Jumat, 04 Juni 2010

131 Contoh Kasus Kartu Kredit

Berikut ini ada 131 kasus. Mungkin lebih tepat disebut contoh kasus yang dikutip dari salah satu media massa Nasional (Kompas) dari bulan Maret sampai dengan Desember 2007 ditambah beberapa yang terbit bulan Januari 2008.
Dibagi dalam 7 bagian antara lain :
bagian a untuk contoh kasus 1 - 19 ada di halaman ini
bagian b untuk contoh kasus 20 - 39 klik disini
bagian c untuk contoh kasus 40 - 59 klik disini
bagian d untuk contoh kasus 60 - 79 klik disini
bagian e untuk contoh kasus 80 - 99 klik disini
bagian f untuk contoh kasus 100 - 120 klik disini
bagian g untuk contoh kasus 121 - 131 klik disini


1. BII Menghindari Tanggung Jawab
Sebagai nasabah Bank Internasional Indonesia (BII) Plaza Senayan Jakarta sejak 1999, saya sangat dirugikan dan ditipu oleh program Cashback February dari BII. Ceritanya, sesuai dengan janji dari marketing BII Plaza Senayan, pada akhir Januari 2007 saya dibujuk untuk mengikuti program cashback.
Bagi nasabah gold yang menabung saldo rata-rata minimal lebih dari Rp 50 juta per hari pada bulan Februari akan memperoleh cashback 50 persen dari total transaksi maksimal Rp 1 juta. Program ini juga telah diiklankan di sejumlah koran.
Karena saya percaya dengan nama besar BII, saya tertarik de­ngan program tersebut. Saya lalu memindahkan semua dana ke BII sebesar Rp 50 juta dan malah lebih dari itu selama bulan Februari. Kemudian saya melakukan tiga transaksi pada hari yang sama, 2 Februari 2007, masing-masing untuk pembayaran telepon Rp. 383.825, kartu kredit HSBC Rp 130.000, dan Citibank Rp 1,5 juta.
Seharusnya sesuai dengan iklan dan ketentuan dari BII, saya akan mendapatkan cashback sebesar 50 persen, yaitu Rp 1 juta dari akumulasi transaksi maksimal Rp 2 juta. Namun, pada kenyataannya saya hanya memperoleh cashback 50 persen untuk transaksi telepon, kartu kredit HSBC sebesar Rp 256.912, tetapi tidak untuk pembayaran Citibank. Aneh, mengapa hal ini bisa terjadi?
Saya telah menanyakan ke bagian customer service dan marketing BII Plaza Senayan pada 12 Februari 2007, dan mereka memberikan alasan yang sangat tidak profesional, yaitu ada kemungkinan transaksi dengan network system ke Citibank mengalami masalah. Mengapa hanya transaksi Citibank? Apakah dengan adanya masalah tersebut BII bisa menghindar dari tanggung jawab?

FS.
Jakarta

2. Bank Niaga Mengecewakan
Saya pemegang kartu kredit Niaga Visa Mini. Pada tanggal 2 januari 2007 saya akan membayar cicilan Cash Plus, tetapi ternyata kartu tersebut sudah tidak ada di dompet. Segera saya menghubungi Niaga di 14041 untuk memblokir kartu. Ternyata sudah ada transaksi sebesar sekitar Rp 3.000.000 di Hypermart Cibubur dan Toko Mas Olivia pada tanggal yang sama, hanya berbeda beberapa menit.
Saya segera membuat surat sanggahan atas transaksi tersebut. Dari Januari sampai dengan April ini, sebagai nasabah, saya proaktif untuk menyelesaikan masalah ini ke Niaga. Saya minta dikirimkan bukti transaksi yang dilakukan oleh "maling" tersebut. Pihak Niaga menjanjikan untuk memfaksimile, mengirim via su­rat, tetapi baru tanggal 9 April 2007 saya menerimanya.
Tujuan saya minta dikirimkan bukti tersebut agar Bank Niaga "melek", "terbuka matanya", bah­wa bukan saya yang teledor seperti yang disebut penagihnya, tetapi lebih kepada "sial". Jelas bahwa Hypermart Cibubur yang teledor. Sangat jelas tanda tangannya berbeda, mengapa ma­sih dilayani. Mengapa tidak minta KTP untuk membandingkan? Kenapa Bank Niaga masih mau diklaim oleh Hypermart & toko mas tersebut? Semuanya se­enaknya dibebankan ke saya. De­ngan alasan saya tidak melaporkan kehilangan kartu tersebut, maling itu mendahului saya.
Saya sudah telanjur kecewa terhadap Bank Niaga yang hanya janji-janji saja dalam menyelesaikan masalah ini. Tagihan transaksi tersebut masih terus dimasukkan ke tagihan saya, sementara saya merasa masalahnya masih belum fix, sementara saya dikenakan bunga terus-menerus. Dan untuk permintaan transaksi tersebut masih dikenakan biaya Rp 40.000 per transaksi. Belum lagi penagihnya dengan bahasa seenaknya mengancam dan menyebut saya dengan kata-kata yang sangat tidak enak didengar.
Siapa yang harusnya paling bertanggung jawab atas kejadian ini? Saya yang merasa sudah sial masih harus merasakan ancaman-ancaman yang sangat tidak enak. Saya minta Bank Niaga untuk tidak seenaknya memperlakukan nasabah. Saya merasa saya bukan orang yang memang mau lari seperti kasus-kasus kredit macet nasabah lain.

