Jumat, 04 Juni 2010

121. Tagihan Kartu BCA Bermasalah
Sebagai nasabah kartu kredit BCA (nomor kartu: 1025 6007 2066 xxxx) pada 28 Oktober 2007 seperti biasa saya menerima rekening tagihan bulanan. Namun, alangkah kagetnya saya ketika melihat ada transaksi pembayaran premi asuransi sebesar Rp 785.000 dari PT Sun Life Asu­ransi yang tidak pernah saya ketahui dan lakukan. Memang saya sering ditelepon oleh agen-agen asuransi yang memperoleh data-data saya dari pihak bank yang telah menerbitkan kartu kredit saya, tetapi selalu saya tolak.
Kemudian pada 30 Oktober saya datang ke BCA Pusat di Jalan Ahmad Yani, Makassar, untuk menanyakan hal tersebut. Yang mengherankan, setelah mengisi formulir komplain, saya dikenai biaya Rp 50.000 yang akan dibebankan ke kartu kredit sebagai biaya untuk meminta bukti tran­saksi dari PT Sun Life Asuransi.
Setelah menunggu selama dua minggu sesuai perjanjian dengan layanan pelanggan BCA, pada tanggal 12 November 2007 saya menelepon dan mendapat jawaban masih belum ada jawaban dari kantor pusat BCA di Jakarta.
Pada 19 November 2007 saya menelepon kembali dan temyata belum ada jawaban. Kemudian saya meminta alamat PT Sun Life Asuransi Cabang Makassar untuk konfirmasi sendiri, tetapi petugas layanan pelanggan BCA meminta bersabar dan percaya pada proses yang telah dilakukan. Saya sudah bertanya ke bagian penerangan Telkom 108, tetapi nomor telepon PT Sun Life Asuransi Cabang Makassar sudah tidak terdaftar lagi.
Bagaimana saya bisa percaya telah mengetahui bahwa BCA yang telah saya percayai, begitu mudah membebankan biaya transaksi tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada saya? Hingga saat ini saya masih menunggu penjelasan dan itikad baik dari pihak BCA.

A. M
Makassar


122. Nama di Kartu Kredit BRI
Sekitar tiga bulan lalu aplikasi kartu kredit BRI Master Card saya disetujui. Kartu baru dikirim ke alamat kantor. Setelah saya cermati ternyata nama saya yang tercantum pada kartu tercetak salah, tidak sesuai dengan nama yang saya berikan pada saat mengajukan aplikasi. Untuk mengantisipasi masalah di kemudian hari, saya menghubungi Call BRI untuk meminta kartu diganti dan diperbaiki.
Menurut petugas layanan pelanggan, kartu dapat diganti tetapi pemegang kartu dibebankan biaya sebesar Rp 25.000. Saya menyetujui walaupun agak kurang menerima karena kesalahan bukan dari pemegang kartu.
Ketika membaca syarat dan ketentuan pada account sta­tement yang saya terima pada September 2007, salah satu klausulnya menyebutkan bahwa biaya penggantian kartu hanya dibebankan jika terjadi kehilangan atau kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan pe­megang kartu.
Saya kembali menghubungi Call BRI. Oleh petugas layanan pelanggan dikatakan bahwa sa­ya sudah menyetujui pembebanan biaya pergantian kartu, padahal sebenarnya saya boleh tidak membayar biaya penggantian kartu tersebut.
Saya lalu komplain karena pernyataannya yang terakhir tidak ditawarkan oleh petugas layanan pelanggan yang pertama kali saya hubungi. Akhirnya petugas layanan pelanggan kedua ini menjanjikan permasalahan saya akan ditindaklanjuti paling lama tujuh hari kerja agar tidak terkena biaya keterlambatan.
Namun, kembali saya dikejutkan pada saat menerima ac­count statement Oktober 2007 yang tertera tagihan bulan lalu Rp 25.000 dan biaya late char­ges plus interest sebesar Rp 25.733. Ternyata permasalahan saya belum tuntas.
Sungguh mengherankan Bank BRI yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai bank nasional terbaik di negeri ini memiliki standar mutu pelayanan yang rendah alias tidak profesional. Meskipun nama pada kartu saya telah diganti, nama pada account statement masih tercantum salah.

