Jumat, 04 Juni 2010

100. Kartu Citibank dan Sogo
Pada 28 September 2007 sekitar pukul 12.00 WIB saya menunggu anak kursus di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dan atas informasi salah satu karyawati tempat les tersebut bahwa telah terjadi kecurian sejumlah uang milik salah satu pengajar. Lalu ketika saya mengecek tas, saat itu dompet, kartu pengenal, uang tunai, dan ATM saya tidak hilang. Dan hampir sejam kemudian saya baru menyadari telah kecurian sebuah kartu kredit Citibank Gold Master. Saat itu juga saya langsung menelepon Citibank untuk segera memblokir kartu kredit dimaksud
Belum sempat menjelaskan kepada petugas Citibank, telepon terputus. Kemudian Saya coba lagi dan akhirnya berbicara dengan Citiphone Officer (Saudara Jor­dan) dan minta untuk segera memblokir kartu kredit saya. Namun, yang bersangkutan menga­takan saat itu sekitar pukul 13.10 WIB, saat ini sedang terjadi transaksi sebesar Rp 1.079.000 di Sogo Department Store.
Saya langsung minta untuk pe­tugas itu segera memblokir kartu dimaksud dan juga saya mena­nyakan kepadanya. Namun, petu­gas Citiphone menjawab dengan sangat tidak kooperatif, "Tidak bisa, Bu! Mana saya tahu itu Sogo mana!"
Bukankah seharusnya petugas Citiphone mengetahui lokasi Sogo tersebut, padahal setiap bulan pada billing statement selalu tertera setiap tempat transaksi dilakukan. Tujuan saya menanya­kan lokasi tersebut karena yakin orang tersebut pasti akan melakukan transaksi untuk kedua kalinya serta juga agar saya dapat langsung menelepon ke lokasi tersebut dan meminta agar orang yang berbelanja dengan menggunakan kartu kredit saya dapat dibekuk oleh petugas keamanan setempat.
Dugaan saya akan terjadi tran­saksi untuk kedua kalinya terbukti benar dengan informasi yang saya dapatkan dari salah satu Citiphone Officer lainnya. Saya juga sangat kecewa dengan pihak Sogo, kasir Sogo Plaza Senayan, Jakarta, (Saudari Sri Wuryani). Atas keteledorannya, pencuri itu dengan mudahnya melakukan transaksi dengan kartu kredit saya yang telah dicuri. Selain terlihat jelas perbedaan tanda tangan saya yang ada di kartu kredit dimaksud dengan tandatangan si pencuri, Saudari Sri Wuryani tidak meminta si pen­curi untuk memperlihatkan KTP dan tidak menaruh curiga.

A. K
Tanjung Priok, Jakarta


101. Kartu Diblokir Tagihan Muncul
Sebagai pemegang kartu kredit ANZ (no 4157 3533 4701 50xx) saya amat dirugikan. Kartu kredit saya diblokir pada 2 Juli 2007. Namun, pada 6 Juli terjadi transaksi pendebetan sebesar Rp 1.985.000 oleh sebuah agen perjalanan.
Sejak lama, saya mencurigai adanya berbagai penawaran yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, dan telah melakukan trik-trik yang menjebak. Untuk mengantisipasinya saya memblokir kartu kredit itu. Amat disesalkan, mengapa ANZ melakukan kecerobohan fatal dengan mendebit kartu kredit yang sudah terblokir.
Saya sudah melakukan konsultasi dengan bankbank lain. Mereka mengatakan, dengan alasan apapun, kartu yang telah diblokir tidak dapat didebet. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Bagaimana keselamatan nasabah dilakukan? Amat mengerikan.
Kepada customer service, bagian investigasi, dan penagihan, saya sudah menjelaskan secara lisan ataupun tulisan, bahkan pihak customer service dan bagian investigasi, dan penagihan saya telah menyadari kesalahannya. Saya bukan tidak mau bertanggung jawab. Tetapi, saya tidak akan pernah mau membayar tagihan aneh yang dilimpahkan kepada saya, padahal saya tidak melakukan transaksi.

HW.
Jelambar Baru, Jakarta


102. Citibank dan Bank Panin
Saya pengguna kartu kredit Citibank dan bisa membayar tagihan kartu kredit itu secara tunai melalui Bank Panin Malang, Jawa Timur.
Sejak Maret 2007 kartu Citibank itu saya tutup. Semua ta­gihan dan persyaratan untuk penutupan kartu sudah saya penuhi. Kemudian pada April 2007 Sampai dengan Agustus 2007, sa­ya tidak pernah lagi menerim lembar tagihan.
Namun, pada September 2007, saya menerima lembar tagihan sebesar Rp 400.000. Setelah saya tanyakan kepada customer servicse Citibank, hal itu disebabkan ada kesalahan entry/posting pada Bank Panin yang seharusnya hariya entry pembayaran satu kali Rp 400.000, tetapi dilakukan dua kali entry Rp 400.000 sehingga jumlahnya menjadi Rp. 800.000 Akibatnya, terjadi minus pembayaran sebesar Rp 400.000 yang kemudian dibebankan ke saya.
Kemudian saya cek ke Bank Panin (dengan Bapak Tando). Setelah satu minggu, saya mendapat kabar bahwa kesalahan itu bukan karena Citibank, yang pada September 2006 (lembar tagihan 17 September 2006) terdapat dua kali entry pembayaran sebesar Rp 400.000 via Panin.
Sungguh aneh. Padahal, saya tidak pernah membayar dobel dan saya memiliki bukti setoran di Panin pada bulan itu.
Bagaimana hal itu bisa terjadi. Bagaimana mungkin, konsumen yang tidak tahu apa-apa dibebani tanggung jawab atas kesalahan yang sama sekali tidak diperbuat? Baik Citibank maupun Panin saling melempar kesalahan.
Saya menunggu tanggapan dari pihak Bank Panin dan atau Citibank.