W. G.
Jakarta Timur

3. Teror Menakutkan Penagih ABN Amro
Saya nasabah kredit tanpa agunan (KTA) dari ABN Amro (nomor personal loan 3605695395). Pengalaman yang saya alami sangat menyeramkan dan menakutkan selama menjadi nasabah KTA ABN Amro.
Pada tanggal 9 Maret 2007 seseorang mengaku bernama Adrianus atau Raymond datang ke kantor untuk menagih utang saya di ABN Amro. Saya mengetahui orang ini cuma tukang tagih (debt collector) yang dipakai jasanya oleh ABN Amro untuk menagih utang. Sudah dijelaskan berkali-kali bahwa saya tetap akan membayar utang kepada ABN Amro dan tidak akan lari dari tanggung jawab, tetapi minta waktu karena saat ini saya sedang mengalami kesulitan keuangan.
Yang membuat saya sangat marah adalah penagih itu tidak pernah bicara secara sopan santun, malah teriak-teriak seperti orang kalap dan mengeluarkan kata-kata keras dan kasar serta kotor, seperti penipu, (maaf) tahi, dan kata-kata kotor lainnya yang membuat saya terhina dan malu karena diucapkan dihadapan orang banyak.
Penagih ini juga pernah mengancam akan meneror, menyakiti dan membunuh saya. Pernah juga sampai hampir terjadi perkelahian fisik, tetapi saya sadar bukan jalan yang baik.
Apakah seperti itu cara-cara ABN Amro untuk menagih utang nasabahnya yang sedang mengalami kesulitan? Apakah para penagih utang itu tidak dibekali etika cara yang baik? Saya bukan orang jalanan yang dapat dibentak, dihina, dan dipermalukan seenaknya oleh tukang tagih suruhan ABN Amro tersebut. Apakah ABN Amro juga memberikan mandat kepada penagih itu de­ngan segala cara untuk menagih utang bahkan kalau perlu menyakiti dan membunuh? Apakah ini bukan tindakan premanisme namanya?
ABN Amro adalah bank swasta komersial asing, bukan lembaga penegak hukum. Mohon penjelasan resmi dari ABN Amro.

T. E. H
Jakarta Timur

4. Premanisme ala ANZ Card
Sudah banyak kita dengar aksi teror dari petugas debt collector kartu kredit. Anehnya, justru dialami oleh orang yang bukan si pemegang kartu kredit. Ayah saya, H Djumadi (eks pemegang kartu kredit ANZ), sudah menyerahkan segala urusan ANZ Card kepada Bapak Sukamto (kakak ipar saya) untuk menyelesaikan.
Walaupun semua nomor telepon yang bisa dihubungi sudah diberikan, alamat penagihan jelas, tidak pindah-pindah, kenapa masih saya saja yang ditelepon, hanya karena kebetulan nama sa­ya dicantumkan sebagai emer­gency contact person. Saya tidak punya urusan dengan ANZ, sudah punya keluarga sendiri. Tidak tinggal dengan orang tua lagi. Kenyataannya, pihak bank sering kali masih bisa menghubungi Ba­pak Sukamto.
Telepon sehari dua tiga kali (seperti minum obat), setengah sepuluh malam apakah itu yang namanya minta bantuan? Orang bemama Yoser mungkin memang masih perlu diberi pelajaran etika lagi untuk lebih bisa bersikap sopan.
Setahu saya, orang yang dicantumkan sebagai emergency contact person hanya berlaku se­bagai bantuan untuk menyampaikan pesan, bukan untuk diminta pertanggungjawaban. Apakah memang ini cara kerja para debt collector ANZ Card, jalan pintas?

S. W. H
Ciputat

5. Tukang Tagih BNI Brutal
Saya pemilik kartu kredit BNI yang melakukan pembayaran dan masih kurang Rp 100.000, tetapi keesokan harinya petugas yang mengaku dari BNI menelepon saya di kantor menagih sisanya. Saya sudah menyanggupi untuk membayar sisanya hari itu juga, tetapi tidak ada dua jam kemudian pihak BNI menelepon kembali ke rumah saya dan saat itu adik saya yang mengangkat.
Petugas dari BNI tersebut berbicara menggunakan kata-kata kasar serta kotor yang tidak pantas diucapkan dan tidak enak didengar, kemudian orang ter­sebut juga menyumpahi anak sa­ya mati dan keluarga saya bangsat dan mati saja semuanya.
Pada saat itu petugas yang mengaku dari BNI tidak berani menyebut identitasnya. Masalah ini saya sudah laporkan ke BNI kantor pusat dan saya juga sudah mengirim surat klaim kepada pi­hak BNI. Dijanjikan akan menemukan orang yang tidak sopan itu, tetapi sampai sekarang ternyata hanya janji palsu karena setelah berbulan-bulan menunggu janji itu tidak dipenuhi.
Saya sudah menegaskan ke­pada pihak BNI yang waktu itu menangani kasus (Bapak Handi), yaitu saya tidak akan melakukan pembayaran sebelum orang yang berkata kasar itu belum dipertemukan dan meminta maaf ke­pada keluarga saya.
Namun, petugas penagih dari BNI masih saja setiap hari me­nelepon saya, baik di kantor maupun di rumah. Mulanya saya ma­sih bersabar menerima telepon, tetapi sekarang kesabaran sudah habis karena debt collector BNI sudah di luar batas kesopanan, yaitu setiap pagi menelepon ke kantor dan mencaci maki orang kantor saya dengan kata-kata yang semakin kasar dan kotor.
Petugas yang meneror orang kantor saya itu bernama Nico. Saya memiliki rekaman percakapan debt collector BNI yang berbicara kasar tersebut.

