citibank selalu menjawab bahwa perlu dilakukan investigasi dan dibutuhkan waktu satu minggu. Setelah satu minggu kemudian saya menelepon Citibank, tetapi petugas mengatakan butuh waktu dua minggu. Terakhir dikatakan untuk investigasi membutuhkan 40 hari.
Pada Mei 2007 terdapat beberapa transaksi lain dari tagihan handphone yang saya bayarkan via Citibank One Bill. Masalah transaksi yang tidak jelas itu menjadi berlarut-larut hingga muncul tagihan Juni 2007 berikut bunganya. Lalu beberapa kali Citibank menagih baik lewat telepon, surat tagihan, maupun SMS dan ini sangat menjengkellkan. Saya terus-menerus, mungkin lebih dari 10 kali, menelepon Citiphone dan mendapat jawaban yang sama, yaitu sedang dila­kukan investigasi. Saya merasa dipermainkan oleh Citibank

A. Z. A
Cijagra, Bandung

70. Telkomsel dan Standard Chartered
Akhir-akhir ini saya sering diteror oleh Standard Chartered (SC) untuk pembayaran kartu kredit yang tidak pernah saya atau istri miliki. Pihak SC berulang kali menelepon saya dan menanyakan pembayaran kartu kredit SC atas nama Nyonya Farida.
Selidik punya selidik ternyata yang bersangkutan adalah istri Saudara Tedi dan nomor telepon Saudara Tedi adalah 0812820xxxx. Betapa terkejut saya mendapati bahwa nomor telepon dari Telkomsel tersebut sama dengan nomor yang saya miliki dari pertama (perdana-tersegel).
Saya tidak pernah mendapat­kan konfirmasi untuk penggunaan di SC. Selain itu, istri saya pun bukan bernama Ny Farida dan tidak pernah memiliki kartu SC.
Hal ini telah saya ungkapkan pada saat pihak SC menelepon saya dan pihak SC pun berjanji akan meng-update nomor tele­pon tersebut. Kenyataannya saya masih ditelepon dan dianggap sa­ya adalah Saudara Tedi, bahkan saya ditelepon dengan nada yang kasar.
Mohon kepada pihak SC untuk meng-update nomor telepon itu dan memperketat saat verifikasi pengajuan kartu kreditnya sehingga tidak salah alamat. Kepada pihak Telkomsel, apakah memang ada penggandaan nomor telepon seluler sehingga nomor saya bisa tersebar kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.

H. P
Pondok Aren, Tangerang

71. Data dari ABN untuk BII
Pada 21 Juni 2007 saya menerima kartu kredit Bank Internasional Indonesia (BII) Gold, padahal selama ini tidak pernah mengajukan ataupun mengisi formulir aplikasi kartu kredit bank tersebut.
Saya kecewa dengan pihak BII yang asal-asalan dalam mencari nasabah kartu kredit. Tanpa ada yang mengisi, mengajukan, dan menandatangani formulir aplika­si kartu kredit, tetapi pihak bank tetap dapat menerbitkan kartu kreditnya
Pada hari yang sama pukul 16.00 WIB saya langsung menghubungi Customer Service BII lewat telepon 78869811 untuk mencari tahu dari mana BII bisa mendapat data diri saya.
Dari petugas customer service saya diminta menghubungi marketing department lewat telepon 3928282. Saya sangat kesulitan menghubungi nomor tersebut karena sampai pukul 11.00 WIB keesokan harinya tidak ada satu pun petugas yang mengangkat telepon dari saya.
Namun, saya terhibur karena operator marketing BII (Saudari H) dapat diajak kerja sama dan sangat membantu. Akhirnya pihak BII, mengaku bernama Sau­dara "A" sebagai supervisor mar­keting dengan nomor telepon 57939554, menghubungi saya dan mengatakan bahwa dia akan meminta marketing-nya untuk menghubungi saya.
Yang bersangkutan juga mengatakan bahwa dia sudah menerima surat peringatan dari perusahaan atas kejadian itu dan minta maaf. Beberapa saat setelah Saudara "A" menelepon, saya mendapat telepon dari Marketing BII yang mengaku bernama Ayu dengan nomor telepon 5760365 dan memberi penjelasan bahwa data-data tersebut didapat dari Saudara "H" selaku Marketing Bank ABN AMRO.
Menurut pengakuannya, kare­na mengejar target, yang ber­sangkutan tidak terlebih dahulu mengonfirmasikan kepada saya dan hanya mengopi tanda tangan saya dari KTP ke aplikasi formulir tersebut. Ini merupakan pemalsuan tanda tangan. Namun, Sau­dari "A" menyatakan tak memalsu karena ini adalah hal biasa selaku petugas bagian marketing.
Saya sangat heran dengan BII karena dengan mudah dapat menyetujui begitu saja aplikasi for­mulir tanpa konfirmasi ke nasa­bah walaupun tanda tangannya tidak asli/mengopi. Selain itu, ternyata BII juga menyetujui ap­likasi kartu kredit tanpa mengecek terlebih dahulu keakuratan data-data calon nasabahnya.