A. S
Malang, Jatim



103. Pembayaran Kartu Kredit Melalui BRI Cirebon
Pada 19 Mei 2007 saya membayar tagihan kartu kredit Bank Danamon sebesar Rp 850.000 menggunakan ATM Britama di ATM Bersama Bank Rakyat Indonesia atau BRI Cabang Cirebon, dengan kode bank 01187777777. Namun saya lupa memasukkan nomor referensi, seperti yang diminta pada menu ATM tersebut. Yang dimaksud nomor referensi adalah nomor yang tertera pada kartu kredit Bank Dana­mon. Karena transaksi berjalan mulus dan tidak ada peringatan apa-apa, saya mengira transaksi selesai atau sukses.
Pada 22 Mei 2007 saya ditelepon pihak Bank Danamon, mengingatkan bahwa saya belum membayar tagihan kartu kredit untuk bulan itu karena jatuh tempo adalah tanggal 20 setiap bulannya. Setelah saya cek, ternyata tabungan saya di BRI telah terdebet sebanyak Rp 850.000. Jadi,kemana uang saya tersebut?
Kemudian pada 24 Mei 2007, saya melaporkan kejadian itu ke Bank Danamon Cabang Cirebon. Setelah saya membuat surat pernyataan yang dikirim ke Jakarta melalui faksimile 0213503985 up Ibu Hotma, saya disuruh menunggu proses pengembalian selama satu bulan. Ternyata, setelah dua bulan uang saya belum juga kembali.
Saya menanyakan lagi dan disarankan agar saya melapor ke BRI tempat ATM yang saya pergunakan berada, yaitu BRI Cabang Cirebon.
Pada ll Juli 2007, saya melapor ke BRI Cabang Cirebon. Saya disuruh menunggu lagi selama satu bulan karena, kata petugas cus­tomer service BRI tersebut, masalahnya antar bank. Jadi, prosesnya agak lama.
Setelah satu bulan, yaitu 10 Agustus 2007, saya mencetak ta­bungan, tetapi ternyata belum masuk. Saya menanyakan lagi ke bagian customer service BRI. Kata petugas, saya harus menunggu dan bersabar karena masalahnya antarbank.
Sampai sekarang permasalahan itu sudah berjalan sekitar empat bulan, tetapi keberadaan uang tersebut belum jelas.Walaupun masih dalam proses, beginikah kinerja bank yang sebenarnya memiliki peralatan canggih, tetapi selalu nasabah yang dirugikan?
Mengapa pada program menu ATM Britama BRl, apabila ada kesalahan nasabah, tidak ada system proteksi atau peringatan yang menyebutkan, misalnya "Anda belum memasukkan nomor refe­rensi; Transaksi gagal,rekeningAnda tidak didebet" dan atau peringatan lain yang lebih sederhana?

E. S
Cirebon

104. Ace Ina dan Kartu Belanja Carrefour
Hati hati jika berhubungan dengan perusahaan kedua lembaga keuangan non bank yang tidak memiliki kompetensi dalam pengelolaan bisnis. Saya salah seorang korban ketidakprofesionalan praktik bisnis ini.
Berawal dari keinginan saya menutup polis nomor IMKIN 0000108 dan IMKIN 0000120 dari Ace Ina Insurance yang dibayar debit lewat Kartu Belanja Carrefour (KBC) yang dikelola oleh GE Finance.
Waktu saya konfirmasi dengan Saudara Deni dari Ace Ina lewat telepon 52998200 pada tanggal 24 Oktober 2007, saya terkejut bahwa sejak April 2005 sudah ada surat pembatalan ikut polis asuransi.
Menurut Saudara Deni lewat percakapan telepon pukul 11.00 di database Ace Ina tidak ada perintah pendebitan polis asuransi tersebut ke KBC GE Finance dan bulan Juni 2005 sudah ada pengembalian dana ke GE Finance.
Yang jadi pertanyaan kenapa sampai ada, auto debet sampai September 2007 berdasarkan ta­gihan KBC GE Finance? Kemudian saya disarankan menelepon ke GE Finance.
Pada hari yang sama pukul 11.15 WIB saya menelepon Cus­tomer Service KBC GE Finance (5716000) dijawab Saudara Awan. la memberikan nomor te­lepon 5299601617 untuk mendapatkan faksimile pembatalan debet polis tersebut. Ternyata no­mor tersebut khusus untuk asu­ransi lain (Asuransi Cigna).
Mengapa sampai saat ini masih ada perusahaan yang menerapkan manajemen pemasaran yang konvensional, yaitu memingpong pelanggan? Padahal pelanggan itu adalah pasar potensial yang harus dipertahankan dan digarap de­ngan prinsip kepuasan pelanggan. Dan mengapa begitu alotnya penutupan polis asuransi terse­but?