H. Z
Tanjung Barat, Jakarta


123. Kartu Garda Oto Visa Permata
Perkenalan saya dengan kartu kredit Garda Oto Visa Bank Permata saat membeli mobil Isuzu Panther awal 2003. Setelah formulir kartu kredit diserahkan dan diisi, pada April 2003 kartu saya tiba (nomor kartu: 4336 1366 0010 06xx) dengan limit Rp. 8 juta. Validitas kartu bulan 04 tahun 2003 sampai dengan bulan 05 tahun 2005.
Pada awalnya transaksi berjalan normal, yaitu pembebanan biaya sesuai transaksi yang saya lakukan. Pada awal 2004 saya dikejutkan oleh munculnya tagihan kartu kredit Garda Oto Visa. Bank Permata dengan besar tagihan hampir menghabiskan limit kartu kredit saya, yaitu Rp 8 juta. Awalnya saya berpikir bahwa terjadi kesalahan alamat dalam rekening tagihan karena saya tidak pernah melakukan transaksi sebesar itu dan nomor kartu yang tertulis pada tagihan (4546 3366 0006 1700) tidak sesuai dengan nomor kartu kredit yang saya pegang.
Selang satu bulan pusat pemanggilan Bank Permata menghubungi saya dan melakukan penagihan. Saya jelaskan bahwa no­mor kartu kredit pada rekening tagihan berbeda dengan nomor kartu kredit yang saya pegang dan saya minta kopi rekap transaksi untuk dikirim karena ingin melihat tanda tangan pada saat tran­saksi.
Pihak pusat pemanggilan Bank Permata tetap bersikeras melakukan penagihan. Karena saat itu tidak ingin dipusingkan dengan masalah ini dan nantinya berlarut-larut, saya bersedia menyelesaikan transaksi dengan kesepakatan diskon tagihan 40 persen, denda dihapus, dan pembayaran diangsur Rp 300.000 per bulan.
Saya minta semua kondisi dibuat secara tertulis. Petugas Pu­sat Pemanggilan Bank Permata (lupa namanya) menyanggupi kondisi tersebut. Tanggal 24 Juni 2004 saya transfer dana via ATM; BCA sebesar Rp 300.000 untuk pembayaran kartu kredit (nomor: 4546 3366 00061700, dan bukan nomor kartu saya).
Selang satu bulan kemudian rekening tagihan dikirim ke tempat saya dan alangkah terkejutnya saya karena tagihan menjadi Rp. 8.517.728 dan tidak sesuai de­ngan kesepakatan yang dibuat sebelumnya.

L. S
Banjarmasin

124. Dipersulit Kartu Kredit Permata
Saya pengguna kartu kredlt gold Permata yang kemudian setuju untuk mengupgrade menjadi kartu kredit platinum, karena tertarik oleh iming-iming cashback 5 persen di setiap transaksi. Melalui SMS, pamflet, maupun informasi dari pusat pemanggilan 500111 Bank Permata disebutkan bahwa cashback 5 persen akan diberikan tanpa terkecuali apabila pihak konsumen melaporkan transaksi tersebut setelah 12 hari kerja, mengirim faksimile bukti dan kuitansi transaksi.
Oleh karena itu, pada bulan Juli 2007 saya sengaja untuk bertransaksi setiap hari sebanyak-banyaknya dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan sebesar 5 persen transaksi. Saya ingin membuka toko hand phone, maka membeli banyak voucher pulsa hand phone dan bermacam-macam hand phone.
Tapi, apa daya, setelah semua persyaratan saya penuhi, keinginan saya untuk mendapatkan cashback malah dipersulit dengan tidak diberikannya hak saya. Bahkan, setelah sebelumnya saya diminta sabar untuk menunggu cairnya cashback tersebut selama empat bulan dengan alasan masih dalam proses, ternyata saya mendapatkan berita bahwa cashpack tidak dapat saya terima Untuk alasan yang tidak masuk akal. Seharusnya Bank Permata konsisten dengan program yang telah diadakan dan memberikan apa yang sudah menjadi hak nasabah. Mohon klarifikasi pihak berwenang dan supaya kasus saya ini segera ditindaklanjuti. Calon nasabah harus lebih selektif dalam menilai kredibilitas suatu bank

