Jumat, 04 Juni 2010

40. Terus Ditagih ABN Amro
Saya kesal sekali dengan manajemen kartu kredit ABN Amro Bank yang tidak profesional. Kronologinya, tahun 2005 saya pernah didatangi oleh marketing Bank yang bernama Asma.
Saya ditawari pengajuan kartu kredit ABN Amro dan diminta mengisi formulir pengajuannya, tetapi yang diberikan adalah dalam bentuk fotokopi, bukan form asli dan saya diminta melampirkan surat keterangan penghasilan (SKP) satu lembar. Karena lupa membawa identitas berupa KTP, saya belum memberikannya.
Besoknya dia datang lagi, lalu membatalkan pengajuan kredit tersebut karena saya diminta SKP asli satu lembar lagi. Karena menurut saya satu sudah cukup, saya tidak memberikan. Begitu juga KTP tidak saya berikan. Hanya saja, saya lupa mengambil SKP yang sudah saya berikan semalam itu.
Tidak lama kemudian saya mendapat SMS dari ABN Amro Bank bahwa pengajuan disetujui. saya heran, padahal saya tidak jadi mengajukan dan sebelumnya tidak ada dari pihak bank yang mengonfirmasi data kepada saya. Kemudian kartu kredit dikirim­kan ke saya dan saya menolaknya.
Marketing bank tadi mendatangi saya dan dia bilang kartu akan dikirimkan kembali ke pusat karena ada kesalahan dan bahwa kartu tersebut bukan milik saya. Bulan berikutnya saya dikirimi tagihan atas kartu kredit nomor 5256.4411.6470.2320 dan saya ti­dak pernah memiliki kartu itu, apalagi menggunakannya.
Dengan nomor telepon yang ada di tagihan, saya menghubungi customer services ABN Amro Bank dan menjelaskan bahwa ta­gihan itu bukan milik saya. Pihak bank meminta saya menceritakan kronologi di atas dan katanya akan diproses. Akan tetapi, tagihan terus dikirimkan setiap bulan dan saya coba konfirmasi lagi melalui email juga tidak mendapat jawaban.
Saya terus ditelepon oleh bagian tagihan bank dan saya ceritakan ulang terus kejadiannya Saya kesal sekali, saya diminta kirimkan surat pernyataan bahwa saya tidak pernah memiliki kartu tersebut juga sudah saya kirimkan, tetapi tidak juga ditanggapi, Terakhir saya dihubungi melalut telepon seluler saya oleh bagian tagihan yang bernama Santi pada Desember 2006 dan dia bilang akan dikonfirmasi lagi.
Tetapi, sampai tanggal 2 Maret lalu keluarga saya juga ditelepon lagi dan mereka marah-marah kepada saudara saya. Kata me­reka, keluarga saya menyembunyikan saya dan ponsel saya tidak aktif. Padahal, saya tidak pernah mematikan ponsel saya dan selalu aktif 24 jam.
Kalau memang saya benar menggunakan kartu tersebut dan mau lari dari tagihan tersebut kenapa saya tidak bersembunyi saja atau mengganti nomor ponsel, tetapi terus membiarkan rnereka mengganggu saya Apakah begini pelayanan bank yang terkemuka ini?
Penyalahgunaan kartu kredit tersebut bukan tanggung jawab saya dan saya tidak ingin diganggu oleh utang yang bukan milik saya itu. Kenapa pihak bank begitu bertele-tele dalam menangani kasus ini. Seharusnya mereka cari tahu di mana perginya marketing itu yang sudah menyalahgunakan kartu itu, bu­kan menagih terus kepada saya.
Saya harap masyarakat lebih waspada dalam pengurusan kartu kredit karena banyak penipuan dan pemalsuan identitas saat ini Jika mau mengajukannya, langsung ke banknya, jangan lewat marketing lepas karena bisa jadi Anda akan mengalami kasus pe­malsuan identitas seperti saya.