AS.
Kramat Jati, Jakarta

72. Dipermalukan LadyCard LippoBank
Pada Juni 2007 saya ditelepon LippoBank yang menawarkan kartu kredit Lady Mastercard. Awalnya saya enggan membuka kartu kredit lagi karena merasa sudah cukup mempunyai dua kartu kredit. Dengan iming-iming mendapat diskon 5 persen untuk setiap transaksi apa saja dan dengan pertimbangan bunga lebih kecil daripada kartu kredit yang saya miliki, saya menyetujui untuk dibuatkan kartu Ladycard.
Selang sekitar dua minggu saya menerima kartu kredit baru tersebut dan saya tidak langsung melakukan aktivasi karena belum memerlukan. Voucher perawatan muka sebesar Rp 149.000 juga saya tidak gunakan.
Pada 10 Juli 2007 anak saya sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Untuk membayar uang muka rumah sakit, saya mehghubungi LippoBank Call Centre untuk aktivasi dengan harapan mendapatkan diskon 5 persen untuk mengurangi biaya. Proses aktivasi hampir 15 menit dengan pertanyaan macam-macam.
Menurut petugas LippoBank, kartu baru bisa dipakai setelah 2 x 24 jam. Namun, petugas call cen­ter mengupayakan dapat diaktifkan setelah dua jam. Namun, setelah lewat dua jam saya ke kasir rumah sakit untuk mem­bayar uang muka, tetapi kartu tidak bisa dipakai. Dengan rasa malu, saya mengeluarkan kartu kredit lain yang limitnya 10 kali lebih besar. Dan transaksi pun selesai. Pada 14 Juli 2007 saya ke rumah sakit untuk kontrol anak, kembali dengan harapan dapat diskon 5 persen. Namun, hanya malu yang saya dapat karena kar­tu tetap belum bisa dipakai.
Pada 13 Agustus 2007 saya jalan-jalan ke Pondok Indah, Ja­karta, untuk berbelanja. Setelah sekian lama dan sudah melupakan kejadian yang memalukan itu, saat membayar di kasir dan membuka dompet saya berpikir mau coba lagi membayar dengan memakai kartu kredit Lippo Ladycard biar dapat diskon 5 per­sen. Namun, kasir mengatakan, kartu kreditnya tidak bisa dipa­kai, dengan alasan mungkin overlimit. Dengan rasa malu, saya hanya bisa menjawab, "Waduh itu kartu baru. Justru saya mau coba" Ini yang ketiga kalinya saya dipermalukan oleh Lippobank.

LK.
Depok

73. Layanan Standard Chartered Buruk
Saya pemegang kartu kredit Standard Chartered (4511 9700 0050 68xx). Sebelum jatuh tem­po perpanjangan kartu, saya sudah konfirmasi untuk penutupan kartu. Sekitar tiga bulan kemudian tiba-tiba datang tagihan an­nual fee. Hari itu juga saya lang­sung menghubungi customer service untuk konfirmasi penutupan kartu kredit dan dijawab akan diproses. Bulan berikutnva datang lagi tagihan dan kali ini disertai dengan denda keterlambatan dan bunga.
Pada waktu itu saya segera menghubungi pihak Standard Chartered untuk kembali lagi mengonfirmasi penutupan kartu kredit dan dijawab akan diproses. Beberapa hari kemudian pihak Standard Chartered menghu­bungi saya dan membujuk untuk tidak menutup kartu kredit. Saya menjawab tidak karena sejak semula saya sudah menggunting kartu tersebut dan tidak dipergunakan lagi. Kembali pihak Stan­dard Chartered menjelaskan akan memproses penutupan kar­tu saya tersebut.
Selang beberapa. hari kemu­dian kembali lagi Standard Chartered menghubungi dan saya tetap menjawab tidak. Hebatnya lagi satu minggu kemudian Stan­dard Chartered kembali meng­hubungi saya pada pukul 07.30 selama dua kali dalam kurun waktu seminggu. Saya tetap men­jawab tidak memperpanjang dan menolak program apa pun dari Standard Chartered karena saya sudah tidak memiliki kartu ter­sebut. Pada 29 Juli 2007 kembali saya menerima tagihan yang disertai dengan denda keterlambatan.
Saya segera menghubungi Standard Chartered untuk .kon­firmasi dan oleh customer service dijawab bahwa sebelumnya saya sudah dihubungi untuk perpan­jangan kartu kredit dan saya setuju dengan penghapusan annual fee dan sekarang dikenakan den­da keterlambatan. Semua pembicaraan saya telah direkam. Na­mun, ketika saya minta untuk diperdengarkan rekaman pembicaraan itu, dijawab hanya ada catatan tertulis dari petugas Stan­dard Chartered bahwa saya sudah menyetujui.
Sungguh tidak masuk akal de­ngan penjelasan petugas Startdard Chartered yang berbelit-belit dan dibuat-buat.