B. S
Balekambang, Jakarta Timur

105. Transaksi Meragukan Citibank
Saya pemegang kartu kredit Citibank (Mastercard Citibank Gold) nomor 54018401xxxxxxxx) sejak tahun 1992. Pada lembar penagihan Juni 2007 ada transaksi yang menurut saya bukan transaksi saya.
Hal ini saya laporkan kepada petugas Citibank melalui Citiphone Banking 24 jam (lupa nama petugas). Menurut petugas yang menerima, laporan akan diproses paling lama 45 hari dan saya akan dihubungi oleh pihak Citibank.
Pada 25 Juni 2007 saya menghubungi lagi Citibank dan diterima Bapak Galuh. la mengatakan bahwa pengaduan saya sedang diinvestigasi. Tanggal 4 Juli 2007 saya menghubungi lagi Citibank dan diterima Saudara Elia
Kepada Saudara Elia saya memberitahukan bahwa telah menghubungi Citibank beberapa kali yang sebelumnya diterima Bapak Medi. Saudara Elia memastikan bahwa saya pasti akan segera dihubungi Saudara Medi atau petugas lain.
Karena tidak dihubungi oleh pihak Citibank, saya menghubungi Citibank beberapa kali pada tanggal 16 Juli 2007 dengan Saudara Medi, tanggal 20 Agustus 2007 dengan Saudara Ori dan Saudara Denfer, tanggal 24 Sep­tember 2007 dengan Saudara Dafina, dan terakhir tanggal 19 oktober 2O07 dengan Saudara Lizzi.
Setiap menghubungi Citibank, saya disuruh menunggu untuk menanyakan kepada petugas yang menerima laporan saya sebelumnya dengan waktu yang cukup lama tanpa nada tunggu, sampai-sampai telepon mati terputus atau saya dijanjikan akan segera dihubungi pihak Citi­bank.
Dengan itikad baik, tagihan bulan Juni sampai dengan Agustus 2007 tetap saya lunasi termasuk tagihan pemakaian yang saya anggap bukan pemakaian saya tersebut.
Pada tagihan September 2007 sampai tanggal jatuh tempo, saya sengaja tidak melunasi atau membayar tagihan kartu kredit tersebut. Setelah tanggal jatuh tempo pembayaran, saya pernah dihubungi pihak Citibank mengenai tagihan bulan September 2007 yang belum saya bayar lunasi. Kemudian saya menjawabnya bahwa saya tidak mau membayarnya sampai ada perhatian dari Citibank terhadap laporan saya dan kemudian saya tidak pernah dihubungi lagi.
Dengan begitu banyaknya la­poran yang saya sampaikan ke­pada petugas Citibank, saya mengira Citibank akan segera memproses dan menghubungi saya. Ternyata sampai surat ini saya kirim, Citibank belum pernah menghubungi dan menyelesaikan masalah yang saya laporkan.

BJ. F. B
Kebayoran Baru, Jakarta

106. Teror Telepon dari ABN Amro
Saya baru saja pindah ke Bogor sejak 13 September 2007 dan menempati rumah kontrakan yang sudah saya bayar untuk satu tahun dengan harga yang menurut ukuran saya sudah sangat besar.
Namun, dua hari sejak saya menempati rumah kontrakan itu, mulai ada teror lewat telepon dari orang-orang yang mengaku dari Bank ABN Amro dan mencari seorang yang bernama Yuli, Heni, dan Rico. Belakangan saya tahu mereka adalah penghuni rumah sebelum saya masuk.
Yang membuat saya kesal adalah cara mereka menelepon. Mereka menelepon dengan kasar, membentak-bentak dan mengumpat-umpat dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pegawai bank yang ternama, Pegawai laki-laki ataupun perempuan yang menelepon tersebut tidak ada yang ramah. Seolah-olah saya ini adalah yang berutang, padahal saya tidak kenal sama sekali dengan orang yang mereka cari itu.
Setiap mereka menelepon, saya sudah jelaskan bahwa saya adalah penghuni baru dan tidak kenal sama sekali dengan penghuni yang lama. Namun, mereka tampaknya tidak menggubris penjelasan saya dan tetap me­maki-maki saya atau istri saya yang mengangkat telepon.
Mungkin dalam proses perekrutan pegawai bank sekarang ini tidak lagi dilihat penampilan yang menarik, meyakinkan, atau dari tingkat kecerdasan orang yang melamar pekerjaan, tetapi lebih dilihat dari cara calon pegawai itu memaki-maki orang lain. Semakin kasar dia memaki-maki dan mengumpat-umpat orang, semakin besar kesempatan orang tersebut diterima di Bank ABN Amro.
Teror tersebut tidak hanya se­kali saya terima, tetapi seperti kegiatan rutin setiap tiga hari sekali. Seolah saya adalah orang yang menunggak utang dan tidak mau membayar. Padahal, sekali lagi saya tegaskan, saya tidak kenal sama sekali dengan orang-orang yang mereka cari dan saya tidak pernah sekali pun berhubungan dengan Bank ABN AMRO apalagi punya utang kepada ABN Amro.
Saya sudah laporkan hal ini pada 18 Oktober 2007 kepada Kepolisian Sektor Kota Bogor Timur dan mereka menyarankan saya menelepon polisi kalau ada orang dari ABN Amro datang ke rumah.