SW.
Pekanbaru

41. BCA Mendebet Langsung
Saya, pemegang kartu kredit BCA, kecewa dengan cara BCA mendebet rekening saya untuk pembayaran penuh atas pemakaian kartu kredit saya. Hal itu terjadi selama dua bulan ini sejak tagihan bulan Februari sampai Maret 2007. Sebelumnya tidak pernah terjadi.
Bermula waktu saya akan membayar tagihan Februari 2007. Karena kesibukan, saya baru membayar pada satu hari sebelum jatuh tempo. Tetapi saya terkejut karena sewaktu saya mengecek saldo, ternyata saldo telah berkurang Rp 2,4 juta (sejumlah tagihan), yang ternyata itu karena pendebetan secara langsung atas tagihan kartu kredit. Saya masih bisa memaklumi ka­rena saya berpikir mungkin ka­rena saya membayar terlalu dekat dengan tanggal jatuh tempo.
Untuk tagihan Maret 2007, sa­ya bayar lima hari sebelum tanggal jatuh tempo sebesar Rp 1,5 juta dari tagihan Rp 2,3 juta. Namun, ternyata BCA masih tetap mendebet rekening saya se­besar Rp 800.000.
Kalau memang tagihan kartu kredit harus selalu dibayar lunas, untuk apa ada ketentuan pemberitahuan pembayaran minimal 10 persen dari tagihan pada lembar tagihan? Juga apa gunanya kartu kredit kalau setiap pembelanjaan harus dibayar lunas? Lebih baik menggunakan kartu debit BCA saja untuk setiap pembelanjaan.
Mohon penjelasan dari BCA karena sebelumnya tidak pernah terjadi, dan saya tidak pernah menunggak pembayaran selain selalu membayar sebelum jatuh tempo dengan jumlah pemba­yaran saya lakukan minimal 50 persen dari tagihan.

H A. B
Pasuruan

42. Administrasi Permata Amburadul
Saya pemegang kartu kredit Permata Bank (No 4546 332X 0008 1372) tidak habis pikir dengan administrasi Permata Bank. Enam bulan lalu kartu kredit saya ditutup oleh Permata Bank dengan alasan tidak jelas.
Kartu habis masa berlakunya bulan Juni 2006. Biasanya oleh Permata Bank kartu diperpanjang secara otomatis, tetapi waktu itu malah ditutup/diblokir. Padahal, saya tidak mempunyai tunggakan/tagihan, malah saya masih ada sisa pembayaran meskipun sedikit.
Saya tidak mempermasalahkan kartu saya ditutup Permata Bank karena sebenarnya saya juga kurang tertarik/tidak simpati kepada Permata Bank, sampai-sampai tabungan Permata Bank juga saya tutup. Namun, yang sangat mengherankan, beberapa waktu lalu saya menerima lagi billing statemen dan menyatakan kartu kredit saya itu berlaku lagi. Mana mungkin saya bisa menggunakan, sedangkan kartu saya sudah mati dan tidak diperpanjang lagi?
Dalam hal ini saya sudah dirugikan enam bulan, saat akan dibebani annual fee kartu kredit akan diterbitkan lagi. Permata Bank sudah bertindak tidak professional, administrasinya tidak tertib dan amburadul sehingga merugikan nasabah. Hanya mau mencari untung dengan merugikan orang lain. Mohon agar pihak Permata Bank dapat melaku kan administrasi lebih tertib lagi.

F. H
Surabaya

43. Tagihan Citibank Terlambat
Saya pemegang Clear Card dari Mastercard (No 542177019063 74xx). Bulan Maret 2007 saya menanti-nanti tagihan kartu kredit, tetapi tidak kunjung tiba. Akhirnya pada 29 Maret 2007 saya menelepon customer service untuk menanyakan di mana tagihan, berapa total tagihan, dan kapan tanggal jatuh tempo.
Menurut petugas customer service, tagihan sedang dikirim dan memang belum ada laporan bahwa telah diterima, dan total tagihan sebesar Rp 6.759.612. Ditawarkan mau ditagihan lagi, dan tanggal jatuh tempo 30 Maret 2007. Artinya tinggal sehari lagi dan kalau saya tidak menelepon menanyakan tagihan, tidak tahu kapan tanggal jatuh tempo. Jika hal itu tidak diketahui, saya akan dianggap lalai dan membayar bunga untuk itu. Saya adalah nasabah yang selalu berusaha melunasi tagihan kartu kredit setiap menjelang tanggal jatuh tempo demi menghindari bunga.
Hari itu juga tanggal 29 Ma­ret 2007 saya langsung mem­bayar lunas tagihan lewat ATM Mandiri sebesar Rp 6.760.000. ternyata surat tagihan baru sampai di kantor setelah tanggal 30 Maret 2007 berdasarkan info penerima tamu, karena tanggal 29 Maret 2007 malam saya berangkat ke luar kota.
Apakah bijaksana bagi Citi­bank apabila surat tagihan baru sampai ke nasabah pada tangal yang sama (apalagi lewat) dengan tanggal jatuh tempo?
Perlu diketahui, ini bukan yang pertama kali terjadi. Saat awalnya menjadi nasabah pun surat tagihan yang saya minta dikirim kerumah sering datang terlambat melewati tanggal jauh tempo. Sampai akhirnya saya minta dikirim ke kantor. awalnya tidak ada masalah, hingga akhirnya terjadi lagi pada akhir Maret 2007.
Seperti inikah strategi Citibank demi mendapatkan bunga dari nasabah yang sebenarnya ingin segera membayar lunas tagihan kartu kreditnya?