AN.
Jakarta Utara

6. Penagih ANZ Card Pengecut
Saya adalah korban keteledoran dari ANZ Card dan kebobrokan mental seseorang yang bernama Merry. Hampir setahun terakhir ini saya diteror dengan puluhan kali telepon yang mengaku, dari ANZ Card. Bapak-bapak petugas tersebut mencari orang jang bernama Ibu Lili Dewi atau Bapak David Limaran, yang beralamat rumah dan bernomor te­lepon seperti yang saya miliki sejak tahun 2003 hingga saat ini. Kedua orang itu dijadikan sebagai contact person emergency call oleh anaknya yang bernama Merry dalam mengajukan kartu kredit ANZ pada tahun 2005. Berulang kali telah saya jawab semua pertanyaan petugas de­ngan jujur dan sudah dijelaskan bahwa tidak mengenal orang-orang yang dicari tersebut. Namun, para petugas ANZ tak percaya.
Puncaknya, pada 16 April 2007 sekitar pukul 14.30 WIB, seorang bapak yang mengaku dari bagian hukum ANZ menelepon saya, yang intinya apabila Saudari Merry tidak mau beritikad baik untuk melunasi utang-utang keempat kartu kreditnya yang berjumlah puluhan juta, saya akan kena imbasnya, yaitu semua data yang berhubungan dengan alamat rumah saya akan di black list diperbankan. Dengan demikian, tidak mungkin saya dan keluarga bisa mengajukan berbagai macam kredit di bank mana pun.
Semudah itukah sebuah card center melakukan black list korban tanpa melakukan cross check kebenarannya? Cukupkah hanya melalui pembicaraan lewat telepon ANZ bisa memvonis seseorang? Sampai saat ini belum ada petugas dari ANZ yang datang ke rumah untuk mengklarifikasi permasalahan.
Mereka pengecut yang hanya berani melakukan teror lewat ter lepon dan mengganggu jam-jam istirahat.

CR.
Jakarta Barat

7. Pemaksaan ala ABN Amro
Saya pemegang kartu kredit ABN Amro sejak bulan Februari 2007 dan memutuskan untuk tidak memperpanjang kartu kredit ABN Amro. Pada lembar tagihan per 1 Februari 2007 terdapat total tagihan sebesar Rp 10.290,684, di dalamnya termasuk iuran tahunan sebesar Rp 300.000.
Pada tanggal 5 Februari 2007 saya membayar sebesar Rp 9.998.500. Rinciannya adalah Rp 10.290.684 dikurangi Rp 300.000 (iuran tahunan ditambah biaya transfer ATM BCA sebesar Rp 7.500). Namun, setelah saya melakuan konfirmasi untuk menutup rekening lewat telepon ke 1ayanan phone banking 24 jam di nomor 622127586777, bahkan saya telah berusaha untuk menyelesaikan masalah ini secara baik-baik dengan mendatangi ABN Amro di Jalan Juanda, Jakarta, tanggal 16 Februari 2007, ternyata saya dipersulit dengan alasan iuran tahunan tersebut tetap harus dibayarkan. Hal ini bertentangan dengan keterangan beberapa penerbit kartu kredit yang lain, dimana iuran tahunan tersebut seharusnya dapat koreksi.
Pada tanggal 9 Maret 2007 datang lagi lembar tagihan baru per 1 Maret 2007, di mana terdapat tagihan baru sebesar Rp 480.836 (terdapat interest/ biaya bunga sebesar Rp. 175.152). Apakah demikian cara ABN Amro (bank Asing dari Belanda) dalam mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan memaksa untuk membayar iuran tahunan setahun ke depan, padahal saya sudah tidak mau mempergunakannya lagi? .