I. G
Candisari, Semarang
125. Uang di HSBC Sulit Kembali
Saya pemegang kartu kredit HSBC (nomor: 4096 7500 1178 0xxx) Visa Platinum. Pada tang­gal 3 Desember 2007 saya melakukan pembayaran dengan M-Banking BCA sejumlah Rp 38.575.000. Namun, saat itu tidak ada laporan M-Banking yang menyatakan berhasil.
Tanggal 4 Desember 2007 saya melakukan pembayaran kembali melalui ATM BCA di Superindo Sunrise, Jalan Panjang, Jakarta Barat, sejumlah Rp 38.600.000. Pada tanggal 5 Desember 2007 saya mengecek print out saldo. Ternyata, dalam print out itu saldo saya berkurang karena telah terjadi transfer atau pembayaran dobel ke HSBC Credit Card.
Pada hari dan tanggal yang sama saya menelepon ke HSBC untuk memberitahukan bahwa saya ada kelebihan pembayaran. Saat itu pihak HSBC (Saudari Happy) menyarankan agar saya membuat surat pernyataan yang ditujukan ke Saudari Happy dengan nomor faksimile 5248000 - 5248191 supaya uang ditransfer kembali dengan dilengkapi fotokopi bukti transfer. Tanggal 6 Desember 2007 saya kirim fak­simile surat tersebut. Uang akan ditransfer kembali lima hari kerja dari tanggal 7 Desember 2007.
Akan tetapi, tanggal 12 Desem­ber 2007 saya berusaha mengonfirmasi kembali dengan menelepon ke HSBC untuk menanyakan karena uang belum ditrans­fer. Saat itu yang melayani saya adalah Saudara Ikbal, dilanjutkan Saudara Nurman, dan diteruskan ke Saudari Wulan yang jawabannya masih dalam proses. Saya mencari Saudari Happy, tetapi tidak bisa dihubungi dengan alasan on line. Tanggal 17 Desember 2007 saya mengecek ulang, tetapi uang saya belum juga dikembalikan oleh pihak Bank HSBC dan lewat telepon dijawab oleh Saudara Robby bahwa masih dalam proses.
Mengherankan, mengapa bank sebesar HSBC dan ternama memiliki manajemen seperti itu? Bila terlambat membayar kartu kredit, nasabah harus membayar bunga. Bagaimana dengan uang nasabah yang sampai saat ini belum dikembalikan atau disetorkan kembali oleh pihak HSBC?
Mudah-mudahan kasus yang saya alami ini bisa menjadi masukan bagi HSBC untuk memperbaiki kinerja manajemen dan kualitas pelayanan kepada nasabah agar dapat dipercaya.