G. S
Harapan Indah, Bekasi

74. Paket Fren dengan Citibank
Saya pelanggan paket Fren selama 12 bulan dengan pembayaran minimum Rp 288.000 per bulan (Nomor Fren: 0888 157222x). Pembayaran dilakukan secara rutin setiap bulap melalui autodebet kartu kredit Citibank Platinum saya.
Pada Mei 2007 tiba-tiba kar­tu Fren saya diblokir. Saya sempat menghubungi customer ser­vice lewat telepon untuk menanyakan hal ini, tetapi selalu mendapat jawaban bahwa semua petugas sedang sibuk melayani pelanggan dan telepon terputus begitu saja.
Pada saat itu saya sempat mengunjungi gerai Mobile 8 di ITC Roxy, Jakarta, dan Cempaka Mas, Jakarta, tetapi setelah menunggu sekitar satu jam, baru dua nomor antrean yang dilayani, sedangkan saya dapat nomor antrean 10. Sebagai karyawan swasta yang memiliki keterbatasan waktu, saya tidak mungkin dapat menunggu selama itu.
Selama berlangganan paket Fren saya tidak pernah menerima surat tagihan karena pembayaran didebet langsung dari kartu kredit Citibank. Namun, pada Agustus 2007 saya menerima surat tagihan sebesar lima bulan tunggakan terhitung sejak diblokirnya kartu pada Mei 2007. Saya terkejut dengan jumlah tagihan sebesar itu untuk sesuatu yang tidak saya gunakan.
Kemudian saya kembali menghubungi customer service lewat telepon dan kali ini berhasil. Keluhan ditangani oleh Bapak Arif dan menjanjikan akan memberikan jawaban atas permasalahan saya dalam waktu 7 x 24 jam setelah laporan diterima. Namun, setelah menunggu lebih dari seminggu, saya belum mendapat kabar apa pun dari pihak Fren, sehingga saya kembali menghubungi customer service melalui telepon.
Saya kembali berbicara de­ngan Bapak Arif dan dijanjikan bahwa saya akan mendapatkan jawaban dari pihak Fren mengenai permasalahan ini. Namun, sampai kini saya belum mendapatkan jawaban dari pihak Fren. Mengapa pihak Fren terkesan lambat dan tidak peduli dengan permasalahan pelanggannya?

K. K. S
Jalan Nyi Mas Melati

75. ATM Mandiri dengan HSBC
Pada 10 April 2007 pukul 19.11 WIB di Drive Thru Mandiri (Terminal No: Siap lOAB) Jalan Cinere Raya, Jakarta, anak saya mengambil uang tunai senilai Rp 2.500.000 dengan menggunakan kartu HSBC Super Ease (019-234 XXX-XXX), tetapi transaksi gagal. Uang tidak keluar dan sudah dicek ulang.
Kemudian tanpa merasa ada yang ganjil, dia mencoba lagi di ATM Mandiri Cinere Mall dengan mengecek saldo terlebih dahulu. la terkejut karena ternyata saldo sudah berkurang senilai uang yang dicoba untuk diambil pada transaksi sebelumnya yang gagal.
Kemudian anak saya segera menghubungi, Mandiri dan. HSBC Call Centre. Namun, karena antara mesin dan kartu berbeda bank, hanya dapat diproses antarbank. Karena bank pembuat kartu berada di Hongkong, dia melapor ke Hongkong, yang kemudian dijawab melalui surat tertanggal 9 Mei 2007 dengan menyatakan bahwa transaksi yang terjadi adalah normal dan posisi sudah balanced.
Karena merasa tidak puas, selain mencoba menghubungi tewat telepon, akhirnya dia melaporkan lagi ke HSBC Jakarta di HSBC Gedung Ericsson Pondok Indah, Jakarta, 22 Mei 2007. Namun, sampai sekarang tidak ada jawaban sama sekali. Hal ini sangat merugikan dan mengecewakan.
Hatihati ambil uang di ATM Mandiri. Perlu diketahui bah­wa bukan pertama kali anak saya melakukan penarikan di ATM Mandiri menggunakan kartu HSBC dan semuanya berjalan normal.