C. O.
Jakarta

8. Bank yang Tidak Pernah Menepati Janji
Tanggal 2 Maret 2007, saya mendapat kartu kredit gold dari Bank Buana dengan limit yang diberikan hanya Rp 3 juta. Pada 3 - 10 Maret saya sering menelepon ke Bank Buana Jakarta meminta klarifikasi, tetapi tidak pernah ada kejelasan. Pada 10 Maret melalui anak saya di Ban­dung, saya meminta klarifikasi kepada Bank Buana Bandung Cabang Sudirman. Namun, juga tidak ada jawaban.
Pada 16 Maret, iuran tahunan saya bayar meski masalah belum selesai dengan pertimbangan ada itikad baik dari Bank Buana, dan daripada nantinya bermasalah. Pada 20 Maret, saya minta klarifikasi ke Bank Buana Ban­dung, dan baru dinyatakan limit tetap Rp 3 juta.
Namun, limit tidak sesuai kenyataan. Kalau memang hanya Rp 3 juta, lebih baik saya diberi silver saja, jangan langsung gold. Privilege tidak ada, iuran tinggi, dan jam tangan juga tidak sesuai. Bank Buana Jakarta menyatakan, jam tangan tipe laki-laki masih ada dan akan dikirim. Namun, Bank Buana Bandung menyatakan jam tangan akan di­berikan sesuai jender. Dalam brosur tidak ada klausul tentang hal tersebut. Pada awal penawaran dinyatakan, saya bebas memilih jam tangan tipe laki-laki.
Saya ingin limit sesuai pernyataan dalam brosur (untuk gold minimum Rp 7 juta) berdasarkan pertimbangan iuran yang tinggi dan tidak ada privilege. Pada 12 April, Bank Buana Jakarta mengklarifikasi tidak bisa mengirim jam tangan karena tidak ada kurir (apa tidak ada pos, paket lain?). Namun, pihak Bank Buana Bandung mengkla­rifikasi, jam tangan sedang da­lam pengiriman. Siapa yang benar?
Secara tiba-tiba, Bank Buana dengan sepihak memblokir kartu saya, padahal iuran tahunan sudah dibayar. Namun, Bank Buana selalu menyatakan anak saya yang minta menutup kartu tersebut, padahal kenyataannya tidak demikian. Jika memang hendak ditutup, seharusnya Bank Buana mengonfirmasi langsung kepada saya.
Pada 14 April anak saya kembali minta klarifikasi dan Bank Buana Bandung menyatakan iuran yang telah dibayarkan akan dikembalikan. Namun, hingga detik ini uang belum juga dikembalikan. Bank Buana Ja­karta menyatakan, uang telah dikreditkan, padahal uang belum saya terima. Bank Buana Bandung dan anak saya mengetahui tidak ada pengkreditan uang dari mana pun.
Bank Buana Bandung memberi usul lebih baik kartu tetap apa adanya, dan tiga bulan kemudian limit pasti akan dinaikkan. Coba dipikirkan, kartu saja diblokir, janji dalam brosur permohonan tidak ditepati, apa bisa menjamin limit dinaikkan?
Daripada diperpanjang, saya memutuskan menerima usul Bank Buana Bandung, tetapi Respons buruk muncul Anak saya dituduh pemalsu tanda tangan, padahal saya mendandatangani sendiri formulir pembukaan blokir yang dikirimkan. Anehnya lagi, Bank Buana selalu mengulur waktu dengan dalih minta billing (bon) tagihan. Padahal, hingga detik ini tidak pernah ada billing yang sampai ke tangan saya Saya hanya minta penjelasan dari Bank Buana secara langsung.

Y. G
Bandung



9. Dipermalukan BCA Card
Saya nasabah kartu kredit BCA. Ada tiga kartu yang saya miliki masing-masing BCA Card, BCA Visa, dan BCA Master (Tasma­nia). Semua kartu tidak ada masalah, baik masa berlaku maupun tunggakan. Namun, saya dikecewakan dan dipermalukan oleh BCA Card.
Kejadiannya, pada hari Sabtu (7/4/2007) sekitar pukul 15.00, saya dan keluarga berencana nonton film Nagabonar 2, di Puri 21, Jakarta Barat. Setelah mengantre sekitar 45 menit, tiba giliran membeli tiket masuk dan saya minta dua tiket serta akan mendapat dua tiket (buy 1 for I).
Saya terkejut saat kasir mengatakan kartu diblokir. Saya minta agar kasir mengulang sampai tiga kali, tetapi jawaban di mesin tetap sama, tidak dapat digunakan. Disaksikan puluhan bahkan ratusan pengunjung, saya malu dan kecewa hingga akhirnya saya pergi ke ATM BCA mengambil uang tunai lalu membeli di kasir yang khusus tunai. Setelah itu saya komplain ke BCA Card Center sebanyak dua kali, tetapi jawabannya sama, kartu tidak bermasalah dan akan dicatat tanpa ada janji penyelesaian.
Ketika ditanyakan ke kasir di Puri 21, jawabannya BCA Card memang sering begitu dan entah saya korban ke berapa. Keesokannya, saya dan keluarga menonton di Plaza EX, Jakarta, dan sebelum transaksi saya telepon costumer service BCA Card untuk memastikan saya akan menggunakan BCA Card untuk transaksi di Pla­za EX 21 dan memang berhasil. Saya dipermalukan dan dikecewakan di depan orang banyak, bagaimana kredibilitas BCA?