A. R.
Perum Coding Serpong

126. “Cash Back" BII Tidak Jelas
Tertarik dengan iklan kartu kredit BII tentang program "Cash Back" sebesar 10 persen atas transaksi di pompa bensin Shell yang berlaku pada hari Sabtu dan Minggu, dan hanya berlaku untuk satu transaksi Rp 100.000 dan cask back maksimum Rp 50.000, saya sebagai pemegang kartu kre­dit BII Platinum (Nomor: 5520 08710013 30xx) melakukan tran­saksi di pompa bensin Shell Gatot Subroto, Jakarta Selatan, tanggal 6 November 2007.
Sebelum melakukan transaksi, suami saya, selaku pemegang kar­tu tambahan (Nomor: 5520 0871 0013 31xx), bertanya kepada petugas pompa bensin mengenai program cash back kartu kredit BII, tetapi ternyata petugas itu tidak mengetahui program ter­sebut. Karena itu, saya mene­lepon Layanan Pelanggan BII dan mendapatkan informasi bahwa petugas pompa bensin tidak me­ngetahui program ini karena program hanya internal BII dan cash back akan langsung dikreditkan dalam tagihan kartu kredit.
Setelah itu setiap hari Sabtu dan Minggu saya menggunakan, kartu kredit BII saat mengisi bensin di Shell. Ternyata saat menerima tagihan tanggal 30 No­vember 2007, saya tidak melihat ada cash back sebesar 10 persen dari seluruh transaksi di Shell Setelah konfirmasi kepada Layanan Pelanggan BII, saya mendapat informasi baru bahwa program cash back tidak berlaku untuk pemegang kartu BII Astra World. Padahal, informasi ini tidak diberikan pada saat saya ber­tanya sebelum transaksi pertama kali di pompa bensin Shell.
Saya merasa ditipu mentah-mentah dan terjebak oleh kartu kredit BII karena setiap transaksi dikenai tambahan 3 persen, kemudian setiap transaksi dengan menggunakan kartu kredit juga membutuhkan waktu lebih lama karena proses otorasi kartu harus dilakukan di kantor Shell. Sebelum melakukan transaksi, pertama kali saya sudah melakukan konfirmasi kepada Layanan Pelanggan BII.
Untuk itu, saya minta pertanggungjawaban dari kartu kredit BII atas penipuan ini. Hati-hati para pemegang kartu kredit BII apabila ada program-program khusus dari BII karena ternyata banyak sekali persyaratan tambahannya dan persyaratan belum tentu dipahami oleh Layanan Pe­langgan BII.

LR
Bekasi

127. Administrasi Permata Amburadul
Saya pemegang kartu kredit PermataBank (No 4546 332x 0008 1372) tidak habis pikir dengan administrasi PermataBank. Enam bulan lalu kartu kredit saya ditutup oleh PermataBank dengan alasan tidak jelas.
Kartu habis masa berlakunya bulan Juni 2006. Biasanya oleh PermataBank kartu diper- panjang secara otomatis, tetapi waktu itu malah ditutup/diblokir. Padahal, saya tidak mempunyai tunggakan/tagihan, malah saya masih ada sisa pembayaran meskipun sedikit.
Saya tidak mempermasalahkan kartu saya ditutup PermataBank karena sebenarnya saya juga kurang tertarik/tidak simpati kepada PermataBank, sampai-sampai tabungan di PermataBank juga saya tutup. Namun, yang sangat mengherankan, beberapa waktu lalu saya menerima lagi billing statement dan menyatakan kartu kredit saya itu berlaku lagi. Mana mungkin saya bisa menggunakan, sedangkan kartu saya sudah mati dan tidak diperpanjang lagi?
Dalam hal ini saya sudah dirugikan enam bulan, tetapi saat akan dibebani annual fee, kartu kredit akan diterbitkan lagi. PermataBank sudah bertindak tidak profesional, administrasinya tidak tertib dan amburadul sehingga merugikan nasabah. Hanya mau mencari untung dengan merugikan orang lain. Mohon agar pihak PermataBank dapat melakukan administrasi lebih tertib lagi.