AD.
Pasar Minggu, Jakarta

44. Teror Menakutkan BNI
Beberapa waktu terakhir ini kami sekeluarga sangat ketakutan karena selalu diteror petugas penagihan dari BNI Card dengan kata-kata yang luar biasa kasar. Mereka mengancam akan memenjarakan orangtua kami karena namanya tercantum dalam emergency contact.
Kejadian ini bermula dari ketidaktahuan kami bahwa nama orangtua kami didaftarkan oleh Saudari Aprianti sebagai emergency contact. Tapi pihak kollektor BNI bersikukuh bahwa orang tua kami sebagai penjamin pada aplikasi kartu kredit BNI empat tahun lalu tanpa konfirmasi.
Ketjka terjadi masalah dengan pemegang kartu itu, petugas penagihan BNI mengalihkan semua permasalahan kepada keluarga kami. Bahkan lebih luar bisaa lagi, pada 17 April 2007 sekitar pukul 10.30, petugas kolektor tersebut menyuruh ibu saya untuk menanggung semua utang dari Saudari Aprianti, yang katanya, sejumlah Rp 10 juta dengan alasan ayah saya menjadi penjamin kartu kredit tersebut.
Sekitar 20 menit kemudian petugas tersebut menelepon kembali, dan saya yang mengangkat. Saya sudah menjelaskan bahwa tidak ada satu pasal pun hukum di negara ini yang mewajibkan emergency contact melunasi kewajiban utang pemegang kartu kredit.
Saya juga sudah menjelaskan akan membantu mencari pemegang Kartu karena kami juga merasa dirugikan. Namun bukan jawaban yang saya peroleh malah petugas tersebut mengancam akan membunuh saya atau satu dari keluarga.
Ancaman pembunuhan itu membuat kami sekeluarga sangat ketakutan dan trauma. Apalagi telepon rumah berbunyi. Tentunya kami sangat menghargai dan akan bekerja sama bila pihak BNI Card bicara baik-baik kepada ayah saya selaku emergency contact saudari Aprianti sebagai pemegang kartu kredit.

WH.
Kampung Pedurenan, Bekasi

45. Tagihan BCA Terlambat
Saya kecewa dengan layanan kartu kredit BCA (nomor customer 7584184). Selama menggunakan kartu kredit tersebut saya selalu terlambat merima tagihan dari BCA.
Awalnya saya tidak dan membayar biaya keterlambatan meski bukan kesalahan Saya. Tetapi setelah mengalami berkali-kali, akhirnya saya melaporkan hal ini ke BCA.
Pada tagihan bulan November 2006 tertera tanggal jatuh tempo 29 November 2006 tetapi saya menerima tagihan yang dikirim melalui PT. Nusantara Card Semesta (NCS) pada 2 Desember 2006.
Kemudian saya melapor ke Customer service BCA agar tidak dikenai biaya keterlambatan (nomor laporan 3596630- bapak Boni). Tanggal 8 Desember 2006 saya menerima surat dari BCA beserta lampiran tanda terima tagihan.
Saya terkejut, pihak PT. NCS megganti tulisan saya yang tertera bahwa tanggal me­nerima adalah 21 Desember 2006. Saya lalu menghubungi pihak BCA mengenai penipuan ini.
Beberapa hari kemudian pihak PT NCS mendatangi saya dan meminta maaf. Mereka juga mengirim surat permohon maaf (Nomor 02/HRD/BRH/NCS/I/07).
Ternyata hal serupa terjadi lagi pada bulan April 2007. Ta­gihan bulan April 2007 yang jatuh tempo tanggal 29 April 2007 dikirim tanggal 28 April 2007 pukul 02.30 WIB sore oleh Saudari Firmansyah.
Selama ini PT NCS selalu meminta penerima menandatangani tanda terima, tetapi pengirim tidak meminta saya untuk tanda tangan. Lalu saya meminta yang bersangkutan Untuk tanda tangan di atas secarik kertas yang berisi tanggal dan jam terima surat tagihan in.

AND.
Cipondoh, Tangerang

46. Kartu Kredit di Horison
Saya dan kakak menginap di Hotel Horison Bandung, Jawa Barat, pada 27 Juni 2007. Ke­tika check in, seperti biasa, diminta deposit dan saya memberikan kartu kredit kepada petugas yang melayani. Namun saya lupa meminta kembali kartu kredit sampai keesokan harinya check out. Yang membuat marah, ternyata kartu kredit saya telah digunakan.
Segera saya blokir kartu dimaksud dan telepon ke Hotel Horison Bandung untuk meminta pertanggungjawaban. Ketika ditanyakan kenapa kar­tu kredit tidak dikembalikan kepada saya, mereka hanya bisa bilang lupa. Saat itu juga saya minta untuk segera mengembalikan kartu saya dan minta mereka bertindak.
Namun, sampai sekarang ti­dak ada tanggapan yang baik dari Hotel Horison. Bagaimana manajemen Hotel Horison Bandung? Bagaimana bisa pegawai mempunyai mental, pencuri? Mohon penjelasan tentang hal ini.