S. A. S
Jalan Kebon Jeruk, Jakarta

10. Prudential Danamon Sangat Kaku
Sebagai pemegang kartu Prudential Visa Gold Bank Danamon (4512 8610 004110xx) pada tanggal 8 Februari 2007 saya mendapat SMS dari Bank Danamon yang isinya: "Bunga hanya 0,88 persen per bulan. Gunakan kartu kredit Visa Pru­dential Anda untuk bertransaksi di mana pun dan ubah ke cicilan selama Februari 2007 Hub Dac 6777."
Keesokan harinya (9 Februari 2007) saya melunasi sisa tagihan kartu dan bicara dengan customer service (Ibu Zena) tentang pelunasan tersebut agar langsung dapat dipakai di Rumah Sakit Pertamina, Ja­karta, dengan cicilan 0,88 per­sen.
Kemudian Ibu Zena membantu mempercepat posting si­sa tagihan dan berkata: "Setelah saya bertransaksi Rp 5,5 juta di RS Pertamina dapat kembali mengonfirmasi cicilannya."
Pada tanggal 10 Februari 2007 via telepon saya mengajukan cicilan, tetapi menurut petugas customer service, data belum ter-posting dan harus tunggu hingga 12 Februari 2007. Pada tanggal yang dijanjikan kembali dijelaskan data belum ter-posting. Bahkan, sampai tanggal 13 Februari 2007 saya mendapat jawaban yang sama.
Yang lebih mengecewakan lagi bahkan dikatakan saya tidak termasuk dalam daftar yang mendapat cicilan 0,88 persen. Petugas customer service (Ibu Andin) bahkan meminta saya membacakan SMS yang dikirimkan ke handphone saya kata demi kata. Saya melakukannya.
Saya diminta telepon kembali 14 Februari 2007. Namun, Saya sempat marah karena tanggal 14 Februari 2007 tagihan tercetak.
Pada tanggal 14 Februari 2007 oleh customer service (Ibu Dena) saya diberitahukan: "Terima kasih ibu, kami telah mengecek data, dan ibu ter­masuk dalam daftar yang mendapatkan cicilan 0,88 persen. Tetapi kartu sudah tercetak hari ini 14 Februari 2007 dan sudah terlambat untuk mendapatkan cicilan 0,88 persen. Saya sangat kecewa mendengarnya.
Kartu kredit Prudential Visa Danamon terlihat hanya mengulur-ullur waktu. Jelas dalam SMS disebutkan transaksi selama bulan Februari 2007, sedangkan transaksi saya tanggal 9 Februari 2007.
Visa Prudential Bank Danamon tidak konsisten dan tidak profesional, bahkan terkesan sangat kaku.

l. L. s
Kebayoran Lama, Jakarta

11. Korban Salah Teror HSBC
Suami saya membeli sebuah rumah bekas di Perumahan Pondok Lestari, Ciledug, Tangerang. Rumah dimaksud pernah difungsikan sebagai kantor oleh pemilik sebelumnya, dan memiliki salah seorang karyawan bernama Charles Rantinus yang kreditor Bank HSBC.
HSBC meneror keluarga saya sudah selama lebih dari enam bulan sejak rumah ini ditempati.
Saya muak, bosan, dan marah dengan kata-kata HSBC yang tidak profesional dan kampungan. Teror via telepon selama enam bulan tersebut sudah bisa mencapai lebih dari 20 kali telepon.
Saya sudah mencoba komplain ke call centre HSBC, beberapa kali direspons seadanya, bahkan saat saya coba menjelaskan, pernah telepon ditutup begitu saja oleh pihak HSBC. Akhirnya dengan susah payah HSBC baru memberi tahu bahwa komplain saya tidak bisa diproses jika tidak mengetahui nomor KTA (kredit tanpa agunan) Saudara Charles. Oleh sebab itu, sewaktu debt collector menelepon lagi, saya menanyakan nomor KTA tersebut dan yang ujung-ujungnya malah saya dimarahi.
Akhirnya setelah beberapa kali meminta kepada debt collector yang berbedabeda, saya mendapatkan nomor KTA. Maka, saya langsung menelepon HSBC un­tuk komplain yang kesekian kalinya dengan berbekalkan nomor KTA tersebut. HSBC menyatakan akan menindaklanjuti. Keesokan: hariya ada petugas HSBC yang datang. Seperti biasa, saya men­jelaskan dan memberi tahu alamat kantor pemilik sebelumnya.
Teror telepon akhirnya berhenti. Nomor KTA yang saya pegang saya buang karena berpikir masalahnya sudah selesai. Tapi, ternyata dua bulan kemudian teror HSBC berlanjut kembali. Te­ror terakhir via telepon tanggal 6 Maret 2007 sore, seorang pria dari bagian penagihan berbohong mengaku dari keluarga Charles menginterogasi saya, memaksa saya mengaku bahwa saya ber­bohong, hingga menyuruh saya berlutut.
Apakah HSBC mempekerjakan orang yang tidak punya etika? Keesokan harinya debt collector datang dengan orang yang berbeda, yaitu Franky dari Dedisindo, mitra HSBC. Sudah jelas . rumah saya bukan kantor, dan bisa dilihat sendiri bahwa Charles tidak ada.
Saya menuntut penjelasan dan permohonan maaf dari HSBC Sa­ya tidak akan mencabut telepon di rumah saya karena itu adalah hak saya.