F H
Surabaya

128. Penagih Citibank Salah Alamat
Kejadian yang kami alami dimulai pada 18 Agustus 2007 sekitar pukul 11.00 WIB, rumah kami kedatangan tamu yang berteriak-teriak dari luar pagar untuk minta masuk halaman. Karena takut, pembantu menjawab melalui jendela bahwa majikan sedang pergi. Tamu itu menjelaskan akan bertemu dengan Bapak Kim dan ada kata lain lagi tapi tidak jelas. Menurut pembantu, sepertinya nama orang China/Korea.
Pembantu tidak berani membuka pintu pagar, meski tamu itu mengatakan bukan rampok. Ditanya di mana Bapak Kim dan dijawab bahwa tidak ada nama dimaksud. Kemudian penagih itu bertanya lagi, orang apa yang tinggal di rumah. Dijelaskan, orang Jawa dan tidak ada yang punya suami. Tamu itu terus memaksa minta nama istri Bapak Kim meski pembantu sudah menjelaskan penghuni tidak mempunyai suami.
Kemudian tamu itu minta kertas dan menulis, diberikan kepada pembantu. Isi tulisan: Ibu Agnes (nama ibu kami)/Bapak Kim, tolong hubungi saya ke 0815 815 7510 untuk menyelesaikan tunggakan Bapak di Citibank, tanda tangan, nama jelas Nicolaus R.D. Ketika sore ibu kami datang ke rumah menemukan pesan itu dan langsung menghubungi nomor telepn seluler dimaksud untuk menjelaskan bahwa tidak ada orang bernama Kim di rumah dimaksud. Dan tidak ada urusan dengan Citibank. Namun, semua penjelasan itu tidak diterima.
Orang yang mengaku Nicoalaus tetap menyatakan bahwa rumah tersebut adalah rumah Bapak Kim. Ibu kami yang sudah menjalani operasi jantung karena peristiwa tersebut tidak bisa tidur karena dadanya berdebar-debar. Ibu kami terus ketakutan dengan ancaman orang itu akan datang lagi. Pada hari Minggu, 19 Agustus 2007, kami sebagai penghuni rumah menghubungi ponsel Saudara Nicolaus mengundang datang ke rumah untuk konfirmasi bahwa dia telah salah alamat menagih. Namun, tanggapannya malah kata-kata yang tidak beradab keluar. Kami juga menghubungi lewat SMS untuk datang, tetapi tetap tidak ada tanggapan. Kata maaf tidak keluar dari mulutnya, malah sumpah serapah yang keluar.
Mohon Citibank, yang katanya profesional, dapat menjelaskan, mengapa menyewa orang untuk melakukan penagihan dengan cara-cara seperti itu? Memaksa orang yang tidak punya utang untuk mengakui mempunyai utang?

Crl
Tangerang

129. Nasabah Danamon Meninggal
Saudara saya (Supendi Santoso) pemegang kartu kredit Bank Danamon (nomor 4512 8600 0019 4001) tanggal 16 Mei 2007 meninggal dunia karena sakit. Sebelum yang bersangkutan meninggal, kondisi kartu kredit dalam keadaan lancar. Tagihan Mei 2007 sebesar Rp 1.388.817 belum terbayar. Akhir Mei 2007, istrinya melaporkan keadaan ini dan mengirim melalui faksimile surat keterangan kematian ke Bank Danamon. Pelaporan dilayani Saudari Wanda/Destu yang berjanji akan ditindaklanjuti dan dikonfirmasi.
Pada bulan Juni 2007 muncul tagihan Rp 1.079.038 termasuk late charge dan bunga. Karena istri almarhum tidak berpenghasilan dan pindah ke luar daerah, saya berinisiatif menyelesaikan kewajiban itu. Dari awal sudah saya sampaikan kepada Bank Danamon (Saudara Chandra, bagian collection) bahwa saya akan membayar dengan cara mencicil dan meminta keringanan untuk tidak dikenai bunga setelah tagihan Mei 2007 atau setelah yang bersangkutan meninggal.
Namun, petugas Bank Danamon bersikeras, apabila mengambil program cicilan, bunga berjalan harus tetap dibayar ditambah bunga cicilan.
Tanggal 28 Juli 2007 (Saudari Yuli, bagian collection) menghubungi saya dengan cara yang tidak sopan. Beberapa hal yang diutarakan antara lain, "Apa Anda berpendidikan? Anda kerja di mana? Punya utang segitu aja repot, Anda mau bayar apa tidak!" Dan banyak kata lain yang tidak enak didengar.
Apakah tindakan dan kata-kata itu cermin kebijakan dan budaya kerja Bank Danamon?