M. D
Kramat Jati, Jakarta
47. Tagihan Kartu Kredit BII
Saya pemegang kartu BII Master Card Platinum. Su­dah tujuh bulan terakhir ini saya tidak menerima nota tagihan, dan sejak itu pula pembayaran yang mestinya autodebet dari rekening tabungan ternyata tidak dilaksanakan sehingga selalu kena denda, pa­dahal saldo cukup.
Sudah berulang kali saya melapor ke BII Solo dan terakhir pada awal April 2007 saya mengirim email ke cs@bii.co.id yang dijawab akan diteruskan ke divisi terkait, tetapi sampai sekarang masalahnya tidak teratasi. Denda-denda sudah dikembalikan, tetapi tetap tidak terima nota tagihan, dan transaksi yang baru masih tidak bisa autodebet.
Pada 28 Juni 2007 saya te­rima telepon lagi dari Jakarta yang mengatakan bahwa ta­gihan belum dibayar, berarti kena denda lagi. Bagaimana ini BII? Kalau sistem yang seka­rang memang tidak bisa auto­debet dan nota tagihan tidak lagi dikirim ke alamat, seharusnya diberi tahu.

H. N
Jalan Man 21, Solo

48. Kartu Stanchart untuk AirAsia
Saya pemegang kartu kredit Standard Chartered (Stanchart) sejak tahun 2000. Pada tanggal 18 April 2007 saya dihubungi oleh Desi dari card centre dan memberi tahu bahwa kartu kredit saya dipakai orang lain untuk membeli tiket AirAsia yang transaksinya di Sepang, Malaysia, pada tanggal 11 dan 15 April 2007 sebesar Rp 772.619 dan Rp 1.547.130. Padahal pada tanggal tersebut saya tidak pergi ke Malaysia.
Kemudian mereka meminta saya membuat surat sanggahan dan sudah saya lakukan. Yang mengecewakan, saya tidak dikonfirmasikan pada tanggal 11 dan 15 April 2007, apakah saya memakai kartu untuk membeli tiket AirA­sia.
Apabila saya dihubungi, tidak akan sampai terjadi tiga kali kartu kredit saya dipakai oleh orang lain yang merupakan kecerobohan card centre. Card centre pun seharusnya tahu bahwa selama saya memakai Stanchart selalu membayar tepat waktu dan tidak pernah membayar cicilan/minimum payment
Saya tidak mau membayar pembelian tiket AirAsia karena itu bukan saya yang membeli. Sejak bulan April 2007 sampai sekarang saya diminta menunggu-menunggu hasil investigasi dan tetap diharuskan membayar bunga minimum payment sejumlah Rp 504.716.
Benar-benar Stanchart Card Centre mengecewakan pemegang kartu yang sudah hampir delapan tahun (nomor kartu 4511 9600 0114 0101).

L. Y
Bogor

49. Layanan Lippo di Bawah Standar
Saya pemegang kartu kredit Lippo (Nomor 4568 7939 17xx xxxx) menjadi korban pelayanan call center Lippo yang ratingnya di bawah standar. Bermula dari program Lippo Bank "Gratis Ponsel 3G" yang bekerja sama dengan XL. Untuk menyukseskan programnya sendiri, pihak marketing Bank Lippo tidak segan-segan menawarkan janji-janji yang menggiurkan, sebut saja David dan teman-temannya yang aktif menawarkan programnya.
Pada waktu itu saya terkena bujuk rayu marketing Lippo, yaitu untuk membayar iuran Rp 375.000 yang dibayarkan setiap bulan untuk hand phone yang hanya bisa mengcover untuk telepon ke sesama XL. Padahal dijelaskan berkalikali oleh pihak Lippo bahwasannya Rp 375.000 itu untuk mengcover iuran hand phone dan telepon ke semua jaringan telepon.
Dasar sial, apa mau dikata saya sudah telanjur dibohongi. Sebagai nasabah yang baik, saya pun mengajukan keluhan terhitung mulai Maret 2007 agar pihak Lippo mengkaji ulang masalah saya. Biarpun saya sudah menghubungi Bank Lippo lebih kurang 20 kali dalam tiga bulan (Maret-Juni 2007), tidak ada satu pun, yang memberikan solusi. Saya pun sampai menghafal jurus tolak petugas customer service center. "Masalah Bapak akan kami teruskan ke bagian lainnya untuk pengecekan lebih lanjut, Bapak tinggal tunggu konfirmasi berikutnya dari kami."
Bayangkan, inilah dilema yang saya alami selama tiga bulan yang tak kunjung terselesaikan sehingga mengakibatkan beban bunga yang berlipat dari bulan ke bulan. Sebenarnya yang patut disesalkan adalah pelayanan yang diberikan Bank Lippo yang jauh dibawah standar, di mana keluhan nasabah hanya dianggap angin lalu tidak pernah ditindaklanjuti hanya mengobral harapan dan penantian bagi nasabah.
Waspada dalam memilih dan jangan terjerumus masalah yang lebih besar gara-gara pelayanan yang tidak. Hendaknya pihak manajemen Bank Lippo memerhatikan bagaimana cara penyelesaian masalah yang dilakukan oleh customer service agar nasabah Lippo merasa puas.