CHR.
Ciledug, Tangerang


12. Jebakan " One Bill Citibank”
Saya pemegang kartu kredit .Citibank Choice Card (no 4541 7910 5104 6xxx) sejak Desember 2006. Karena luluh oleh tawaran yang demikian gencar dari petugas customer Service yang menelepon saya sampai tiga kali, akhirnya saya bersedia menggunakan fasilitas one bill dari Citibank untuk membayarkan tagihan Matrix. Namun setelah dua bulan, bukan kemudahan yang saya terima seperti yang dipromosikan Citibank melainkan masalah demi masalah.
Masalah muncul saat saya menerima tagihan untuk April 2007, yaitu tagihan untuk pembayaran Matrix dua bulan sekaligus. Dari lembar tagihan terlihat untuk tagihan Matrix Maret 2007 didebet Citibank pada 9 Maret 2007, setelah tanggal cetak, tanggal 5 setiap bulan, sehingga jatuh temponya menjadi tanggal 20 bulan berikut (bulan April). Namun secara mengejutkan untuk tagihan Matrix April 2007 Citibank mendebet tepat pada saat tanggal cetak (5 April) sehingga jatuh temponya 20 April menyatu dengan tagihan Matrix bulan Maret.
Saya menghubungi Citiphone Banking Citibank (19/4), tetapi jawabannya terkesan Citibank "cuci tangan" atas masalah ini dan menyalahkan Indosat (provider Matrix) karena yang mendebet langsung adalah Indosat. Jawaban tak masuk akal itu saya konfirmasikan kepada Indosat dan diperoleh jawaban, yang mendebet adalah Citibank Indosat hanya menyerahkan berkas kepada Citibank pada tanggal 4 - 9 setiap bulan.
Tak peduli mana yang benar, yang jelas saya dirugikan. Saya hanya mendaftarkan tagihan Matrix untuk dimasukkan program one bill. Bagaimana jika saya juga mendaftarkan untuk tagihan listrik air. dan layanan TV berlangganan. Berapa besar tagihannya jika diakumulasi untuk dua bulan pemakaian?

A. G.
Depok

13. Biaya Tarik Tunai Kartu SC
Saya pemegang kartu kredit gold Standard Chartered Bank (SC) sejak tahun 2003. Selama ini saya merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Sampai kemudian saya merasa sangat kecewa.
Hal yang membuat saya sangat marah dan kecewa adalah saat melakukan transaksi ambil dana tunai dari kartu kredit SC, dengan ketentuan yang tertulis biaya penarikan tunai sebesar 4 persen atau minimum Rp 50.000 bergantung pada mana yang lebih tinggi. Namun, kenyataannya adalah saya dikenakan biaya sebesar 10 persen.
Pada 21 Maret 2007 pukul 13.55 WIB saya tarik tunai sebe­sar Rp 1.500.000 dari BCA, dengan tiga kali tarikan tunai. No­minal tunai yang tertera di mesin ATM BCA untuk SC adalah maksimum Rp 500.000. Pada saat saya menginput nominal lain sebesar Rp 1.500.000, kartu secara otomatis keluar dari mesin ATM dan transaksi dibatalkan. Setelah mencoba berkali-kali tetap seperti itu. Akhirnya saya memilih tarik tunai tiga kali dengan nominal masing-masing Rp. 500.000.
Kemudian tanggal 30 Marat 2007 di BCA Pontianak, saya melakukan tarik tunai sebesar Rp, 1.000.000. Bertolak dengan ketentuan 4 persen atau Rp 50.000 sebagai biaya administrasi penarikan tunai, seharusnya saya hanya dikenakan biaya administrasi se­besar Rp 60.000 dan Rp 50.000 sehingga total Rp 110.000. Namun, saat menerima laporan keuangan kartu kredit, saya sangat terkejut karena dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 50.000 dikali lima kali dengan total Rp 250.000. Artinya, biaya administrasi penarikan tunai adalah 10 persen dan bukan 4 persen.

S. S.
Tangerang

14. Dipermalukan Kartu Kredit BNI
Saya nasabah kartu kredit; Bank BNI (No 4105 0400 0052 26xxVisa) sejak tahun 2000 dan kartu Master sejak tahun 2005. Seperti biasa, setiap akhir bulan saya melakukan pembayaran atas pemakaian kartu itu. Tanggal 27 April 2007, saya melakukan pembayaran sebesar Rp 1.106.500 untuk kartu Visa di Bank BNI Jalan MH Thamrin, Jakarta.
Pada tanggal 30 April 2007, saya melakukan pembelanjaan di Carrefour Ratu Plaza, Jakarta, sekitar pukul 22.00 sebesar Rp 817.000. Sebelum melakukan pembelanjaan dengan menggunakan kartu kredit BNI, saya selalu melakukan cek dana yang tersedia melalui sms BNI. Ternyata transaksi tersebut ditolak mesin EDC pembayaran Carrefour Ratu Plaza Padahal, dana yang tersedia masih mencukupi untuk mela­kukan pembayaran senilai itu.
Saya menghubungi call center BNI (021) 57899999 dan mendapat jawaban bahwa kar­tu .terblokir karena kartu Mas­ter belum dibayar. Padahal, tanggal jatuh tempo pembayar­an kartu Master adalah 5 Mei 2007 dan memang belum di­bayar karena belum jatuh tem­po.
Pada bulan-bulan sebelumnya, masalah itu tidak pernah terjadi. Atas kejadian tersebut saya bersama suami dan anak-anak merasa dirugikan dan dipermalukan di depan kasir dan supervisor Carrefour Ratu Plaza, Apakah sistem kartu kredit " BNI tahun 2007 seperti ini?