A. H
Bantar Kemang.

107. Kartu Kredit BII Diblokir
Saya pemegang kartu kredit BII (nomor kartu: 4423 7301 3841 xxxx) sejak 2003 dan tidak pernah terlambat membayar sekali pun. Sekarang tiba-tiba saja kartu saya diblokir tanpa pemberitahuan dan alasan yang jelas. Saya sampai bosan menghubungi layanan pelanggan Card Center BII terkait masalah ini.
Petugas layanan pelanggan mengatakan ada tunggakan tagihan bulan Juli dari kartu kredit BII saya yang lain, padahal tagihan tersebut sudah saya bayar lunas. Pembayaran sudah saya lakukan pada bulan Juli lewat teller BII dan bukti pembayaran tersebut juga sudah saya kirim via pos tercatat pada bulan Agustus ke BII Center Jakarta. Namun, tidak ada koreksi yang dilakukan. Tidak ada respons sama sekali dari BII. Bahkan sekarang kedua kartu saya diblokir begitu saja Perlu ditegaskan, saya juga membayar iuran tahunan, bukan gra­tis.
Jika bukti pembayaran yang divalidasi teller BII sendiri tidak diakui, lalu maunya bagaimana? Apakah memang seperti ini yang dimaksud lagu tema BII "Untuk, melayani Anda dengan yang Terbaik"?

RK
Kejuron, Madiun

108. Tagihan dan Laporan Bank Niaga

Saya adalah nasabah Bank Niaga dan memiliki produk Niaga, seperti Mapan, Tabungan pendidikan, Niaga Cerdik, tabungan, dan KPR. Namun, saya kecewa dengan pelayanan Bank Niaga.
Pada 20 Mei 2007 saya pindah rumah dan sudah melaporkan pindah alamat penagihan untuk kartu kredit, debit advice KPR, dan laporan asuransi pendidikan ke alamat baru. Mulai Juni 2007 saya sudah menerima tagihan kartu kredit ke alamat rumah yang baru. Namun anehnya la­poran lain, seperti debit advice KPR dan statement lain, tidak pernah sampai ke rumah saya sampai saat ini.
Saya sudah melapor ke layanan pelanggan lewat nomor telepon masing-masing pada 10 Juni 2007, 30 Juli 2007, 15 Agustus 2007, 12 September 2007, 28 Sep­tember 2007, dan juga komplain tertulis di konter pada 10 Oktober 2007. Pernah pada 12 September 2007, melalui telepon, staf la­yanan pelanggan Bank Niaga menjelaskan bahwa kurir pengantar tagihan kartu dan kurir yang mengantar laporan keuangan berbeda. Namun, alasan ini bagi saya sangat tidak masuk akal. Walau beda kurir, mengapa ta­gihan kartu sampai tepat waktu, sementara laporan keuangan ti­dak pernah sampai?
Bank Niaga hanya memerhatikan tagihan agar nasabah membayar tagihan tepat waktu, se­mentara hak saya sebagai nasabah untuk mendapat laporan ke­uangan diabaikan. Padahal dalam pembayaran KPR, asuransi, dan tagihan saya tak pernah menunggak. Yang mengecewakan adalah komplain saya, yang sudah enam kali tidak ditanggapi. Saya tidak pernah ditelepon untuk ditindaklanjuti, padahal nomor ponsel sa­ya ada di database mereka.

YL.
Sukabumi Selatan, Jakarta

109. Letih Menutup Kartu BCA
Pada 26 Juni 2007 saya menelepon Halo BCA untuk melakukan penutupan kartu kredit Visa dan BCA Card baik utama maupun tambahan yang dimiliki istri. Hal ini disebabkan kekecewaan kepada BCA yang tidak kooperatif menangani komplain atas keterlambatan pengiriman pernyataan tagihan periode Juni 2007, yang harus berkali-kali ditelepon, dimintai data, menceritakan hal dari awal dan kemudian hanya dijanjikan akan dibuatkan laporan. Proses ini menghabiskan waktu dan energi tanpa ada solusi.
Untuk menutup kartu, saya diminta membayar terlebih dahulu semua transaksi yang belum ditagihkan pada bulan tersebut. Sa­ya langsung ke ATM BCA terdekat untuk melakukan pembayaran sesuai nilai yang diinformasikan kepada saya. Selanjutnya, saya menelepon Halo BCA lagi, diterima Ibu Marsya dengan ID pelaporan penutupan 4373105. Proses penutupan pun akhirya berhasil saya lakukan. Bulan Juli berikutnya saya kembali mendapatkan tagihan.
Langsung saya telepon Halo BCA untuk menanyakan mengapa terdapat tagihan lagi setelah penutupan kartu kredit. Padahal syarat penutupan adalah membayar semua nilai transaksi yang belum ditagihkan. Petugas Halo BCA memastikan bahwa tagihan pada posisi itu adalah nihil dan munculnya tagihan adalah karena sistem komputer yang tetap akan menge-print selama tiga bu­lan. Untuk itu, saya diminta un­tuk mengabaikan. Pada Agustus 2007 tagihan kembali datang dengan nilai yang semakin bertambah.
Pada 8 Agustus 2007 kembali saya menelepon Halo BCA, diterima Ibu Ratna dengan ID laporan 4565928. Saat itu saya kembali diminta mengabaikan ta­gihan itu karena merupakan sistem komputer BCA sebagaimana telah disampaikan sebelumnya.
Namun, pada Agustus 2007 saya justru menerima surat sebanyak dua lembar yang pada tanggal yang berbeda mengenai permohonan maaf akibat keterlambatan penagihan bulan Juni yang menjadi penyebab saya menutup kartu kredit. September 2007 saya tidak menerima ta­gihan, tetapi Oktober 2007 ta­gihan kembali muncul.