H. W
Medan Timur, Medan

50. Informasi BII Tidak Transparan
Saya nasabah kartu kredit Bank Internasional Indonesia (4423 7301 xxxx xxxx) sudah cukup lama, tetapi akhir-akhir ini billing kartu kredit BII kacau. Kartu saya pergunakan untuk pembelian di salah satu. Pusat perbelanjaan elektronik bulan Mei 2007, tentu sesuai dengan limit kartu kredit dimaksud dan billing tagihan jatuh Juni 2007. Pada billing terlihat memang ada transaksi pada rincian billing dan ada total penggunaan bulan lalu.
Setelah mengetahui total penggunaan tersebut, tentu da­na yang adalah limit kartu kre­dit dikurangi dengan total penggunaan, dan dengan dana yang ada di kartu kredit terse­but saya bisa berbelanja. Ternyata waktu saya pergunakan, kartu kredit tersebut decline/ditolak. Aneh. Dana ada (menurut saya), namun hal ini membuat malu saya di depan khalayak umum. Saat itu antrean cukup panjang sehingga saya mencari ATM dan menggunakan bank lain untuk tarik tunai dan antre kembali dicounter tersebut.
Setelah sampai di rumah, sa­ya menelepon call center BII dan menanyakan mengapa kartu kredit tersebut tidak bisa dipakai/ditolak. Ternyata, ada dana yang dibekukan karena ada pinjaman lain sehingga mengurangi limit dan tidak dicetakkan pada billing. Aneh, karena pemakaian sebenarnya ,ada di billing yang dicetak (bukan ditutupi), tetapi pihak BII tidak mencantumkan total bil­ling sebenarnya, namun harus melalui call center agar tahu tagihan sebenarnya. Kalau begitu, buat apa tagihan billing dicetak kalau tidak memberikan data yang sebenarnya transparan?

A. Y
Perumnas Klender Jakarta

51. Tagihan Citibank Bermasalah
Pada 20 Februari 2007 saya mendapat tagihan dengan tulisan: Rev pembayaran via ATM BCA (tanggal transaksi dan penagihan 24 Januari 2007) sebesar Rp. 1 juta.
Saya merasakan adanya keanehan karena tidak pernah menggunakan uang sebanyak itu dalam beberapa bulan terakhir. Jawaban yang saya peroleh, pada November 2006 terjadi transaksi dua kali antara BCA dan Citibank masing-masing Rp 1 juta. Yang pertama dari nasabah BCA dan kedua karena setelah empat bulan berlalu.
Seperti dugaan saya, setelah menghubungi pihak BCA diperoleh jawaban tidak pernah melakukan kesalahan itu. Apabila ada tesalahan, akan diperbaiki saat itu juga karena BCA dan Citibank on line 24 jam.
Karena bingung, saya kembali ke Citibank, tetapi mereka tidak bisa menjawab dan tidak mau memberi rincian transaksi perbankan November 2006 itu. Bahkan tetap meminta saya membayar kesalahan Rp 1 juta.
Saya tidak selalu menyimpan bukti-bukti pembayaran yang su­dah tercetak lunas di surat tagih­an yang lebih dari tiga bulan. Selain itu, saya jarang menggunakan kartu kredit Citibank. Akibatnya, saya dilempar ke sana kemari oleh Citibank yang terus meminta mencari bukti pemba­yaran BCA, padahal pihak BCA sudah tidak dapat memberi informasi yang sudah lewat dari tiga bulan.
Ironisnya, bagian Customer Service BCA mengatakan, sebelumnya ada kasus serupa yang menimpa nasabah BCA yang juga memiliki kartu kredit Citibank.
Apabila saya tidak membayar, pihak Citibank akan mengenakan bunga atas kondisi yang serba tidak jelas dan memaksa saya membayar tagihan.