Y. S
Jakarta


15. Penutupan Kartu Citibank
Saya pemegang kartu kredft Citibank Clearcard (No 4541 7900 9034 xxxx). Sampai saat ini merasa dikecewakan Citibank Pada bulan Mei 2006, melalui telepon dengan customer service Citibank, saya meminta untuk menutup Citibank Clear Card saya dan statusnya telah saya lunasi.
Menurut petugas Citibank, saya tidak perlu mengirimkan kembali kartu kredit yang telah saya gunting tersebut. Petugas Citibank menginformasikan per telepon bahwa per tanggal hari itu status Citibank Clear Card saya sudah resmi ditutup.
Tiba-tiba setelah tujuh bulan saya tutup kartu tersebut, pada bulan Januari 2007, saya dihubungi Citibank karena ada kelebihan pemakaian pada Citibank Visa Gold (No 4541 7800 1361 xxxx).
Tanpa meminta persetujuan saya terlebih dahulu, pihak Citibank dengan leluasanya memindahkan kelebihan pemakaian tersebut ke Citibank Clear Card yang telah saya tutup sejak tujuh bulan sebelumnya.
Saya masih selalu mendapat kiriman tagihan untuk kartu tersebut, sms, dan telepon untuk meminta saya melunasinya. Di setiap kesempatan telepon dengan petugas Citibank, saya selalu menjelaskan duduk persoalan tersebut Namun, tampaknya pihak Citibank masih belum juga mengerti bahwa kartu kredit yang sudah ditutup tidak sepatutnya bisa diaktifkan kembali tanpa seizin pemegangnya. Untuk itu kiranya pihak Citibank dapat segera menyelesaikan permasalahan ini.

SA.
Pasar Minggu, Jakarta

16. Terjebak dengan Kartu HSBC
Saya pemegang kartu Visa gold HSBC (4472 1100 1859 82xx) sejak tahun 2002. Saya merasa kecewa dengan perlakuan petugas HSBC (Saudara "M"). Selama ini saya tidak ada masalah dengan pembayaran serta datangnya tagihan setiap bulan, tetapi semua berubah sejak awal 2007.
Kejadian berawal dari tidak da­tangnya tagihan bulan Februari 2007 Terakhir saya membayar tagihan bulan Januari 2007. Saya dihubungi untuk membayar tagihan bulan Februari 2007. Saya mengatakan bahwa saya tidak menerima tagihan, jadi minta di faksimile tagihan dimaksud.
Ternyata tagihan Februari 2007 mencakup pemakaian bu­lan Januari 2007 yang telah saya bayar berikut finance charge dan late charge. Karena tidak merasa lalai membayar, saya bersikeras bahwa tagihan telah dibayar.
Tetapi petugas HSBC terus menerus meneror saya membentak-bentak harus dengarkan pernyataannya, seolah-olah saya buronan kelas kakap dengan penggelapan yang berjumlah Rp 846.133. Petugas HSBC meneror dengan menelepon ke rumah, kantor, dan hand phone. Petugas HSBC menyudutkan seolah-olah saya tidak membayar tagihan yang datang dan akan mengirimkan petugas ke tempat saya tinggal.
Tagihan bulan Maret 2007 kembali tidak datang, dan setelah saya minta faksimile tagihan yang tertera merupakan pemakaian Januari plus Februari 2007 ber­ikut denda yang berlipat menjadi dua bulan, serta annual fee. Akhirnya tagihan tersebut saya bayar pada tanggal 4 April 2007 karena tidak ingin ada masalah, tetapi saya menyatakan berhenti sebagai pemegang kartu Visa HSBC dan meminta annual fee dihapuskan.
Saya berpikir masalah telah selesai dengan dibayarkannya ta­gihan tersebut. Ternyata pada tanggal 10 Mei 2007 kembali saya menerima telepon dari saudara "M" yang mengharuskan saya membayar tagihan Rp 800.000 lebih.
Saya benar-benar tidak mengerti dengan sistem kerja di HSBC yang konon kabarnya bank dengan skala mendunia. Apakah ka­rena persaingan yang begitu ketat sehingga saya yang telah kecewa tidak diizinkan untuk berhenti sebagai pemegang kartu kredit dan berusaha memeras saya un­tuk melakukan pembayaran berulang-ulang untuk tagihan yang sama?
Sejak diteror, saya telah menyingkirkan kartu kredit itu dan tak pernah memakainya. Apabila saya tidak berniat baik, tentu akan terus menggunakannya dan tidak membayar. Hati-hati de­ngan tawaran menggiurkan HSBC untuk pemegang kartu kredit baru di mal-mal. Jangan sampai terjebak seperti saya.