W. S
Bekasi Selatan

110. Penawaran Bunga Rendah Kartu Kredit Menyesatkan
Saya adalah nasabah kartu kredit Citibank Gold Mastercard sejak tahun 2004. Pada Juli 2007 saya terpilih mendapatkan penawaran bunga ringan (2,75 persen per bulan) untuk pembelanjaan yang berlaku selama 24 bulan. Namun, hingga September 2007 tagihan yang dikirimkan kepada saya tetap memberlakukan bunga normal (3,5 persen per bulan).
Padahal sejak mendapatkan informasi tentang bunga rendah (2,75 persen per bulan) saya telah menggunakan kartu kredit untuk belanja hingga limit yang ditetapkan oleh bank penerbit kartu kredit itu habis. Pada 2 Oktober 2007 saya menghubungi Citiphone officer (diterima oleh Saudari Anissa) yang menjawab akan menanyakan ke pihak yang mengerti masalah tersebut dan berjanji akan segera memberikan jawaban keesokan harinya.
Karena keesokan harinya telepon genggam saya bermasalah, saya segera menghubungi kembali melalui telepon ke Citiphone officer (diterima oleh Saudari Amanda) yang memberitahukan, bahwa penawaran bunga rendah telah dibatalkan pada Agustus 2007. Hal ini tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada saya. Dengan alasan yang tidak masuk akal, ketika saya desak ia menjawab sistem yang membatalkan. Aneh, bukankah sistem dibuat oleh manusia?
Kejadian itu membuat saya sangat kecewa atas pelayanan Citibank NA karena merasa dipermainkan dan ditipu oleh bank internasional papan atas yang sangat terkenal ini. Untuk itu, kepada masyarakat, khususnya pemegang kartu kredit Citibank, agar berhati-hati terhadap penawaran yang menyesatkan dari Citibank

I .Y. H
Margahayu, Bekasi

111. Pusat Pemanggilan Bank Danamon
Saya kecewa dengan layanan Pusat Pemanggilan Bank Dana­mon. Pada 24 Oktober 2007 saya menghubungi Pusat Pemanggilan Bank Danamon dan dibantu oleh seorang laki-laki (lupa namanya) dengan maksud menanyakan total tagihan dengan tujuan me­nutup kartu kredit saya (4567 9945 1252 90xx). Saat itu petugas menginformasikan total tagihan sebesar :Rp 8.243.043 dengan minimum pembayaran Rp 1.646.261. Tanggal 26 Oktober 2007, saya telah melakukan pembayaran sebesar jumlah total tagihan.
Pada 29 Oktober 2007 saya menelepon ke bagian collection (25506055) yang dibantu Saudari Dini untuk tujuan menutup kartu kredit. la mengonfirmasikan bahwa pembayaran telah dibukukan dan menyarankan saya menghu­bungi pusat pemanggilan 34358888 untuk penutupan kar­tu kredit. Saya telah menghubungi pusat pemanggilan dan di­bantu oleh Saudari Vira. Pada waktu saya hendak menutup kar­tu ia menginformasikan bahwa masih ada kekurangan bunga se­besar Rp 92.183. Apabila dibayar pada hari itu, kartu dapat segera ditutup.
Saya heran, kenapa pada waktu pertama kali menghubungi tidak .diinformasikan semua pemakaian sehingga saya dapat membayar seluruh tagihan. Mengapa bunga tidak dijadikan satu de­ngan seluruh tagihan? Saya ingin berbicara dengan manajer/supervisor yang bertugas, tetapi tidak diberikan kesempatan. Padahal saya ingin menyampaikan kekecewaan mengenai tagihan yang sebelumnya sudah dikonfirmasi bahkan terlebih dahulu dan saya sempat minta dihapuskan.
Mohon penjelasan dari pihak manajemen Bank Danamon. Saya tidak mau melakukan pembayaran apa pun lagi karena telah konfirmasi terlebih dahulu meskipun saya tidak ingat siapa yang menerima telepon. Bagaimana saya tahu jumlah tagihan saya kalau saya tidak menghubungi Pusat Pemanggilan Danamon?

D. S
Jakarta Selatan

112. Limit Kartu Kredit ANZ
Saya pemegang kartu kredit ANZ Platinum Mastercard yang sudah menjadi nasabah sekitar dua tahun. Kartu kredit hanya dipakai untuk keperluan bisnis kantor. Pada 26 Oktober 2007 saya mencoba menggunakan kartu kredit itu, tetapi ditolak
Saya mencoba untuk mengonfirmasikan ke Pusat Pemanggilan ANZ di Jakarta lewat telepon (021) 5721900 sekitar pukul 14.00 WITA diterima oleh seorang petugas layanan pelanggan wanita, saya lupa namanya.
Setelah menanyakan status pemakaian kartu kredit, petugas itu menginformasikan bahwa pemakaian kartu kredit saya Rp 7 juta, melebihi limit yang diberikan.
Dengan bingung saya me­nanyakan, kenapa bisa kelebihan limit sampai Rp 7 juta tanpa ada pemberitahuan dari pihak ANZ kepada saya? Pe­tugas layanan pelanggan mentberitahukan bahwa kartu kredit saya mempunyai limit tersembunyi Rp 55 juta. Namun, ini tidak pernah diinformasikan kepada saya.
Selain ANZ, saya juga pe­megang beberapa kartu kredit platinum dan gold yang dikeluarkan oleh bank yang mempunyai reputasi bagus. Sa­ya selalu diberi informasi apabila pemakaian sedikit melebihi limit Apakah ini salah satu cara dari ANZ untuk "menjebak" para pengguna kartu kreditnya dengan tidak memberitahukan kondisi kelebihan limit pemakai kartu kredit?