E. D
Jakarta

52. Premi Asuransi MC Danamon
Kartu kredit Master suami sengaja saya tutup karena suami meninggal dunia pada tanggal 2 Februari 2007. Namun, saya sebagai ahli waris pemegang kartu Master Card (MC) Bank Danamon (nomor 5422 6003 4149 40xx) amat kecewa dengan petugas layanan call center Bank Danamon yang tidak ramah dan selalu melempar tanggung jawab jika saya bertanya kapan kelebihan pembayaran premi Asuransi Cigna yang telah dibayarkan akan dikembalikan.
Sudah sekitar tiga bulan saya bertanya kepada Bank Danamon mengenai pengembalian premi asuransi yang akan saya terima sebagai ahli waris pemegang kartu itu, tetapi selalu tidak ada tanggapan serius.
Bagi Bank Danamon, uang premi itu mungkin tidak besar, tetapi untuk saya uang itu sungguh amat besar artinya. untuk menyambung hidup.
Ternyata Bank Danamon hanya mengumbar janji-janji manis kepada nasabah.
Sebagai ahli waris, saya menagih janji yang diberikan ketika saya akan menutup kartu kredit Master Card tanggal 5 Februari 2007.
Hingga saat ini tidak pernah ada realisasi dari Bank Dana­mon. Bank Danamon pun tidak pernah memberitahukan saya mengenai penyelesaian masalah tersebut.
Kepada pemegang kartu kre­dit Master Card, khususnya da­ri Bank Danamon, agar lebih hati-hati dengan segala macam tawaran manis yang diberikan. Jangan sampai nasib yang saya alami menimpa Anda. Bagi saya sendiri jika itu bukan hak, saya tidak akan meminta Bank Danamon untuk mengembalikannya.
Namun jika Bank Danamon tidak berkehendak untuk mengembalikan, meski itu hak saya sebagai ahli waris, saya akan mengikhlaskan. Bagi saya, itu berarti Bank Danamon sudah mengambil apa yang menjadi hak anak yatim.

E. N
Sawangan, Depok

53. NU Skin dengan Kartu BII
Saya member NU Skin dan pemegang kartu kredit Bank Internasional Indonesia. Pada tanggal 3 Juli 2007 saya melakukan transaksi pembelian produk NU Skin di bus/mobil NU Skin di Mal Artha Gading, Jakarta Utara.
Ketika itu ada tawaran harga spesial apabila jumlah pembelian di atas Rp 500.000. Karena itu saya membeli sejumlah produk senilai Rp 524.000 dengan pembayaran memakai kartu kredit BII.
Ternyata pihak NU Skin menagihkan dua kali untuk transaksi pembelian itu, masing-masing sebesar Rp 524.000 dan Rp 66.000 tanpa ada pemberitahuan lewat kartu kredit BII saya. Anehnya lagi pihak BII mengotorisasi tagihan kedua tersebut sebesar Rp 66.000 yang tidak saya ketahui dan tanda tangani. Member NU Skin dan pemegang kartu kredit BII agar berhati-hati dan lebih teliti mengontrol tagihan.

M. T
Pulo Gadung, Jakarta




54. Pembobol Kredit Lippo
Saya pemegang kartu kredit Visa LippoBank (4568 7888 xxxx xxxx). LippoBank sebagai penerbit kartu kredit sampai saat ini tidak bertanggung jawab dalam menyelesaikan komplain nasabah.
Pada 28 April 2007 saya telah membayar tagihan sejumlah Rp 3 juta dan ada kelebihan pembayaran Rp 151.105 dari tagihan. Pada 3 Mei 2007 ketika saya akan menggunakan untuk pembayaran tiket pesawat, ternyata kartu kredit tidak dapat digunakan karena declined.
Kemudian saya menghubungi 14042 pukul 15.30 dan Saudara Icha menginformasikan bahwa ada pemakaian melebihi limit di sejumlah merchant toko HP, toko elektronik, toko kue, dan toko buah pada 29 April sampai de­ngan 1 Mei 2007 di Bandung.
Saya kaget karena tidak pernah menggunakan kartu kredit ter­sebut untuk pembayaran sejum­lah hal yang disebutkan itu. Ke­mudian, saya mengirim surat melalui faksimile ke (021) 83706535 pada 5 Mei 2007 pukul 09.00. Isi urat itu adalah pernyataan tidak pernah melakukan pemakaian yang disebutkan dan mohon agar diberikan kartu yang baru.
Pihak Lippo kemudian meng­informasikan bahwa surat telah diterima dan Lippobank minta waktu 40 hari kerja untuk proses investigasi. Belum mencapai 40 hari kerja, 9 Mei, saya menerima surat dari Lippobank yang isinya, "Kami telah menerima permohonan mengenai pengaktifan kartu kembali dan setelah mempertimbangkan semua data yang ada pada kami dengan sangat menyesal diberitahukan bahwa Consumer Banking Processing Center Lippobank Kantor Pusat pada saat ini belum dapat rnemenuhi permohonan tersebut".
Sangat disesalkan, mengapa Lippobank tidak menjawab isi surat bahwa saya tidak pernah menggunakan sejumlah pema­kaian di Bandung dan memblokir kartu untuk nantinya dibuatkan kartu baru.
Lalu saya mengirim surat untuk kedua kalinya pada 5 Juni 2007 berisi permohonan untuk dilakukan investigasi dan dikabarkan mengenai bobolnya kartu kredit saya.
Anehnya lagi Lippobank mengirimkan sejumlah tagihan yang bukan milik saya yang janjinya untuk diinvestigasi, dengan mengabaikan hak saya sebagai pemegang kartu kredit untuk mendapat penjelasan dan pembuktian atas tagihan-tagihan tersebut. Bahkan LippoBank meminta saya untuk memenuhi pembayaran atas sejumlah tagih­an tersebut.