A. M
Sukabumi

17. Arogansi Petugas Bank Permata
Saya pemegang kartu Kredit Bank Permata (4546 3310 0137 34xx) mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan, arogan, dan tidak professional dari petugas kartu kredit Bank Permata melalui telepon kepada keluarga di rumah pada saat saya di kantor. Dengan kata-kata yang tidak pantas, kasar, dan penuh ancaman, namun saat ditanya nama dan identitasnya, ia selalu menghindar dan yang bersangkutan menggunakan telepon (021-7452839 dan 021-7452843) dilakukan pada hari Jumat, 27 April 2007 sekitar pukul 14.00 - 15.00.
Kemudian diulangi pada hari Rabu, 2 Mei 2007 sekitar pukul 09.13 dari nomor telepon yang sama. Padahal permasalahan tersebut sebelumnya telah ada kesepakatan dengan petugas (Saudara Boy Aris, telepon 0217455858 eks 07513 dan telepon seluler 0815 8036474), saya telah melakukan cicilan pembayaran via Bank Permata Perdatam, Jakarta Selatan sebesar Rp 540.000.
Sebagai nasabah pemegang kartu kredit bank papan atas di negeri ini, kredibilitas saya cukup baik dalam 10 tahun terakhir. Mohon perhatian manajemen Bank Permata agar masalah tersebut dapat segera diselesaikan karena tidak pan­tas sekelas Bank Permata mempekerjakan staf seperti preman.

YY.
Depok

18. Pendapatan Citibank dari Nasabah
Pada tanggal 5 dan 6 Februari 2007, saya menikmati layanan lounge gratis yang disediakan oleh Citibank, masing-masing di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan Bandara Juanda, Surabaya. Pada tanggal 14 Februari 2007, per telepon saya meminta pihak Citibank menutup kartu saya karena beberapa hal. Lalu, pada tanggal 26 Februari 2007 seperti biasa lembar penagihan dikirimkan, tertera transaksi penggunaan fasilitas gratis terse­but dengan nilai Rp 1 yang ke­mudian dinihilkan.
Saya dengan tenang yakin bah­wa keanggotaan saya menjadi nasabah kartu kredit Citibank sudah berakhir, ditambah adanya surat pembatalan dari Citibank bahwa keanggotaan kartu saya sudah selesai. Ternyata selang dua bulan kemudian, kolektor teror Citibank menelepon dan menyatakan bahwa saya masih punya utang yang belum dibayar, termasuk denda dan bunga.
Alangkah terkejutnya saya, ternyata pada tanggal 26 Maret 2007 Citibank mengeluarkan lagi lembar penagihan yang menyatakan bahwa transaksi tanggal 5 dan 6 Februari 2007 dikenai biaya sebesar Rp 50.000 setiap kali tran­saksi (yang katanya sudah berlaku sejak 1 Februari 2007). Sebelumnya, saya sudah yakin bahwa sudah tidak ada utang lagi dengan Citibank. Dengan terpaksa saya lunasi lembar tagihan tersebut karena takut para pegawai Citibank kurang duit untuk membayar gaji sehingga para peneror akan segera bekerja dengan gaya lapar.

M. T
Larangan, Tangerang


19. Kartu Kredit SC Bermasalah
Pada bulan Juni 2005 saya mengajukan aplikasi permohonan kartu "kredit Standard Char­tered (SC). Beberapa minggu se­telah itu saya menerima telepon dari SC yang menginformasikan aplikasi kartu kredit disetujui dan kartu dalam proses pengiriman. Ternyata .kartu yang dijanjikan tidak pernah saya terima. Saat itu saya tidak ambil pusing
karena tidak terlalu membutuhkan kartu tersebut, tetapi saat saya mengajukan kredit di bank lain, setelah kredit disetujui saya diinformasikan oleh bank tersebut (11 Mei 2007) bahwa saya memiliki tunggakan di Standard Cartered Bank. Status kartu kredit saya macet sehingga diselesaikan terlebih dahulu. parahnya lagi status macet kredit itu telah tercatat di Bank Indonesia.
Saya sangat terkejut. Bagaimana mungkin saya yang tidak pernah menerima apalagi memakai kartu kredit itu dianggap memiliki tunggakan? Bagaimana mungkin saya yang tidak per ditelepon oleh pihak SC mengenai masalah tagihan dituduh memiliki tunggakan? Satu-satunya telepon dari SC yang pernah saya terima adalah akhir tahun 2005 yang menanyakan, apakah: menerima kartu kredit Standard Chartered?
Saya jelaskan bahwa belum pernah menerima kartu tersebut, dan saya kemudian disarankan untuk menghubungi customer service. Setelah itu tidak pernah lagi saya menerima te­lepon dari SC. Kecurigaan pertama saya adalah kartu telah disalahgunakan oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab.
Saya kemudian langsung mememutuskan untuk menghubungi SC sebagai pihak yang menerbitkan kartu kredit tersebut. Se­telah berkali-kali menelepon dan berkali-kali ditransfer, pihak SC memutuskan untuk membuat memo dan akan memproses keluhan saya dalam waktu 7-14 hari.
Buat saya waktu proses itu terlalu lama, mengingat kerugian moral yang menimpa saya se­bagai nasabah sehingga berujung pada masuknya nama saya pada daftar hitam Bank Indonesia. Saya tidak habis pikir mengapa bank berskala internasional, seperti Standard Chartered, dapat membuat kekeliruan dan tidak tanggap dalam menanggapi masalah. Keluhan yang saya ajukan tidak ditanggapi secara cepat dan tuntas dan terkesan kasus yang muncul disepelekan.

V. Y
Kebayoran Lama, Jakarta