R. R
Desa Kadewatan Ubud, Bali

113. Tagihan Kartu UOB Buana
Sebagai pemegang UOB Buana Platinum Card, saya sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan UOB Buana. Pembayaran pertama saya jatuh tempo pada 22 Oktober 2007, tetapi sampai tanggal 1 November 2007 saya belum menerima lembar tagihan bulanan tersebut Karena itu, untuk menghindari dikenai bunga dan denda, saya harus membayarkan dahulu tagihan tersebut tanpa bisa mengecek tagihan yang tercetak.
Saya terus menghubungi Pusat Pemanggilan UOB Buana untuk mendapatkan penyelesian masalah ini, tetapi bukannya penyelesaian yang saya dapatkan. Saya tidak pernah memiliki pengalaman seperti itu dengan institusi keuangan lainnya. Bukankah seorang petugas pusat pemanggilan seharusnya menolong pelanggan yang mengalami masalah.
Diharapkan pihak UOB Bu­ana menanggapi permasalahan nasabah. Saya khawatir lembar tagihan selanjutnya pun tidak terkirim (nomor kartu kredit 4219 2020 xxxx xxxx) sehingga paya harus kembali menghubungi pihak pusat pemanggilan untuk mengetahui jumlah tagihan. Hal tersebut bukan pelayanan yang saya harapkan dari bank seperti UOB Buana.

A. S
Jakarta Selatan

114. Transaksi BII Dibatalkan Sepihak
Alangkah terkejutnya saya ketika menggunakan kartu kredit BII Platinum untuk pembayaran pengisian BBM kendaraan di SPBU Shell Slipi, Jakarta Barat, Sabtu, 27 Oktober 2007. Setelah menggesek kartu sebanyak dua kali di mesin FDC dengan respons kartu saya ditolak, akhirnya saya memutuskan menghu­bungi layanan pelanggan BII karena kartu saya sama sekali tidak ada tunggakan pembayaran atau kelebihan limit pemakaian.
Pada saat itu juga, pukul 21.55 WIB, saya menghubungi pusat pemanggilan dan dibantu oleh Saudara Rico yang menginformasikan bahwa kartu saya telah dibatalkan per 25 Oktober 2007 dengan alasan ada pemberitahuan dari pihak MasterCard Inter­national bahwa kartu saya telah digandakan oleh pihak lain sehingga kartu di tangan saya tidak berlaku lagi. Kartu pengganti akan saya terima dalam tujuh hari ke depan. Transaksi saya pada waktu itu tidak dapat di­bantu oleh pihak BII.
Yang mengherankan adalah betapa sewenang-wenangnya pi­hak BII langsung membatalkan kartu saya tanpa pemberitahuan, baik secara lisan melalui telepon seluler saya maupun secara tertulis, padahal saya yakin pihak bank memiliki data-data saya se­cara lengkap.
Apakah pihak BII sebagai bank penerbit memikirkan masalah yang akan dihadapi nasabahnya dengan membatalkan kartu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu atau memang seperti itu praktik sebuah bank yang berstandar internasional?

Y. I
Tambora, Jakarta


115. Kecewa dengan Kartu Kredit Citibank
Saya sebagai nasabah kartu kredit Citibank kecewa karena sudah dua bulan ini dihadapkan pada permasalahan mengenai penyalahgunaan kartu kredit tambahan saya atas nama suami saya (Wawan) yang digunakan orang lain untuk melakukan transaksi. Awalnya pada 7 Agustus 2007 saya menghubungi Citibank untuk membatalkan kartu tambahan saya dengan alasan sudah tidak membutuhkannya lagi, selain karena dikenai biaya iuran tahunan.
Lalu tanggal 8 Agustus 2007 saya mengirimkan kartu tambahan saya dalam keadaan tergunting. Pada 10 Agustus 2007 surat dan kartu saya diterima Citibank. Sebelumnya, saya selalu bertanya mengenai pembatalan kartu, dan saya mendapatkan informasi bahwa sistem pembatalan kartu pada Citibank dilakukan pada saat kartu nasabah diterima pihak Citibank. Dengan alasan tersebut saya berpendapat bahwa kartu saya sudah dibatalkan per tanggal 10 Agustus 2007. Saya baru menerima surat resmi dari Ci­tibank mengenai pembatalan kartu tersebut tanggal 20 Agustus 2007.
Kemudian saya kembali menghubungi Citibank untuk menanyakan tagihan saya untuk bulan September 2007. Saya dikejutkan dengan adanya tagihan yang bukan merupakan transaksi saya ataupun suami saya Transaksi tersebut adalah pertama, tanggal 15 Agustus 2007 di Griya Toserba, Venus, senilai Rp 91.866. Kedua, tanggal 16 Agustus 2007 di Mekar Raya senilai Rp 525.000. Ketiga, tanggal 21 Agustus 2007 di Mekar Raya senilai Rp 1.575.000.
Kemudian saya mengajukan sanggahan pada tanggal 30 Agus­tus 2007 dengan alasan kartu kredit tambahan saya sudah saya batalkan dan transaksi tersebut bukan transaksi saya ataupun suami saya. Saya mendapat kabar lagi bahwa transaksi tersebut berasal dari kartu tambahan saya yang lama (kartu tambahan saya yang dikembalikan ke pihak Citibank adalah kartu tambahan saya yang baru).
Jadi, kartu tambahan saya yang lama hilang tanpa kami sadari. Yang saya sesalkan, mengapa transaksi tersebut bisa terjadi, padahal kartu yang baru sudah saya batalkan. Dengan demikian, kartu yang lama seharusnya otomatis juga ikut dibatalkan. Namun, sampai hari ini saya masih belum mendapatkan penyelesaian dari pihak Citibank. Terakhir, saya kembali dikecewakan oleh pihak Citibank, yaitu tagihan bulan November beserta bunga dan denda kembali dibebankan kepada saya. Saya kemudian menghubungi kembali pihak Citibank.