JB
Tangerang


130. Tagihan Kartu Mega Bermasalah
Saya pemegang Mega Card Visa Gold sejak 2005. Selama ini tidak pernah ada masalah sampai Agustus 2007. Masalah mulai timbul pada tagihan bulan Oktober 2007. Pada tagihan itu tercetak pembayaran tertanggal 24 September 2007. Padahal saya membayar pada 20 September 2007 tepat pada tanggal jatuh tempo melalui ATM Bank Permata. Namun, saya dikenai biaya denda sebesar Rp. 342.529 dan dunning fee Rp. 50.000,-
Untuk menghindari bunga yang pasti akan membengkak, saya membayar bunga tersebut ditambah dunning fee terlebih dahulu. Saya komplain dengan menyertakan bukti pembayaran dengan keyakinan uang denda yang telah dibayarkan pasti dikembalikan karena saya membayar tidak melewati batas jatuh tempo. Ternyata, Mega Card dengan entengnya mengabarkan bahwa pembayaran saya baru diterima empat hari setelah saya membayar dengan alasan itu sudah system dari Bank Mega.
Padahal setiap bulan saya selalu melakukan pembayaran tanggal jatuh tempo dan tidak pernah mengalami hal seperti ini, begitu pula dengan kartu kredit saya yang lain. Karena selama ini saya selalu membayar tepat waktu dan membayar penuh sehingga Bank Mega tidak dapat keuntungan dari saya. Bank Mega seenaknya memasukkan pembayaran saya yang seharusnya tanggal 29 September 2007 menjadi 24 September 2007. Dengan demikian, saya harus membayar bunga yang seharusnya tak terjadi. Saat ini kartu telah saya tutup dan uang saya lebih sebesar Rp. 392.529.

STW.
Tangerang.


131. Janji Manis UOB Buana
Sekitar dua bulan lalu saya dihubungi Ibu Lola yang menawari saya kartu kredit UOB Platinum dan menjanjikan saya akan mendapat hadiah tiket ke Singapura, ponsel Nokia dan langganan Astro satu tahun. Saat menanyakan annual fee, Ibu Lola menjawab, annual fee sebesar Rp. 600.000.
Setelah tawar-menawar akhirnya saya ditawarkan bebas annual fee satu tahun pertama, dan hadiahnya tetap dapat. Saya setuju dan sebulan kemudian saya dikirimkan kartu kredit UOB Platinum (nomor kartu : 4219 2020 0001 xxxx)
Memang benar di dalam amplop kartu tersebut ada voucher yang dapat ditukarkan dengan tiket ke Singapura, ponsel Nokia, langganan Astro satu tahun, dan kartu langsung dapat digunakan. Ternyata ketika saya mendapat billing statement satu bulan kemudian di dalamnya ada annual fee sebesar Rp. 600.000. saya hubungi card center UOB (15/9) dan dilayani Ibu Lenny yang menjanjikan akan membantu saya menyelesaikannya.
Tanggal 20 September 2006 tagihan yang isinya annual fee jatuh tempo. Tanggal 20 September 2007 saya hubungi lagi card center UOB (Ibu Rini) yang menjelaskan, tagihan yang isinya annual fee tidak usah dibayar kalau memang dijanjikan bebas annual fee dan bulan depan dapat dihilangkan sehingga tidak kena bunga. Saya hanya membayar tagihan pemakaian dan annual fee tidak saya bayar.
Pada 26 September 2007 saya dihubungi oleh Ibu Fanny yang mengatakan, pilihan untuk bebas annual fee tidak mendapatkan hadiah. Namun, memilih untuk dapat hadiah berarti harus membayar annual fee. Beruntung voucher hadiah belum saya tukar sebab kalau tidak, saya seperti dipaksa untuk membayar annual fee. Bukan main, bank sebesar UOB Buana hanya bias memberikan janji manis pada awal untuk “menjaring” nasabah.

HR.
Pulo Gadung, Jakarta.