J. J
Jati Pondok Labu RT 003

76. Penagih Bank Permata Terobos Paksa Masuk Rumah Nasabah
Untuk ketiga kalinya penagih utang (debt collector) dari Bank Permata menyatroni rumah saya pada malam hari pada 31 Juli 2007. Memang suami saya masih memiliki tunggakan kartu kredit Bank Permata, tetapi nilainya sangat kecil. Bukan tidak mampu membayar, tetapi karena suami saya telah masuk "perangkap" dan menjadi "sapi perahan" Bank Per­mata.
Padahal, pihak Bank Permata yang mengirimkan kartu kredit, kepada suami saya, yang dengan segala bujuk rayu menjanjikan segala nikmat iming-iming hadiah. Namun, pihak Bank Permata tidak memberi tahu suami saya jika suatu hari karena keteledoran, kesibukan, atau kealpaan untuk membayar tagihan, pihak Bank Permata mengenakan bunga berbunga yang nilainya 3,49 persen per hari (bukan per bulan), bahkan lebih hebatnya lagi dihitung berdasarkan per item belanjaan, bukan total belanja.
Kemudian ditambah dengan late charge sebesar Rp 50.000 finance charge, interest, dan stamp fee. Untuk menagih semua itu, pihak Bank Permata mengirimkan pihak ketiga (debt collector), Pihak penagih bahkan menerobos paksa masuk ke dalam rumah, seperti yang terjadi pada hari Senin, 3 September 2007. Padahal pada waktu itu kami sekeluarga sedang tidak di rumah dan hanya ada seorang pembantu tua renta yang menunggu di rumah.
Mengapa bukan dara-dara manis karyawan dari Bank Permata yang datang menagih, seperti saat mereka datang mengejar surat pernyataan untuk ditandatangani bahwa telah menyelesaikan urusan piutang dari suami saya baru-baru ini dan meminta maaf sembari memberikan cendera mata berupa travel bag beroda lipat dengan logo Bank Permata? Penagih yang dikirim oleh Bank Permata bertindak kasar seolah mereka yang berkuasa dan kebal hukum. Mohon perhatian manajemen Bank Permata

SS.
Cipondoh, Tangerang

77. Diskon Bunga Mengganggu
Beberapa waktu terakhir saya terganggu dengan oknum dari ANZ yang menawarkan diskon bunga. Penawaran itu tidak saya hiraukan karena ti­dak disertai dengan bukti maupun perhitungan tertulis, dan hal itu hanya akan menguntungkan oknum tersebut dan bukan untuk nasabah.
Terakhir saya dihubungi oleh Saudara Deden yang kali ini menanyakan tagihan de­ngan cara berkomunikasi yang sangat tidak profesional dan melecehkan saya selaku nasa­bah. Padahal, saya selalu membayar tagihan secara rutin (Nomor kartu kredit: 4157 3650 3464 3007). Sangat disayangkan bank sebesar ANZ menggunakan orang-orang seperti itu untuk berkomunikasi de­ngan nasabah.
Yang bersangkutan bericara tanpa etika serta melakukan komunikasi pertelepon pada saat-saat yang tidak tepat, yaitu hari Minggu saat orang sedang beribadah dan pada malam hari saat istirahat Pertimbangkan bilamana mendapatkan tawaran kartu kredit atau produk perbankan apa pun dari ANZ. Bank yang tidak bisa menghargai dan menghormati nasabahnya.