R. L
Cimahi Selatan

116. Penawaran Citibank Hanya Janji
Saya pemegang kartu Citibank (nomor: 4541 7800 1446 5xxx). Pada 27 Juli 2007 saya mendapatkan tawaran melalui telepon dari marketing Citibank (Saudari Daniela) yang menawarkan kartu tambahan dengan janji bebas iuran tahunan sampai jatuh tempo kar­tu utama. la juga menjanjikan Saya akan mendapatkan suvenir yang akan dikirim dalam vaktu sepuluh hari kerja. Pada hari itu juga saya menyetujui dan mengirimkan persyaratan melalui faksimile.
Faktanya pada lembar tagihan bulan Agustus 2007 terdapat tagihan iuran tahunan sebesar Rp 70.000. Suvenir yang dijanjikan pun tidak di­kirim. Pada 10 Agustus 2007 saya menghubungi Saudari Daniela menanyakan perihal tersebut. Yang bersangkutan berjanji akan memproses kembali dan memastikan pada lembar tagihan berikutnya sudah. dikoreksi. Lagilagi janji itu ti­dak pernah terealisasi. Karena, pada lembar tagihan bulan September 2007 tidak dilakukan koreksi. Bahkan, suvenir pun belum dikirim.
Pada 11 September 2007 sa­ya berusaha mengonfirmasi lagi Saudari Daniela. Namun, tampaknya yang bersangkutan berusaha menghindar dengan alasan sedang online, sedang keluar, dan begitu seterusnya.
Setelah kesekian kalinya sa­ya menelepon layanan pelanggan ataupun pemasaran, akhirnya saya mendapatkan jawaban ternyata belum ada konfirmasi dari pemasaran ke manajemen soal janji-janji yang ditawarkan tersebut.
Saya hanya heran, mengapa bank sebesar Citibank memiliki manajemen seperti itu? Sa­ya menduga janji-janji tersebut diberikan oleh petugas pema­saran untuk memikat nasabah, padahal program itu tidak ada? Bukan persoalan iuran tahun­an ataupun suvenir yang saya tekankan, melainkan mengapa bank sekelas Citibank mengeruk keuntungan dengan cara seperti itu? Atau itu hanya ulah oknum karyawan yang tidak memiliki kapasitas yang baik? Berhati-hatilah jika mendapat­kan tawaran dengan berbagai iming-iming.

R. P
Persada Banten

117. Perpanjangan Kartu Kredit HSBC
Saya pemegang kartu kredit HSBC Visa (Nomor 4472 1111 0228 26xx) yang telah habis masa berlakunya sejak Agustus 2007, tetapi kartu perpanjangan baru diterima 30 Oktober 2007, yang berarti sudah hampir tiga bulan sejak masa berlaku kartu berakhir.
Saya dirugikan bukan saja dari kartu baru yang belum bisa dipakai, tetapi juga karena masih mempunyai uang kelebihan pembayaran sekitar Rp 2 juta yang praktis tidak bisa digunakan.
Apalagi beberapa minggu terakhir dalam dua bulan akhir itu saya sering bepergian baik di dalam dan luar negeri. Kebetulan kartu saya mempunyai limit lebih dari Rp 40 juta.
Rencana sebelumnya saya akan gunakan untuk uang muka pembelian barang di luar negeri guna memperlancar usaha.
Namun, semuanya menjadi berantakan.
Telah berulang kali saya mengeluhkan masalah ini ke pusat pemanggilan HSBC, tetapi janjinya tidak pernah ditepati.
Menurut info per 21 September 2007, kartu saya telah diterima oleh seseorang bernama Vera, yang tidak saya kenal. Saya sangat menyesalkan cara HSBC yang dengan mudahnya memberikan kartu tersebut kepada orang yang tidak berhak, baru kemudian mereka berjanji akan segera mengirimkan kembali kartu baru secepatnya tidak lebih dari 10 hari.
Ini jelas kelalaian ada pada HSBC dan terbukti bahwa berulang kali telah dibohongi.

J. T
Duren Sawit, Jakarta

118. Korban Teror dari HSBC
Pada 5 November 2007 saya menerima telepon dari HSBC yang mencari seseorang bernama Surianto Sutedjo. Penelepon tidak menyebutkan nama tetapi ditujukan ke nomor ponsel saya (081619xxxxx). Sudah saya katakan bahwa saya tidak mengenal atau memiliki hubungan apa pun dengan Surianto Sutedjo. Bahkan sudah saya sampaikan agar pihak HSBC mengecek langsung ke Indosat nomor ponsel saya jika tidak percaya dengan jawaban.
Akan tetapi, pihak HSBC tidak menerima jawaban ini dan terus meneror saya dengan nomor te­lepon yang berbeda-beda, (25526504, 25526502, 25526500, dan 25526600). Telepon dilakukan pada hari dan jam yang berbeda, yaitu 5 November 2007 pukul 13.25 WIB, 8 November 2007, yaitu pukul 08.53 WIB, 08.59 WIB, 10.47 WIB, dan 16.40 WIB. Pada 9 November 2007, pukul 10,57 WIB. Tanggal 10 No­vember 2007 pukul 09.40 WIB dan tanggal 12 November 2007 pukul 10.59 WIB. Padahal nomor ponsel dimaksud sudah saya miliki sejak tahun 1998 dan tidak pernah dipinjamkan atau saya jual nomornya. Nomor tersebut saya beli dari outlet resmi Indosat dan bukan nomor bekas. Apakah pihak HSBC tidak bisa mengecek kebenaran bahwa nomor ponsel yang dihubungi bukan atas nama Surianto Sutedjo? Bukankah seharusnya dengan setiap verifikasi nasabah dapat diketahui apakah data nasabah tersebut sudah valid atau tidak?
Apabila yang melakukan transaksi yang merugikan HSBC adalah Surianto Sutedjo, tolong jangan merugikan dan meneror sa­ya, karena saya adalah pihak yang tidak tahu menahu. Tindakan yang dilakukan oleh pihak HSBC telah merugikan waktu, ketenangan, dan keamanan saya. HSBC sebagai bank internasional ternyata tidak profesional dan seharusnya dapat memperbaiki pelayanan agar kejadian serupa ti­dak terulang kembali.