M. P
Jakarta

55. Pengalaman Buruk dengan HSBC
Pada 30 Juni 2007 saya melakukan pembayaran penuh un­tuk kedua kartu kredit HSBC di HSBC Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sebesar Rp. 98.221.000 secara tunai melalui teller. Namun, alangkah terkejut ketika menerima lembar tagihan yang dicetak per 9 Juli 2007 yang mengenakan late charge sebesar Rp 612.945; dan finance charge sebesar Rp 5.465.182.
Jatuh tempo kartu tanggal 28 Juni 2007 dan, sepengetahuan saya, HSBC memberikan tenggang waktu dua hari untuk melakukan pembayaran asalkan membayar langsung di HSBC.
Padahal jika membayar lewat ATM BCA pada 28 Juni 2007, pembayaran akan diterima pada 2 Juli 2007, dan itu tidak dikenakan finance charge dan late charge. Saya sudah menghubungi Customer Service HSBC (Saudari Manda) pada 12 Juli 2007 dan saya ditelepon pada 23 Juli 2007 yang menjelaskan bahwa saya tetap hams membayar late charge dan mendapatkan diskon 50 persen untuk finance charge. Total yang harus saya bayarkan adalah Rp3.345.536.
Aneh, bank sebesar HSBC mengeruk uang nasabah dengan cara mengada-ada dan sepertinya, tak memedulikan posisi nasabahnya. Saya adalah nasabah loyal HSBC yang selalu membayar tepat waktu dengan pembayaran penuh.
Untuk nasabah kartu kredit HSBC, hati-hati dengan jebakan seperti ini dan untuk yang belum menjadi nasabah kartu kredit HSBC, sebaiknya berpikir untuk menjadi nasabah.

A. A
Cipondoh, Tangerang,

56. Bank Mega ingkar Janji
Saya pemegang kartu kredit Mega Visa (Nomor 4201 9101 8057 70xx) yang dikeluarkan April 2007. Setelah aktivasi saya konfirmasi ke bagian customer service (Saudara Lukman) yang menjelaskan bahwa saya akan menerima telepon seluler Nexian sebagai hadiah.
Saya pastikan lagi persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan hadiah itu dan dikatakan tidak ada persyaratan apa pun, tinggal menggunakan kartunya dan dalam sebulan hadiah akan dikirim. Sebulan kemudian (8/6) saya konfirmasi lagi (Sau­dara Oca), tetapi dikatakan bah­wa tidak ada hadiah apa pun, kecuali saya mau mengaplikasi kartu tambahan dan informasi yang sebelumnya adalah salah.
Penjelasan yang sulit diterima, mungkinkah ini cara Bank Mega menjaring nasabah dengah menjanjikan berbagai hadiah kemudi­an menyangkal saat ditagih? Se­telah berdebat akhirnya dijanjikan bahwa petugas customer service akan membawa masalah ini ke manajemen dalam waktu satu minggu.
Seminggu lewat tidak ada yang menghubungi dan saya konfirmasi lagi (15/6), diterima Saudari Vivin yang beralasan masalah sedang diproses dan minta waktu lagi. Setelah itu akhirnya saya dijanjikan iuran tahunan pada tahun kedua gratis. Bagaimana saya bisa yakin Bank Mega tidak akan ingkar janji lagi?