H. W
Depok

78. Penutupan Kartu Kredit Danamon
Saya pengguna kartu kredit Danamon dengan nomor 5422 6003 5522 80xx. Kartu ini telah saya tutup per Januari 2007. Pada saat menutup kartu pihak Da­namon telah memastikan semua tagihan saya sudah terbayar lunas sehingga proses penutupan kartu dapat dilakukan.
Setelah enam bulan, Juli 2007, tiba-tiba saya mendapatkan tagihan untuk transaksi yang terjadi November 2006, yaitu transaksi di Rumah Sakit Hermina sebesar Rp 478.172. Pada tanggal 17 Juli 2007 saya langsung menelepon Card Center Danamon, diterima oleh Ibu Nisa. Menurut dia, hal itu karena ada keterlambatan posting dari pihak Rumah Sakit Hermina.
Pada 18 Juli 2007 saya dihubungi oleh pihak Danamon (Ibu Seva, CRM). la menginformasikan bahwa permasalahan akan segera diinvestigasi dan apabila memang tagihan itu ada, saya harus membayar berikut denda karena keterlambatan pembayaran. Saya juga diminta membuat surat pernyataan yang intinya menyanggah transaksi tersebut.
Saat itu juga saya langsung menghubungi RS Hermina Jatinegara, Jakarta, untuk mengonfirmasikan hal ini. Menurut petugas bagian keuangan RS Hermina, tidak ada istilah keterlambatan posting karena semua sis­tem langsung online dengan pihak bank. Sepengetahuan saya sistem kartu kredit tersebut me­mang online antara bank dan mer­chant Pada 20 Agustus 2007 saya menerima billing statement untuk tagihan tersebut plus denda keterlambatan saya dan kembali dihubungi pihak Danamon ka­rena tidak membayar tagihan tersebut.
Saya sudah jelaskan bahwa ta­gihan sudah saya laporkan pada Juli 2007 dan dijanjikan akan diinvestigasi. Sampai saat ini saya belum pernah diinformasikan mengenai hasil investigasi yang dijanjikan dari Bank Danamon, Kejadian ini sangat mengganggu dan sangat mengecewakan. Tidak mungkin saya akan membayar kembali tagihan yang sudah dilunasi enam bulan lalu.

R. S
Pondok Kelapa, Jakarta

79. Korban Salah Tagih BII
Pertengahan Februari 2006 sa­ya dikejutkan dengan tagihan kartu kredit dari Bank Internasional Indonesia (BII) sekitar Rp 19 juta. Padahal, saya tidak pernah mengajukan aplikasi kartu kredit ke bank tersebut karena sudah memiliki dua buah kartu kredit Citibank
Sewaktu saya cek ke customer service BII, petugas menjelaskan penerbitan kartu kredit itu memang bukan atas permintaan tetapi dengan sengaja dikirimkan tanpa persetujuan saya. Saya tidak tahu apakah itu gaya BII menjebak masyarakat? Saya sudah jelaskan bahwa tidak pernah memegang kartu kredit BII dan tentu tidak mau membayar ta­gihan itu.
Petugas customer service, menganjurkan saya mengirim surat komplain. Pada 27 Februari 2006 saya sudah mengirim surat komplain. Namun, petugas cus­tomer service kembali mengakui bahwa penerbitan kartu kredit dilakukan dengan memanfaatkan data pribadi saya yang tersimpan di PT Asuransi AIG Life sebagai pemegang polis.
Tidak lama kemudian pihak BII mengutus kurir untuk menginvestigasi rumah saya. Menurut kurir tersebut ada nama pernbantu saya (Kokom) yang telah menandatangani bukti penerimaan.
Namun, sewaktu saya konfrontasi kepada si Kokom yang notabene cuma lulusan SD, dia mengatakan tidak ingat, ragu, dari tidak tahu apakah dia menerima surat yang berisi kartu kredit. Yang pasti BII tidak punya bukti bahwa saya menerima kartu tersebut.
Kemudian pada bulan berikutnya, tagihan kembali datang dengan tambahan transaksi baru lebih dari Rp 20 juta. Saya komplain lagi lewat telepon karena bagaimana mungkin sudah ada komplain masih ada transaksi berjalan. Saya mendapat jawaban agar tagihan tersebut diabaikan saja.
Pada waktu itu saya berpikir, persoalan sudah selesai dan tagihan-tagihan itu masuk tong sampah. Namun, tiba-tiba pada 24 Agustus 2007 saya diteror oleh petugas debt collector bernama Ricardo dari CV Ramos Citra. la datang ke rumah saya dengan membawa tagihan sebesar sekitar Rp 26 juta.
Saya kembali komplain dan marah, kali ini ke bagian risk management unit, Bapak Yudhi Dwi Kurniawan. Ternyata memang mereka punya data pribadi saya, tetapi tidak lengkap. Nomor rumah berbeda dan tidak ada nomor telepon. Mengapa managemen BII sangat tidak professional?

R. W
Jakasetia, Bekasi