LB.
Tambora, Jakarta

119. Pelayanan Citibank
Saya pengguna kartu kredit Citibank dan salah satu nasabah personal loan yang mereka tawarkan. Sampai bulan ini, cicilan personal loan saya masih 11 kali lagi (11 bulan ke depan). Beberapa minggu lalu, saya setorkan uang sejumlah Rp 2 juta guna membayar ci­cilan personal loan saya untuk beberapa bulan ke depan. Saat dihubungi petugas dari Personal Loan Citibank, saya menginformasikan bahwa telah membayar sejumlah seperti tersebut di atas. Namun, bukan ucapan terima kasih yang saya terima Saya malah diminta melunasi sisa cicil­an sekitar Rp 200.000, yang seharusnya dapat saya bayar 11 bulan ke depan, dengan ancaman dari si penelepon, bahwa saya akan dikenai bunga yang lebih tinggi dari yang sekarang apabila tidak segera melunasinya
Bukankah cicilan personal loan itu sudah ditetapkan dan flat? Yang membuat saya makin kesal dengan pelayanan Citibank adalah saat saya meminta penutupan kartu kredit pada tanggal 15 Oktober 2007. Kewajiban sudah saya lunasi, tetapi ketika menghubungi Citibank Call Center di nomor 69999, petugas pelayanan pelanggan yang bernama Berlina bukannya memberikan saran agar saya tetap memakai kartu ataupun memberikan penawaran bebas iuran tahunan, melainkan malah menyuruh saya menghubungi dan menutup asuransi Astra CMC yang setiap bulannya saya bayar melalui pendebitan otomatis dari kartu kredit Citi­bank
Setahu saya, saat membeli produk asuransi Astra CMG yang juga kebetulan merupakan penawaran dari perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya, di dalam polis dan apa yang ditawarkan oleh agen asuransi tersebut disebutkan bahwa perlindungan atau polis akan berhenti secara otomatis jika pemegang polis menutup kartu kredit Citibanknya. Yang membuat saya heran adalah sistem yang dimiliki Citibank, seperti yang disampaikan Saudari Berlina, bahwa walaupun saya sudah meminta penutupan kartu ke Citi­bank, jika saya tidak melakukan konfirmasi ke Astra CMG, pihak Astra CMG tetap dapat mendebit kartu kredit Citibank yang su­dah saya tutup.
Sangat disayangkan perusahaan besar sekelas Citibank mempunyai sistem yang begitu gampangan. Bukankah seharusnya pi­hak bank mempunyai otoritas untuk menolak pendebitan dari pi­hak mana pun sesuai dengan permintaan nasabahnya? Saya berharap pengalaman buruk saya bersama Citibank menjadi pelajaran bagi siapapun.

R. I
Kabupaten Bandung


120. Tagihan Kartu Amex Bermasalah
Sebagai pemegang kartu Amex Gold charge card (nomor kartu 3769 630265 310xx) saya kecewa dengan pelayanan Amex Card yang bertele-tele.
Sudah lebih dari sebulan terjadi kesalahan, tetapi belum ada tanggapan dan tidak ada tindak lanjut dari Amex. Kesalahan dilakukan pihak Amex, tetapi saya sebagai pemegang kartu tetap terbebani.
Kejadiannya pada penagihan Oktober 2007. Saya sudah sampaikan komplain lewat Ibu Sinta 22 Oktober pukul 12.05 WIB, kemudian dengan Bapak Hikmah 2 November pkl 16.40, lewat Ibu Evi, 8 November pukul 21.30. Dari komplain itu saya memperoleh penjelasan bahwa selama ada kesalahan jangan dibayarkan. Namun, pada penagihan bulan berikutnya, 18 November, tetap tidak ada perubahan, yaitu ta­gihan yang bermasalah tetap dibebankan.
Pada 24 November 2007, saya kembali menelepon layanan pe­langgan Amex untuk menanyakan masalah ini. Ibu Indah dari layanan pelanggan memberi tahu bahwa saya akan ditelepon Ibu Wiwi, supervisor yang akan membantu menyelesaikan. Na­mun, sampai 26 November 2007 masih tidak ada tanggapan. Kemudian saya menghubungi Amex kembali (Ibu Santi, Ibu Gita, dan Bapak Eko), dan mendapat ja­waban yang sama bahwa saya akan dihubungi kembali.
Sebagai pemegang kartu Amex saya merasa dirugikan dengan dibebani late charges yang sangat jelas bukan kesalahan saya. Ternyata kinerja Amex Card tidak profesional. Mengingat banyak pihak yang memegang kartu Amex Gold charge card agar hatihati dengan jumlah tagihan. Mohon tanggapan Amex Card.

I. B
Mitra Gading Villa, Jakarta