T. W
Medan Satria, Bekasi

57. Poin HSBC Hanya Mimpi
Saya pemegang kartu kredit Visa HSBC nomor 447211001812 13xx. Pada 21 Juni 2007 saya melakukan penukaran point re­ward dengan voucher Frank and Co dengan total nilai voucher Rp 360.000 dan saya mendapatkan konfirmasi oke bahwa voucher akan dikirim dalam waktu maksimal delapan minggu.
Pada 8 Juli 2007 saya menghubungi HSBC untuk mendapatkan konfirmasi kedua dan kembali dikonfirmasi oke, voucher tersedia senilai yang saya tukarkan, tetapi sedang menunggu un­tuk dikirimkan.
Untuk meyakinkan kembali, pada 15 Juli 2007 saya menghubungi HSBC dan dikonfirmasi kembali oleh HSBC agar menunggu pengiriman voucher karena sudah tersedia dan siap kirim.
Pada 23 Juli 2007 saya menghubungi kembali karena HSBC terlalu lamban dalam mengurus point reward. Telepon diterima oleh Ibu Dian, tetapi saya mendapat jawaban bahwa voucher sudah habis dan tidak tersedia lagi. la menawarkan untuk ditukar de­ngan voucher lain. Saya tidak terima karena sejak satu bulan sebelumnya sudah oke.
Saya minta dihubungkan de­ngan atasan Ibu Dian, ia menjelaskan, dijawab oleh siapa saja sama karena sudah tidak bisa tukar voucher Frank & Co. Bagaimana HSBC? Saya telah menerima beberapa kali konfirmasi oke sejak satu bulan sebelumnya, yaitu voucher sudah tersedia tinggal tunggu pengiriman, tetapi tiba-tiba voucher dikatakan habis.
Ternyata nama besar HSBC tidak menjamin dan nama besar pun tidak sesuai dengan komitmen dan integritas personel dan sistem manajemen yang diterapkan. Point Reward HSBC hanya mimpi-mimpi indah. HSBC menipu konsumen.

LS.
Penjaringan, Jakarta

58. Diskon HSBC terjebak
Saya pemegang kartu kredit HSBC (nomor 5184 9401 0110 88xx) Pada 11 Juli 2007 saya mengalami kejadian yang mengecewakan. Saat itu saya mengajak keluarga makan malam di restoran Dinar Pluit karena adanya promo disc 50 persen dari HSBC. Ternyata saat akan melakukan pembayaran dinyatakan bahwa diskon tidak berlaku untuk malam hari dan hanya berlaku pada siang hari.
Saya merasa kecewa dan tertipu karena di dalam brosur yang saya terima tidak tertulis hanya untuk makan pada siang hari. Saya juga melihat banyak pengunjung yang merasakan. ketidakpuasan yang sama. Ditambah pula penjelasan dan pelayanan pihak restoran yang kurang memuaskan. Promosi ini sangat menjebak. Saya menghimbau agar lebih hati-hati dengan promosi semacam itu.

S. P
Tangerang

59. Citibank Garuda Tidak Bermanfaat
Pada 25 Juli 2007 sekitar pukul 19.00 WIB saya menelepon Call Center Garuda untuk melakukan reservasi penerbangan tanggal 27 Juli 2007, ke Surabaya pukul 08.00 WIB. Saat itu petugas (lelaki, tidak ingat namanya) mengatakan tiket harus di-issued segera.
Saya setuju untuk issued tiket Jakarta Surabaya pergi pulang dengan menggunakan Garuda Indonesia Citibank Card yang notabene merupakan kartu kredit prioritas untuk penumpang Garuda. Saya sudah mendapatkan kode pembayaran dan kode booking.
Kemudian petugas hanya meminta saya untuk datang ke bandara tanggal 27 Juli 2007 untuk mengambil tiket. Pada hari yang ditentukan, saya ke Bandara dan berada di counter Garuda pukul 06.30 WIB. Namun, sangat mengejutkan, saya tidak mendapat kursi untuk penerbangan ke Surabaya dengan alasan tiket di-cancel karena belum melakukan pembayaran dan sudah terkena ti­me limit. Saya lalu menelepon Call Center Garuda untuk menanyakan status tiket.
Petugas call center (Ibu Rina) memberitahu, seharusnya saat menelepon call center pada 25 Juli 2007 langsung ditransfer ke bagian kredit untuk settlement kartu kredit saya. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh petugas pemesanan yang di call center saat itu sehingga saya tak melakukan settlement untuk mendapatkan tiket. Saya yakin pembicaraan terekam oleh sistem Call Center Garuda.
Tidak ada solusi untuk kesalahan itu ataupun tindak lanjut untuk penanganan masalah sehingga saya telantar tujuh jam di bandara tanpa satu pun petugas Garuda mampu menolong atau memberi solusi. Sungguh tidak ada gunanya menjadi pemegang kartu Garuda Indonesia Citibank Card, yang katanya pelanggan prioritas Garuda.
Yang lebih mengecewakan lagi, terlalu banyak oknum yang bekerja sama dengan calo di bagian tiket Garuda Bandara Soekarno-Hatta.

A. S
Pasanggrahan, Jakarta